fbpx
Connect with us

Sosial

Tiga Warga Gunungkidul Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis, Kenali Gejalanya

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Salah satu penyakit berbahaya yang patut diwaspadai pada musim penghujan adalah penyakit Leptospirosis. Penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang cara penularannya melalui kencing tikus. Merujuk data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, di tahun 2021 ini sudah ada sejumlah kasus leptospirosis dengan beberapa orang dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengungkapkan data yang masuk ke Dinas Kesehatan Gunungkidul, hingga saat ini, sudah ada 8 orang yang dilaporkan terpapar penyakit ini. Dewi menyebut, dari 8 kasus tersebut, tiga diantaranya tidak bisa diselamatkan meski sudah mendapatkan penanganan dari petugas medis.

Penyakit semacam ini mamang banyak terjadi pada saat musim penghujan tiba. Pada tahun-tahun sebelumnya, di Gunungkidul sendiri juga sering ditemukan adanya orang yang mengalami penyakit Leptospirosis yang juga berakibat fatal, meninggal dunia.

Berita Lainnya  Pariwisata Moncer, Harga Tanah di Kawasan Pantai Selatan Naik Gila-gilaan

“Sudah ada tiga orang terlaporkan meninggal akibat penyakit ini. Leptospirosis memang penyakit yang cukup berbahaya jika terlambat dalam penanganannya,” kata Dewi Irawaty, Kamis (02/12/2021).

Mereka yang terpapar bakteri ini mayoritas adalah petani. Menurutnya, aktifitas petani yang lebih banyak di ladang atau sawah menjadi orang yang paling rawan terjangkit penyakit ini. Areal persawahan, terutama pada musim penghujan memang rawan terjadi penularan bakteri leptospira. Banyak tikus liar yang berhabitat di areal persawahan. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh petugas, beberapa daerah yang menjadi sebaran leptospirosis di Gunungkidul adalah Kapanewon Semin, Nglipar, Gedangsari, Patuk, dan Ngawen. Meski demikian, di daerah lain pun juga berpotensi yang sama.

“Penelitian yang dilakukan juga ada tikus di kawasan pantai yang ternyata juga berpotensi menularkan penyakit leptospirosis. Untuk itu kami himbau agar lebih hati-hati kembali saat beraktifitas. Bakteri ini terkandung dalam kencing tikus, kemudian menular ke manusia lewat luka terbuka,” jelas dia.

Menurut Dewi, untuk menyikapi kondisi seperti ini, penanganan tidak hanya sebatas di awal untuk pasien yang sudah terpapar Leptospirosis. Melainkan juga lingkungan dan lainnya juga perlu penanganan khusus. Mulai dari pencegahan dan lainnya. Masyarakat sendiri dihimbau untuk lebih waspada dan melakukan antisipasi dini saat beraktifitas di musim sekarang, terlebih jika aktifitasnya banyak di sawah.

Berita Lainnya  Kerugian Akibat Banjir dan Longsor Masih Terus Didata, Diperkirakan Lebih Kecil Dari Dampak Siklon Cempaka 2017

“Mulai dari sering cuci kaki, menggunakan alas kaki saat berladang, segera mengobati luka terbuka dan lainnya. Kami tidak bisa bekerja sendiri untuk melakukan pencegahan, kader di setiap padukuhan memiliki peran juga untuk memberikan edukasi,” papar Dewi.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Medis RSUD Wonosari, dr. Wahyu mengungkapkan, masyarakat tentu harus waspada pada musim penghujan seperti sekarang ini. Berkaitan dengan penyakit leptospirosis ini dirinya memberikan gambaran gejala penderita leptospirosi. Diantaranya mengalami demam tinggi dan menggigil, sakit kepala, mual, muntah dan tidak memiliki nafsu makan, diare, mata memerah, nyeri otot, sakit perut, dan keluar bintik-bintik merah pada kulit.

Setelah 1 sampai 3 hari akan kembali muncul gejala lain, seperti demam yang tidak segera reda, penyakit liver, sulit buang air kecil, pembengkakan pada tangan dan kaki, nyeri dada, sesak nafas, jantung berdebar-debar, lemas dan sering keringat dingin, serta sakit kepala dan leher kaku.

Berita Lainnya  Pemohon SKCK Membludak, Polres Gunungkidul Sampai Bangun Tenda Tampung Antrian

“Selama periode ini, RSUD sudah melakukan penanganan pada 5 pasien leptospirosis,” ucap dr. Wahyu.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler