fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Sekolah Lapang Iklim Jadi Bekal Petani untuk Antisipasi Puso

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Sebagai langkah antisipasi gagal panen di musim kemarau, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Iklim Sleman bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul untuk melakukan Sekolah Lapang Iklim (SLI). Hal tersebut dilakukan untuk membekali petani agar lebih dapat membaca fenomena perubahan iklim.

Kepala Stasiun Klimatologi, Reni Kraningtyas mengatakan SLI ini mengunakan metode belajar interaktif dan praktek yang menjadi pokik bahasan yakni bagaimana para petani pemahami informasi iklim dan perubahan cuaca untuk kegiatan pertanian. Sehingga dengan begitu, usaha tani penduduk daerah tidak terganggu. Angka kegagalan panen saat musim kemarau maupun musim penghujan pun juga bisa ditekan.

“Kapanewon Rongkop sudah diselenggarakan SLI yakni di Padukuhan Tirisan, Kalurahan Karangwuni,”kata Reni Kraningtyas, Rabu (12/08/2020).

Selama ini, para petani mengunakan hitungan tradisional untuk melakukan aktifitas pertanian. Namun hitungan tradisional itu terkadang meleset karena adanya perubahan fenomena sehingga petani sering gagal panen.

“Contohnya pranata mangsa hitungan yang sering digunakan oleh petani. Sebenarnya itu bisa digunakan sebagai pendamping saja, karena terkaang anomali iklim pranoti mongso kurang sesuai,” jelasnya.

Dengan adanya sekolah lapang iklim, diharapkan mampu mendorong masyarakat (petani) untuk lebih modern dalam bidang petanian dan antisipasi gagal panen tentunya.

Selain di Tirisan, Kalurahan Karangwuni, rencananya BMKG dan Dinas Pertanian akan melakukan SLI di Kapanewon Ponjong dan Gedangsari. Beberapa hal menjadi pertimbangan, mulai dari wilayah yang setiap tahunnya produktif dan maupun daerah rawan kekeringan ataupun bencana lain yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan pihaknya sangat mendukung SLI ini. Mayoritas penduduk di Gunungkidul merupakan petani. Metodenya sebagian masih tradisional baik teknik maupun hitungan mulai masa pertanian, untuk itu perlu adanya hal baru yang dikembangkan.

“Tahun lalu kita juga ikutkan petugas dalam sekolah lingkungan iklim sebagai antisipasi gagal panen atau puso,” paparnya.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, tahun 2017 ada puso padi 5 hektar, 2018 ada puso padi 32 hektar dan 2019 ada puso padi 2700 ha. Gagal panen ini disebabkan karena adanya perubahan iklim ekstrim.

“Harapannya 5 tahun kedepan semua kapanewon sudah tersasar SLI dan bisa menerapkan pengetahuan yang didapatkan. Prediksi jumlah curah hujan untuk menentukan kokoditas dan waktu tanam ini yang harus diketahui para petani yang telah mendapatkan pelatihan dan sekolah,” kata Bambang wisnu Broto.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler