fbpx
Connect with us

Sosial

Satu Orang Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis di Gunungkidul

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Penyakit Leptospirosis masih terus ditemukan di Kabupaten Gunungkidul. Meski dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan, warga dihimbau untuk tetap waspada terlebih saat ini tengah memasuki musim penghujan. Di mana bakteri yang biasanya ditularkan melalui tikus dapat mudah berkembang dan menular ke manusia. Selain itu, dinas juga terus memantau perkembangan adanya temuan bakteri tersebut di kawasan wisata.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, jumlah kasus Leptospirosis pada tahun ini sebanyak 9 kasus dengan satu orang korban diantaranya sampai meninggal dunia. Jumlah tersebut menurut Dewi menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kasus lepto (leptospirosis) pada tahun 2017 ada 64 kasus, kemudian tahun 2018 ada 17 kasus dan di tahun ini hanya ada 9 kasus,” terang Dewi kepada pidjar.com, Selasa (10/12/2019) pagi.

Ia mengatakan, leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang wajib diwaspadai saat musim penghujan tiba. Yang patut mejadi perhatian, persebaran virus Leptospirosis sendiri tidak hanya terjadi di daerah persawahan yang selama ini diketahui masyarakat. Bahkan kawasan wisata pantai pun virus tersebut telah terdeteksi keberadaannya.

Berita Lainnya  Dievakuasi Dari Pemasungan, Dua Pengidap Gangguan Jiwa Dibawa ke Rumah Sakit

“Penelitian beberapa tahun yang lalu oleh Balibangkes Banjarnegara membenarkan bahwa tikus di Pantai Timang ada yang mengandung leptospira. Tetapi tidak perlu khawatir menularnya kan lewat luka. Jadi bisa kita hindari kontak dan selalu perilaku hidup bersih dan sehat,” beber Dewi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka memaparkan, Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang dibawa oleh hewan-hewan tertentu. Leptospira adalah organisme yang hidup di perairan air tawar, tanah basah, lumpur, dan tumbuh-tumbuhan.

Bakteri ini dapat dapat menyebar melalui banjir. Hewan pembawa bakteri leptospira umumnya tidak memiliki tanda-tanda sedang mengidap leptospirosis karena bakteri ini dapat keluar melalui urine mereka.

“Kasus kemarin dimungkinkan ditularkan melalui kencing tikus yang kemudian menyebar melalui air yang tergenang di sawah kemudian berinteraksi dengan korban,” imbuh dia.

Virus tersebut, dijelaskan Priyanta, mudah menyerang manusia lantaran perilaku dalam bertani saat ini sangat dianggap masih terlalu sembarangan. Perilaku masyarakat yang berangkat ke sawah terlalu dini dianggap sangat berbahaya. Pasalnya virus itu sangat aktif di kala matahari belum terlalu terik.

Berita Lainnya  Amankan Obyek Wisata, Polisi Antisipasi Masuknya Gerombolan Cah Klithih ke Gunungkidul

“Virus itu sebenarnya tidak tahan pada kondisi panas matahari menyengat. Namun saat ini banyak masyarakat yang berangkat justru masih pagi hari. Itu sangat berbahaya,” bebernya.

Menurut Dinas Kesehatan, dari berbagai kasus yang ada, penularan virus tersebut lantaran perilaku manusia yang kurang menjaga kebersihan. Selain itu, banyak dari mereka (korban) yang acuh terhadap kesehatannya.

“Sebagai contoh, petani punya luka kecil di kaki atau tangan, kemudian dia masuk ke sawah berair itu sudah berisiko. Terlebih mereka juga sering membasuh diri dengan air di sawah yang tentu saja jauh dari kata bersih,” terang Priyanto.

Adapun tips menurut Priyanta untuk menghindari penularan virus tersebut kepada manusia diantaranya, mengunakanan pakaian melindungi tubuh serta membersihkan dan menutup luka dengan sebaik mungkin agar tidak terkena kontak langsung dengan hewan pembawa bakteri leptospira. Disarankan juga agar tidak menyentuh bangkai hewan secara langsung.

“Secara garis besar mungkin menjauhi aktifitas yang dapat berisiko seperti diatas. Dan kemudian juga selalu menjaga kebersihan tubuh,” imbuh dia.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler