Pemerintahan
Program Kampung Iklim, Syarat Bisa Akses Anggaran Kegiatan Penanggulangan Bencana
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Dalam menyikapi dampak yang ditimbulkan akibat perubahan iklim, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul menjalankan program kampung iklim (proklim) di 25 kampung di Gunungkidul. Adanya proklim tersebut diharapkan dapat mengurangi dan mencegah dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Penelaah Data Sumber Daya Alam, DLH Gunungkidul, Septian, menyampaikan, proklim merupakan program dari pemerintah pusat untuk menyikapi fenomena perubahan iklim di Indonesia. Di Gunungkidul sendiri, hingga saat ini tercatat sebanyak 25 kampung yang melaksanakan kegiatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
“Kalau programnya itu dari tahun 2017, tapi dulu namanya kampung hijau. Setiap tahunnya ada indikator yang ditambah dalam program ini,” ungkap Septian, Senin (04/04/2022).
Secara garis besar, proklim memuat dua kegiatan besar yang bertujuan untuk menyikapi fenomena perubahan iklim di Gunungkidul. Kegiatan tersebut ialah adaptasi dan mitigasi yang kemudian sebagai acuan menentukan program-program di lapangan. Menurutnya, kesadaran akan perubahan iklim mulai harus dilihat oleh masyarakat mengingat dampaknya yang cenderung merusak dan dapat merugikan. Dengan mengetahui hal tersebut, maka nantinya masyarakat bisa mempersiapkan langkah-langkah antisipasi.
“Beberapa program yang sudah dijalankan itu seperti penangkapan air hujan, penanaman pohon, dan lainnya,” sambungnya.
Ia menambahkan, sebelum ditetapkan sebagai kampung iklim, di masing-masing kampung terlebih dahulu harus ada kelompok dan kegiatan yang mengarah ke perubahan iklim minimal selama dua tahun. Setelah itu dapat mengusulkan ke dinas dan dilakukan verifikasi lapangan. Menurutnya, secara keseluruhan masyarakat sudah banyak melakukan kegiatan yang bersifat adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim.
“Kemungkinan karena belum tahu ada proklim dan untuk apa itu jadi belum tersasar proklim, kami juga tidak bisa memaksa harus ikut proklim begitu,” terangnya.
Diterangkannya, salah satu kelebihan adanya proklim selain membantu mengurangi dampak perubahan iklim juga berpeluang mendapatkan uang pembinaan yang dipergunakan untuk melanjutkan kegiatan proklim di masyarakat. Ia berharap agar semakin banyak masyarakat yang bergerak untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini mulai dirasakan.
“Grade di Gunungkidul paling tinggi masih madya, kalau yang paling tinggi nasional itu grade lestari, tapi memang belum ada di sini,” tutup Septian.
-
Uncategorized6 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized1 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya6 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized5 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized6 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized6 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
