Pemerintahan
Satu Bulan Pasca Longsor, Jalan di Tegalrejo Belum Diperbaiki
Gedangsari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Hampir sebulan longsor di Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari belum ada penanganan dari pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Hal ini lantaran masih adanya sejumlah skema dan anggaran yang dibahas untuk penanganan material yang menutup akses jalan masyarakat tersebut.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Putro Sapto Wahono mengatakan belum lama ini DPUPRKP bersama dengan sejumlah OPD lainnya melakukan survei di lapangan untuk memastikan skema penanganan longsor yang sangat tinggi dan lebar tersebut.
Hasil dari survei ini digunakan untuk memastikan secara teknis bagaimana penanganan yang dilakukan, termasuk menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk recovery dan lain sebagainya.
“Anggaran yang dibutuhkan sangat besar yakni Rp 8,1 miliar untuk penanganan longsor Tegalrejo, Gedangsari ini,” papar Putro Sapto, Kamis (08/03/2023).
Dijelaskan rekayasa atau teknis nantinya akan dilakukan pembersihan longsoran yang cukup panjang dan tinggi tersebut. Setelah semua material diangkat baru dilakukan pembuatan talud dengan ketinggian 7 meter.
“Terkait dengan skema ini sudah kami sampaikan ke Sekda,” papar dia.
Kendati demikian, dirinya belum bisa memastikan kapan penanganan bencana hidrometeorologi ini kapan akan dilakukan pasalnya dinas masih menunggu instruksi dari pimpinan termasuk dengan skema penganggaran penanganannya.
“Kami menunggu anggaran untuk itu (penanganan) karena nilainya sangat besar,” jelasnya.
Untuk saat ini, akibat longsor beberapa waktu lalu akses jalan masyarakat terputus sehingga warga yang hendak berpergian harus mencari jalur alternatif dan jaraknya lumayan jauh.
Belum lama ini, Dukuh Tegalrejo, Fajar Dwi Prasetyo, mengatakan akibat terputusnya jalan akibat material longsoran menyebabkan warga harus menggunakan jalan alternatif yang jaraknya lebih jauh. Dijelaskannya, arus kendaraan dialihkan menuju Dusun Hargasari menuju Trembono yang tembus di Wilayah Bayat. Hal itu menurutnya cukup menyulitkan warga yang akan beraktifitas, pasalnya jalan yang tertutup material merupakan jalan utama masyarakat.
“Ya harus menambah waktu sekitar 30 menit di jalan alternatif, tertutupnya jalan menghambat warga menuju ke sekolah, ke pasar, dan pergi bekerja,” ungkapnya.
Masyarakat berharap agar pemerintah dapat bergerak cepat guna mengatasi hal tersebut. Menurutnya, setidaknya instansi terkait dapat membuka akses jalan bagi kendaraan roda dua sehingga mempermudah warga setempat.
“Kalau bisa dibantu supaya roda dua bisa lewat, disini mayoritas kerja di Bayat dan jalan utamanya cuma itu. Harus muter lebih jauh dan lebih lama kalau warga mau ke tempat kerja,” tutup dia.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
