fbpx
Connect with us

Sosial

Selisih Nilai Terlalu Jauh, Peserta Seleksi Staf Perangkat Desa Ngeposari Merasa Ada Yang Tidak Beres

Diterbitkan

pada tanggal

Semanu,(pidjar.com)–Beberapa waktu lalu, Pemerintah Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu menggelar seleksi pengisian jabatan Dukuh dan Staf Perangkat Desa. Namun, proses pelaksanaan seleksi sendiri dikeluhkan oleh beberapa peserta lain yang merasakan adanya kejanggalan. Sebagai informasi, 3 posisi staf desa yang terpilih akhirnya diisi oleh peserta yang notabene telah bekerja menjadi THL di Pemdes Ngeposari.

Kekecewaan berkaitan dengan proses dirasakan oleh peserta lainnya. Mereka yang merasa telah berjuang dan bisa melalui tes tertulis maupun tes komputer itu harus memupus impian mereka untuk menjadi staf perangkat desa.

Salah satu peserta, Ani Widiastuti mengatakan, ia tertarik untuk mengikuti proses seleksi staf perangkat desa. Awalnya, ia merasa tahapan awal proses seleksi itu berjalan baik hingga pelaksanaan tes. Diungkapkannya, proses seleksi diikuti oleh 24 peserta. Tes tertulis dilaksanakan di kantor Kepala Desa Ngeposari pada Sabtu lalu sementara untuk tes komputer dilakukan di SMA Negeri Wonosari.

“Awalnya biasa saja semua sesuai dengan aturan. Semua murni dibuat tes,” kata Ani Widiastuti, Sabtu (21/03/2020) siang.

Kejanggalan mulai dirasakan ketika pengumuman hasil akhir. Di mana setelah dilakukan koreksi dan perhitungan point, 3 THL yang sudah bekerja di pemdes mengungguli para peserta lainnya. Namun yang membuatnya cukup heran, ketiganya mendapatkan nilai hampir sempurna lebih dari 90 sementara peserta lainnya hanya mendapatkan nilai rendah.

“Yang nampak itu pada hasil akhir. Selisihnya jauh sekali. Mereka nilainya hampir sempurna sementara peserta lain nilainya rendah. Padahal kalau untuk tingkat kemampuan saya rasa kami juga percaya diri jika mampu mengerjakan soalnya,” tambah dia.

Rupanya, kasak kusuk kejanggalan ini tak hanya dirasakan oleh Ani. Hal semacam ini juga dirasakan oleh para peserta lain. Dalam komunikasi yang terjalin, sebenarnya para peserta itu hendak mengajukan surat keberatan atas hasil seleksi ini. Namun demikian, pengajuan surat itu kemudian urung dilakukan atas berbagai pertimbangan.

Berita Lainnya  SK Kemensos Turun, 30.000 Peserta BPJS Kesehatan Yang Dibiayai Pemerintah Akan Dicoret

“Kami ndak jadi bikin surat, kami minim bukti nanti malah jadi bomerang bagi kami. Ya nerima saja, kecewa itu pasti. Wong kita sama-sama berjuang kok,” ujarnya.

“Kasak-kusuknya memang santer sekali, ada teman saya yang duduknya waktu tes bersebelahan dengan peserta yang lolos dan katanya dia lihat peserta itu mengerjakan soal seakan-akan tanpa membaca soal. Yang mengagetkan hasil ujian nilainya tinggi,” ujar Ani.

Lantaran merasa dibuat tak adil ini, ia berharap agar tidak ada lagi pengisian perangkat desa yang kurang transparan. Seleksi semacam ini sebenarnya sangat penting lantaran akan sangat berpengaruh terhada kinerja dalam pemerintahan. Layanan akan berjalan dengan baik dan tidak ada penyimpangan yang terjadi manakala pemdes memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dan memiliki idealisme tinggi.

“Ndak usah lah seperti itu, nepotisme, kolusi dan lainnya harus dihilangkan, jangan tebang pilih dalam proses seperti ini. Ada informasi mengenai keamanan (hansip) ndak jaga 24 jam,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tika, salah seorang peserta seleksi staf desa lainnya. Ia merasa kecewa dan janggal karena selisih nilai yang terpaut sangat jauh antara 3 THL yang akhirnya terpilih dengan peserta lainnya.

Berita Lainnya  Tak Kunjung Dapat Perhatian, Warga Serpeng Nekat Urunan Ratusan Juta Untuk Perbaiki Jalan

“Ya merasa kecewa. Saya merasa mereka kurang terbuka dalam pelaksanaan seleksi itu,” keluh dia.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Desa Ngeposari Ciptadi mengungkapkan jika kasak kusuk yang terjadi di kalangan peserta seleksi staf desa tersebut telah ia ketahui. Namun demikian, hal itu ia tanggapi dengan santai. Menurutnya apa yang dilakukan oleh tim dan panitia sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Kami sudah mendengar mengenai apa yang terjadi dibawah. Kalau memang kurang jelas atau ada hal yang ining ditanyakan bisa kok ke kantor, ayo kita duduk bareng dan saya jelaskan. Toh tim juga sudah bekerja sesuai aturan,” urai Ciptadi.

Transparansi menurutnya telah diterapkan dalam proses seleksi tersebut. Berkaitan dengan 3 THL yang dinyatakan lolos itu, menurutnya telah sesuai prosedur yang ada. Di mana nilai ketiganya memang mengerjakan dengan baik dan setelah dikoreksi hasilnya bagus.

“Kemarin kan diserahkan ke tim dan panitia. Untuk koreksi dilakukan oleh tim dan peserta, kalau memang percaya diri bisa mengerjakan saya rasa semua juga begitu. Tapi kan memang belum tentu to jawabannya benar,” tambahnya.

Ia menegaskan tidak ada perlakukan khusus yang diberikan dalam proses seleksi itu. Komunikasi antara tim penguji dengan peserta pun tidak ada. Ia berharap apa yang terjadi ini tidaklah menjadi gejolak yang besar di kalangan masyarakat.

“Marilah kita merenung. Semua sudah kami lakukan setransparan mungkin, jangan sampai timbul fitnah. Untuk yang lolos itu berarti memang berkompeten,” tutup Ciptadi.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler