fbpx
Connect with us

Peristiwa

Selangkah IKG Emas dan Himbauan Kepada Warga Gunungkidul Untuk Tak Lagi Merantau

Diterbitkan

pada tanggal

Jakarta,(pidjar.com)–Orang Gunungkidul tak akan pernah bisa melupakan kampung halaman. Sejauh apapun berada hingga sesukses apapun, bayangan kampung halaman selalu ada di benak para warga Gunungkidul di perantauan.

Jumlah warga Gunungkidul yang berada di perantauan sendiri sangatlah banyak. Ratusan ribu diantaranya tergabung dalam paguyuban terbesar yaitu Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG). Semenjak berdiri pada tahun 1970, IKG memang langsung berkembang dengan cukup pesat. Sejumlah kegiatan di perantauan hingga di Gunungkidul tak lepas dari aktifitas IKG hingga kini telah menginjak usia 49 tahun.

Setiap kegiatan pertemuan hingga sosial yang dilakukan IKG sendiri selalu disambut antuasias oleh warga Gunungkidul di perantauan, khususnya Jakarta dan sekitarnya. Ajang-ajang baik dalam skala kecil maupun besar ini seakan menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi serta menyurutkan dahaga mereka akan kampung halaman.

Seperti dalam puncak peringatan perayaan HUT IKG yang ke-49 di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur pada Sabtu (25/01/2020). Sejak pagi, ribuan warga Gunungkidul silih berganti berdatangan ke lokasi acara. Memang, di tengah penatnya suasana kota besar seperti Jakarta, datang ke acara ini sangat kental dengan suasana Gunungkidul. Panitia mempersiapkan tempat maupun hiburan yang sangat sesuai dengan budaya Gunungkidul. Begitupun para penjual makanan maupun pernak-pernik yang menyuguhkan makanan tradisional Gunungkidul. Ada pula dari para penjual makanan yang langsung didatangkan dari Gunungkidul.

Sejenak anjungan DIY TMII memang layaknya di Gunungkidul. Hampir seluruh hadirin yang datang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi maupun bercengkrama. Obrolan ringan masalah sepele hingga pembahasan karir maupun usaha saling terlontar dari mereka.

Ketua Panitia HUT 49 IKG, Aris Suprobo menuturkan HUT IKG sendiri diperingati setiap tanggal 12 Desember. Pada peringatan ke 49 ini, panitia telah menggelar sejumlah rangkaian acara. Dimulai tepat pada 12 Desember 2019, para warga IKG melakukan pemotongan tumpeng secara sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan rapat koordinasi seluruh pengurus IKG.

Dilanjutkan pria yang berprofesi sebagai pengusaha ini, sebenarnya panitia berencana untuk menghelat acara puncak pada 19 Januari 2020 silam. Namun kemudian, pihaknya mendengar bahwa ada kurang lebih 1000 KK warga Gunungkidul di Jabodetabek yang menjadi korban banjir besar beberapa waktu lalu.

“Atas pertimbangan empati dari kami, maka diputuskan untuk mengundur puncak peringatan acara,” kata Aris, Sabtu siang.

Panitia sendiri juga memutuskan untuk menggelar kegiatan sosial membantu para anggota yang menjadi korban banjir. Meski bisa dibilang tanpa persiapan, para anggota IKG kemudian bahu membahu menyalurkan bantuan untuk meringankan beban warga Gunungkidul di Jabodetabek yang menjadi korban banjir.

Berita Lainnya  Hindari Pemotor Yang Jatuh di Tengah Jalan Jogja-Wonosari, Avanza Terperosok Hantam Pepohonan

Aris menuturkan, untuk puncak peringatan acara pada Sabtu ini, setelah sejumlah kegiatan seremonial dan pertunjukan Campur Sari, pada malam harinya kemudian digelar wayangan semalam suntuk dengan dalang Ki Surono Purbocarito dari Kecamatan Gedangsari.

“Kita masih sangat setia dengan pakem kebudayaan tradisional dari Gunungkidul,” imbuhnya.

Meski berlangsung cukup megah, perayaan HUT IKG ke-49 disebut Aris hanyalah sederhana. Pihaknya memang merencanakan acara ini hanya sebagai kegiatan awal menyongsong era IKG emas pada perayaan HUT IKG ke-50 mendatang. Ia memastikan bahwa untuk perayaan bersejarah HUT ke-50 tersebut, petinggi IKG telah merencanakan acara yang spektakuler. Namun demikian, Aris masih enggan menjelaskan lebih lanjut agar peringatan tersebut bisa menjadi kejutan untuk seluruh anggota IKG.

“Masih rahasia, dari sekarang sudah kami persiapkan. Seperti peringatan kali ini, kita mengusung selangkah menuju IKG emas, sebagai kegiatan antara saja untuk perayaan tahun ini,” urai Aris.

 

Sejarah Berdirinya IKG

Besarnya IKG sendiri tentunya tidak lepas dari tokoh-tokoh besar bumi handayani yang pada 1970an telah berkiprah di Ibu Kota Jakarta. Saat itu, para tokoh berinisiatif untuk memberikan wadah bagi para perantau Gunungkidul yang bertebaran di ibukota. Kebersamaan warga Gunungkidul sejak dulu memang cukup mumpuni.

Ketua Umum IKG, Edi Sukirman mengungkapkan, IKG sendiri berdiri sejak tahun 1970 lalu  didirikan oleh mereka para Putra Gunungkidul yang merantau dan mengais rejeki di Ibukota. Maksud awal didirikannya organisasi ini hanya ingin menyatukan para warga asli Gunungkidul yang berada di perantauan, agar silaturahmi dan gotong royong antar sesama perantau tetap terjalin dengan baik.

Dari situ, tentunya tidak mudah untuk sampai berada di titik sekarang. Di mana anggota IKG di Jakarta sendiri mencapai 300 ribu jiwa. Sekarang ini, para anggota memiliki cabang-cabang dari masing-masing kecamatan di Gunungkidul.

“Pada awalnya, sebelum ada teknologi seperti sekarang, memang cukup susah untuk mengumpulkan para perantau. Harus ada effort lebih dari seluruh pendiri dalam menyatukan,” kata Edi Sukirman.

Adapun dalam perkembangannya, IKG sendiri sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun terdahulu. Sumber daya manusianya sudah berwawasan luas dan tetap memiliki etos kerja yang sangat luar biasa. Menurut Edi, hal ini menggambarkan karakteristik sebagai orang Gunungkidul yang sejak dulu tak berubah.

Berita Lainnya  Reaktif Corona Capai 106 Orang, Beberapa Diantaranya Petugas Medis

“Selain aset fisik kita yang mencapai sekitar 17 miliar  yang kami miliki, kami juga memiliki aset yang tak kalah tingginya yakni etos kerja orang asli Gunungkidul yang luar biasa, dan jumlahnya sangat banyak,” tambahnya.

Beberapa bidang yang sekarang ini mulai dibidik dikembangkan di keanggotan yakni Budaya, Pendidikan, Olahraga, hingga Sosial. Berbeda dengan masa lalu, pendidikan sekarang ini sudah jauh lebih mudah diakses oleh warga Gunungkidul perantauan. Bahkan dari jerih payah para anggota, saat ini sudah mampu mendirikan sebuah lembaga pendidikan IKG.

“Untuk sosial, kita sejak awal memang bergerak di bidang sosial. Sebisa mungkin dari saweran anggota kemudian diperbantukan bagi warga di Gunungkidul yang membutuhkan,” papar dia.

Kemudian bidang budaya sendiri di tanah perantauan, para anggota IKG berupaya tetap nguri-uri budaya yang cukup beragam dari kabupaten Gunungkidul. Seniman seniwati sendiri juga banyak yang mengais rejeki di tanah rantau. Seringkali mereka menampilkan budaya asli Gunungkidul.

“Kita berkomitmen untuk memfasilitasi mereka (para seniman),” tambah Edi.

Ke depan, Edi bermimpi untuk bisa membuat IKG bisa lebih berperan dalam membangun Gunungkidul. Sudah menjadi kewajiban IKG untuk mulai ikut secara riil membangun kampung halaman.

Adapun mimpi Edi adalah nantinya IKG bisa membuat saya usaha dan membuka perusahaan di Gunungkidul. Harapannya, perusahaan ini bisa menjadi jalan untuk warga Gunungkidul mencari nafkah di kampung halaman.

“Jadi tidak lagi harus merantau untuk mencari nafkah. Di Gunungkidul sudah bisa bekerja,” urai Edi.

Hal ini disebut Edi memang menjadi program kerja IKG di masa mendatang. Di mana pihaknya menghimbau kepada warga Gunungkidul untuk tidak lagi merantau khususnya para warga yang menerapkan skema mengadu nasib. Ia ingin jika memang memutuskan merantau, warga Gunungkidul sudah dibekali kemampuan untuk bersaing untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Himbauan untuk tidak merantau ini juga nantinya diharapkan juga diterapkan kepada warga Gunungkidul yang memiliki kemampuan. Dengan semakin banyaknya sumber daya berkualitas yang tidak merantau seperti yang sekarang ini terjadi, tentu pembangunan di Gunungkidul bisa berlangsung maksimal.

“Jangan sampai merantau tapi tidak punya tujuan, nanti di sini malah hidup menderita. Kan kasihan, lebih baik tetap di Gunungkidul dan membangun kampung halaman,” pungkasnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler