Sosial
Selera Musik Kawula Muda Bergeser, Anak Band Gunungkidul Makin Terdesak Boomingnya Panggung Dangdut
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Industri musik tanah air dalam beberapa waktu terakhir didominasi oleh genre dangdut. Fenomena tersebut tak terjadi di tingkat nasional saja, namun juga merembet ke pelosok-pelosok daerah termasuk Gunungkidul. Meskipun genre lainnya masih tetap eksis, namun belum mampu menggeser dominasi genre dangdut yang dinilai musik serta pesannya lebih dekat dengan masyarakat. Kemudian bagaimana nasib band-band musik di Gunungkidul? Menjadi sebuah pertanyaan lantaran memang saat ini, event-event musik bergenre pop, rock maupun lainnya sangat jarang ketika masyarakat maupun penyelenggara hiburan lebih banyak memilih pentas musik dangdut.
Salah satu musisi senior Gunungkidul, Bayu Chandra, berpendapat aliran dangdut hingga mendominasi selera masyarakat saat ini tak terlepas dari mulai banyaknya variasi jenis musik yang muncul saat ini. Menurutnya, banyaknya penggemar dangdut dimulai ketika penyanyi-penyanyi dangdut mulai menjajaki industri musik nasional. Dengan demikian, musik dangdut yang identik dengan masyarakat kalangan bawah mulai beranjak naik kelas dan menyebar ke seluruh pelosok-pelosok negeri.
Sebelum maraknya musik dangdut seperti saat ini, Bayu sempat membuat band lokal Gunungkidul beraliran pop-punk yang saat itu cukup terkenal di masyarakat khususnya pemuda Gunungkidul. Berangkat dari hobi bermain musik, ia bersama dua temannya kemudian pada tahun 2008 menciptakan lagu dan merekamnya di studio musik. Berawal dari hal tersebut, dengan band bernama Biskoeit panggung-panggung musik lokal maupun daerah serta sorak-sorai penggemar sempat ia rasakan. Ia masih ingat betul, bagaimana genre-genre musik pop ataupun pop-punk saat itu masih sangat dominan dan digemari oleh masyarakat khususnya kalangan muda.
“Wah kalau yang paling berkesan itu ya pas di Alun-Alun Wonosari. Pas manggung semua penonton hafal lagunya, ya itu paling berkesan,” ucapnya ketika ditemui pidjar-com-525357.hostingersite.com, Rabu (01/12/2021).
Menurutnya, dengan maraknya musik dangdut saat ini turut berdampak pada turunnya eksistensi band-band musik aliran lainnya. Ia tak menampik jika fenomena tersebut turut terjadi di Gunungkidul. Aliran pop-punk yang pernah ia jalani mulai terkikis seiring viralnya musim-musik dangdut di tanah air.
“Begitu dangdut naik kan sekarang eksistensi band-band musik mulai turun, drastis bahkan. Selera musik masyarakat berubah,” ungkap Bayu.
Berubahnya selera masyarakat tersebut menurutnya juga dipicu oleh perkembangan teknologi yang menjadikan musik lebih mudah untuk diakses kapanpun dan dimanapun. Berbeda dengan dahulu yang mengandalkan radio untuk mendengar musik yang masih didominasi musik-musik pop ataupun pop-punk. Selain itu, internet dan media sosial menyajikan variasi jenis musik yang lebih banyak sehingga selera masyarakat dapat berubah.
“Sosial media dan youtube kan naik terus, dan orang kan arahnya ke internet. Nah mereka akhirnya semakin bervariatif melihat dan mendengar genre musik-musik. Sumbernya lebih variatif,” terangnya.
Namun begitu, ia menyampaikan jika musisi-musisi Gunungkidul masih aktif namun kemungkinan belum terlihat karena beralih ke media sosial. Dibandingkan dengan dulu yang mengandalkan panggung offline, kini musisi-musisi juga lebih memilih platform media sosial untuk memunculkan karyanya. Menurutnya, dilihat dari potensi kreatifitas musik di Gunungkidul tak kalah dengan yang lainnya. Namun mungkin karena berbagai hal sehingga belum dapat mewarnai industri musik nasional. Ia juga berharap jika nantinya ada musisi Gunungkidul yang dapat melangkah jauh di industri musik tingkat nasional.
“Dan mereka itu masih eksis sebenarnya meski jarang terlihat, tapi kebanyakan sekarang beralih jadi solo padahal tadinya anak band. Sering juga upload ke youtube, malahan mungkin orang Gunungkidul tidak tahu, penontonnya mungkin malah dari luar,” ujar Bayu.
Namun sebagai musisi, boomingnya genre dangdut ini tidak banyak yang bisa ia lakukan. Hal ini lantaran karakter musik yang telah menjadi industri. Semua adalah mekanisme pasar di mana terbentuk budaya maupun kegemaran masyarakat. Ia hanya berpesan kepada para musisi atau anak band Gunungkidul untuk terus berkarya sembari berharap ke depan, pasar musik bisa kembali berubah drastis dengan adanya momentum.
“Mungkin sedang eranya saja,” tutup dia.
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized2 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized1 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized5 hari yang laluDua Oknum Kejaksaan di Gunungkidul Diduga Terlibat Skandal Asusila
