fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Pro Kontra Pembangunan Patung Tobong, Dari Rencana Pemanggilan Hingga Tekad Bupati Lanjutkan Proyek

Diterbitkan

pada

Playen,(pidjar.com)–Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berencana melakukan pembangunan atau penataan wajah kota di sepanjang jalur Playen hingga Wonosari. Untuk tahap pertama ini, kawasan Bundaran Siyono ke timur sampai dengan Simpang Empat Kranon menjadi target penataan dengan anggaran 9 miliar lebih. Saat ini, rencana perombakan patung pengendang yang akan diganti dengan menara Tobong Gamping menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sejumlah tokoh menyatakan penolakannya atas rencana perombakan ini.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Gunungkidul, Dhemas Kursiswanto menyatakan, rencana pembangunan patung Tobong Gamping di Bundaran Siyono yang diwacanakan sebagai icon Gunungkidul ini telah menjadi sorotan berbagai pihak. Dari elit politik hingga masyarakat umum sejak rencana pembangunan ini mencuat membicarakan rencana bupati tersebut.

Dalam waktu dekat ini, Komisi C akan memanggil Bappeda dan DPUPRKP untuk memaparkan rencana penataan wajah kota beserta pembangunan tobong gamping tersebut. Pengecekan masterplan dan keterkaitan dengan visi misi bupati Sunaryanta akan dicek kembali kemudian menjadi bahan pertimbangan bersama.

“Pembangunan Tobong Gamping ini dari segi nilai filosofi dan sosiologinya apa? Apakah ada kaitanya dengan pembangunan di Gunungkidul ke depan atau berhubungan dengan progran investasi yang masuk dalam visi dan misi Bupati,” ucap Demas Kursiswanto yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Gunungkidul tersebut.

Di sisi lain, perlu adanya kajian yang matang untuk mengganti pantung pengendang menjadi menara tobong gamping yang direncanakan setinggi 9 meter itu. Lalu lintas di jalur tersebut cukup padat keamanan dan kenyamanan pengguna jalan juga harus diperhatikan. Jangan sampai adanya menara setinggi itu justru mengganggu pemandangan dan berdampak fatal bagi mereka yang melintas di jalur tersebut.

Berita Lainnya  Sempat Terancam Berhenti, Pembangunan Gedung Anyar Disdikpora Bisa Dilanjut Setelah Digelontor 8 Miliar

“Dulu pas mau membangun patung pengendang itu saja diingatkan oleh Kapolres agar supaya tidak mengganggu pemandangan arus lalu lintas. Perlu ada AMDAL Lalu Lintas, nah itu yang harus dipikirkan apakah diizinkan atau tidak,” jelas dia.

Pantung pengendang saat ini sudah dirasa sangat pas, sebab ada nilai budaya seperti yang dimiliki Gunungkidul. Seniman-seniman dan budayawan juga banyak yang berasal dari Gunungkidul.

Sementara itu, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul, Budi Martono juga mengungkapkan hal yang sama. Icon Tobong Gamping setinggi 9 meter dan lebar 4 meter tidak tepat jika dibangun di Bundaran Siyono. Hal ini karena simpang empat Siyono merupakan jalur ramai dari Timur (Wonosari) dan Barat (Yogyakarta). Keselamatan pengguna jalan juga harus diperhatikan terkait dengan perubahan wajah kota serta pembangunan patung tersebut.

Berita Lainnya  Cerita Tragis Tragedi Kandang Ayam Maut, Aksi Heroik Sugiran Yang Korbankan Nyawa Untuk Selamatkan Istri

“Sebelum ada patung pengendang, di Bundaran Siyono itu sudah ada patung Karst. Saat itu saya sempat diingatkan Polres Gunungkidul karena posisinya sangat mengganggu pandangan lalu lintas dari arah timur dan barat. Ini menjadi hal yang utama harus dipikirkan kembali,” tutur Budi Martono.

“Saya secara pribadi bukan mempermasalahkan icon tobongnya, karena tobong memiliki hubungan terkait dengan sejarah perekonomian warga Gunubgkidul. Yang menjadi masalah adalah rencana penempatannya dan ukurannya,” jelas pria yang saat ini menjabat sebagai General Manager Geopark Gunungsewu ini.

Menurut Budi, digantinya patung pengendang dengan menara tobong gamping dirasa kurang etis dan kurang menghargai Bupati periode sebelumnya serta Bank BPD DIY cabang Gunungkidul yang memberikan CSR. Patung pengendang yang.sekarang berdiri di Bundaran Siyono dianggapnya pantung terbaik dan full filosofi.

Jikapun patung tobong gamping tetap akan dibangun, pemerintah seharusnya memiliki lokasi alternatif lainnya. Budi mencontohkan beberapa kawasan yang cocok untuk dibangun tobong diantaranya di JJLS yang saat ini belum tersentuh pemerintah kabupaten. JJLS sendiri nantinya akan menjadi jalur yang cukup ramai dilalui oleh wisatawan serta pelaku perjalanan antar kota atau antar provinsi.

Berita Lainnya  SK Tak Kunjung Turun, GTT Ancam Kembali Lakukan Demo dan Aksi Mogok Kerja

“Rasanya eman-eman kalau patung dengan banyak filosofi akan diganti. Ya kalau mau mematungkan tobong gamping karena memiliki nilai sejarah perekonomian Gunungkidul juga bisa, mending dibangun di JJLS atau di Taman Batu Ngingrong yang lebih luas dan bisa untuk menambah edukasi tentang mata pencaharian penduduk kawasan karst tempo dulu,” tutup Budi Martono.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengungkapkan pro dan kontra atas rencana program pembangunan pemerintah merupakan hal yang biasa. Ia merasa senang dengan banyaknya masyarakat yang memberikan masukan terkait dengan pergantian pantung pengendang dengan tobong gamping tersebut.

Kendati demikian, ia menegaskan patung tobong akan tetap dibangun oleh pemerintah dengan pertimbangan beberapa hal.

“Tetap dibangun. Gunungkidul itukan awal-awal dulu masyarakatnya bekerja sebagai penobong dan bahan-bahannya luarbiasa. Saya pengen mengabadikan itu. Kalau bentuk lain seperti orang atau hewan kan sudah banyak,” Sunaryanta.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler