fbpx
Connect with us

Politik

Suhu Politik Makin Memanas, Roy Suryo Ajak Masyarakat Gunungkidul Tetap Kedepankan Persatuan dan Kesatuan

Published

on

Tanjungsari,(pidjar.com)–Mendekati bulan April 2019 di mana akan diadakan pesta demokrasi, suhu politik di sejumlah daerah di Indonesia terus memanas. Aroma persaingan terasa semakin kental dirasakan untuk menarik simpati masyarakat dan untuk mendapatkan suara dalam pemilihan anggota legislatif maupun presiden. Berbagai upaya juga terus dilakukan oleh semua lini untuk meredam polemik yang menyebar di masyarakat.

Hadirnya Pemilu serta Pilpres 2019 ini disebut oleh anggota DPR RI, Roy Suryo sebagai ujian untuk masyarakat. Meski mengajak masyarakat untuk melek politik, namun Roy juga menegaskan bahwa persatuan dan kesatuan adalah yang utama. Harus diakui, hingga beberapa waktu mendatang, memanasnya suhu politik semacam ini akan berdampak meningginya pula tingkat kerawanan. Hal inilah membuat prinsip persatuan dan kesatuan menjadi sangat penting dipegang teguh oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga situasi tetap aman dan kondusif.

“Jangan sampai masyarakat ikut-ikutan jika terdapat gejolak. Semua harus dapat meredam apa yang terjadi. Masyarakat harus lebih bisa melakukan seleksi,” terang Roy Suryo di hadapan puluhan warga di Balai Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari beberapa waktu silam.

Tak sedikit tentunya isu-isu menjatuhkan atau merugikan beredar luas di masyarakat untuk menggiring pemikiran-pemikiran yang berbeda. Sekecil apapun informasi yang diperoleh jika tidak diolah terlebih dahulu, bukan tidak mungkin dapat memecah kondisi yang semula kondusif. Bukan tidak mungkin juga jika pesta demokrasi yang seharusnya bisa menjadi ajang yang menyenangkan justru dapat memecah belah kondisi. Namun jika pertahanan pengetahuan kuat, tentu hal tersebut tidak akan menggoyahkan persatuan.

Pemahaman 4 Pilar Kebangsaan, di masa sekarang ini harus lebih ditekankan kembali pada masyarakat. Sehingga masyarakat dapat menjaga kondusifitas dan memiliki pemahaman dan pemikiran yang luas. Penekanan pemahaman ini tidak hanya menyasar pada mereka yang telah dewasa, namun generasi muda juga harus lebih memahami.

Mengingat pemikiran mereka yang masih labil, bukan tidak mungkin kemudian digunakan untuk kepentingan orang lain. Generasi inilah yang menjadi ujung tombak dalam menjaga persatuan dan kedaulatan di masing-masing wilayah.

“Jangan mengambil pemikiran jika belajar mendalami 4 pilar kebangsaan itu duduk dan mendengarkan. Namun dari hal kecil saja bisa, mulai dari toleransi, solidaritas, kebersamaan hingga sosial. Ini semua bisa dikaitkan dengan 4 pilar kebangsaan, belajar itu mudah,” imbuh dia.

Pria yang terakhir menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga di era Presiden SBY ini mencontohkan, jika siapapun dan di manapun bisa menerapkan hal semacam ini. Misalnya dari seorang petani menularkan memberikan pemahaman pada anggota keluarganya, kemudian ditularkan pada lingkungannya. Hal ini telah mrmbantu dalam menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat.

“Pada intinya semua kembali ke masing-masing. Tidak mudah terprngaruhi dengan kondisi dan isu sekitar, jika salah-salah tindakan bukan tidak mungkin dapat merugikan diri sendiri atau bahkan banyak kalangan,” tutup politisi dari Partai Demokrat ini.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler