fbpx
Connect with us

Sosial

Ribuan Anak Terlantar Jadi Catatan Dalam Perayaan Hari Anak Nasional di Gunungkidul

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Tahun 2019 ini, Hari Anak Nasional (HAN) mengambil tema Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak. Tema tersebut menekankan bahwa keluarga merupakan garda terdepan dalam perlindungan anak. Dengan segala keterbatasannya, anak tentunya memerlukan perlindungan dan bimbingan dengan pendekatan yang berbeda. Dengan adanya tema ini, diharapkan nantinya seluruh anak bisa mendapatkan seluruh hak dan berkembang sebagaimana mestinya.

Data dari Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, penyandang masalah kesejahteraan sosial khususnya untuk anak masih tergolong fluktuatif. Dari tahun 2015 ada 47 orang, pada tahun 2016 ada 50 orang, 2017 meningkat menjadi 198 orang dan 2018 menurun drastis hingga ganya ada 18 orang. Sementara untuk anak terlantar, pada tahun 2015 di Gunungkidul terdapat 6.777 orang, jumlah ini menurun pada tahun 2016 di mana terdapat 4.211 orang, tahun 2017 terdapat 4.364 dan penurunan cukup tajam terjadi pada tahun 2018 di mana hanya tinggal 1.409 anak. Untuk anak yang berhadapan dengan hukum di tahun 2015 terdapat 14 orang, di tahun 2016 terdapat 21 orang, di tahun 2017 ada 65 orang dan di tahun 2018 ada 4 orang anak.

Berita Lainnya  Bangunan RSUD Saptosari Senilai 40 Miliar Selesai Dibangun, Baru Bisa Dioperasikan Pada 2020 Mendatang

Sekretaris Dinas Sosial, Wijang Eka Aswarna mengatakan, permasalahan sosial yang menimpa anak membutuhkan peran dari banyak pihak. Diperlukan penanganan khusus agar nantinya hasil dari assesement yang dilakukan bisa berdampak maksimal. Dari banyak pihak tersebut, menurutnya keluarga memegang kunci utama dalam peretasan permasalahan sosial anak tersebut.

“Karena keluarga yang paling banyak berinteraksi, perhatian keluarga yang intens akan menjauhkan permasalahan sosial anak,” tutur Wijang kepada pidjar.com, Selasa (23/07/2019).

Lebih lanjut Wijang mengatakan, anak di usia kisaran 12 hingga 14 tahun lebih rentan terkena masalah sosial jika tidak mendapatkan perhatian dari orang tua. Untuk itu pihaknya meminta semua orang tua untuk berperan aktif dalam melindungi anak-anaknya dari pengaruh sosial yang buruk.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Kabupaten Gunungkidul, Sudjoko menambahkan, pihaknya terus berkonsentrasi dalam menekan angka permasalahan sosial yang menimpa anak. Hal ini kemudian sangat penting dalam hal pembentukan kualitas sumber daya manusia. Untuk mengentaskan permasalahan-permasalahan tersebut pihaknya telah menggandeng sejumlah pihak.

Berita Lainnya  Data Dianggap Janggal, BPBD Minta Pendataan Ulang Dampak Kekeringan di Kecamatan Tanjungsari

“Seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja, tokoh agama dari Dinas Sosial dan Kantor Kemenag kami ajak kerjasama, agar permasalahan yang menimpa anak kita semua ini segera bisa dientaskan dan sama sekali tidak ada,” kata Sujoko beberapa waktu yang lalu.

Ia menyinggung permasalahan dari anak sendiri bermuara pada adanya pernikahan dini. Untuk itu berbagai program ia lakukan untuk mengatasi pernikahan dini.

“Tentu saja orang tua yang belum matang secara psikis akan memberikan dampak bagi perkembangan anaknya, orang tua belum stabil untuk mendidik anak,” tutur dia.

Dicontohkannya, seperti di Puskesmas Gedangsari II yang baru saja mendapatkan penghargaan dari Kementerian Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Program dari Puskesmas Gedangsari II yakni untuk penundaan usia pernikahan serta mencegah kasus stunting. Program Ayo Tunda Usia Menikah Mengawali Gerakan Semangat Gotong Royong Cegah Stunting atau biasa disingkat Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting yang merupakan inovasi dari Puskesmas Gedangsari II.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler