fbpx
Connect with us

Sosial

Sukses Inisiasi Program Kotak Gadget di Lingkungannya, Pemuda Ini Raih Penghargaan Pemuda Pelopor

Diterbitkan

pada tanggal

Semin,(pidjar.com)–Perkembangan teknologi saat ini memang tidak dapat dibendung lagi. Dampak positif maupun negatif selalu ada dalam pemanfaatan teknologi khususnya elektronik yang berkaitan dengan gadget. Salah satunya adalah pengaruh pada kebiasaan anak-anak maupun orang tua yang justru hampir setiap saat sibuk memainkan handphone mereka. Dampaknya bagi anak-anak sendiri cukup menakutkan lantaran bisa menyebabkan turunnya minat belajar lantaran terlalu asyik dalam memainkan gadget mereka.

Dampak-dampak negatif ini mengundang kekhawatiran tersendiri di benak sejumlah. Seperti yang dirasakan oleh Adhy Santoso (25) warga Padukuhan Blembem, Desa Candirejo, Kecamatan Semin. Ia merasa prihatin dengan lingkungannya sendiri di mana ia melihat banyak anak-anak maupun orang tua yang lupa waktu lantaran bermain handphone. Untuk anak-anak sendiri dari berbagai usia jika telah memengang gadget langsung terlena dan asyik bermain.

“Saya tidak pungkiri perkembangan jaman yang luar biasa ini. Hanya memang ada beberapa dampak yang membuat keprihatinan tersendiri. Game di handphone seolah menjadi musuh utama bagi orang tua agar anaknya mau belajar. Karena jika sudah bermain HP anak justru sulit untuk diminta belajar,” kata Adhy, Jumat (23/08/2019).

Lebih lanjut prihatin dengan kondisi ini, pria kelahiran Gunungkidul pada tahun 1994 tersebut menciptakan terobosan agar baik orang tua maupun anak-anak lebih paham kembali dalam menghadapi perkembangan jaman khususnya teknologi. Inovasi yang perlahan mulai ia terapkan di lingkungannya yakni program satu rumah satu kotak. Di mana masing-masing rumah terdapat kotak terbuat dari kayu atau dari bahan apa pun.

Berita Lainnya  Gelar Event Skala Internasional, Ratusan Offroader Dari Berbagai Negara Bakal Cicipi Medan Ekstrim Gunungkidul

Di jam-jam tertentu, seluruh handhone milik anggota keluarga dalam rumah diletakkan pada kotak yang telah tersedia. Misalnya di jam 18.00 hingga jam 19.00 WIB. Hal ini agar para anggota keluarga memiliki waktu untuk dihabiskan tanpa gadget. Kemudian di jam belajar terhitung jam 19.00 hingga 21.00 WIB agar anak-anak dapat fokus dalam belajar.

“Peran orang tua juga sangat penting. Harus ada komitmen tersendiri, mereka (orangtua) juga kami minta untuk tidak mengoperasikan handphone. Biasanya kan ada to yang anaknya disuruh belajar, tapi orang tuanya justru sibuk dengan handphonenya sendiri,” imbuh dia.

Kesadaran ini yang perlahan terus dipupuk oleh Adhy agar orang di lingkungannya dapat dengan bijak memanfaatkan teknologi yang ada. Selain mengedukasi masyarakat dengan program ini, ia juga memberikan sosialisasi kepada orang tua agar mereka lebih mengawasi aktifitas anak-anak mereka dalam mengoperasikan handphone.

Misalnya saja selalu melakukan pengecekan di history baik youtube atau akun-akun lainnya. Bahkan sebisa mungkin permainan yang ada di handhpone juga dipilah-pilah. Pasalnya terdapat beberapa game yang berdampak pada meningkatnya emosional anak. Sehingga jika kalah saat bermain, mereka akan memunculkan ekspresi, kekesalan, emosi dengan gerakan tubuh.

“Memanfaatkan apa yang ada itu ndak masalah, hanya saja menang harus bijak dan ada pemikiran yang luas. Komitmen itu memang sangatlah dibutuhkan,” imbuhnya.

Dengan adanya program yang diterapkan di Padukuhan Blembem, Desa Candirejo, Kecamatan Semin ini, menurut Adhy sudah berdampak lumayan baik. Masyarakat mulai menyadari bahwa pendidikan itu penting baik di sekolah, lingkungan maupun keluarga. Perlahan juga mulai ada perubahan. Beberapa anak-anak mulai menunjukkan potensi mereka masing-masing.

Berita Lainnya  Melongok Upaya Pemerintah Dalam Menghidupkan Kembali Perpustakaan di Gunungkidul

“Bijak dalam artian memanfaatkan elektronik (handphone) untuk belajar, kemudian diselingi game atau lainnya tapi dengan batasan waktu tertentu. Ini juga mendukung program dari pihak sekolah agar anak-anak tidak melulu bermain handphone,” ujarnya.

Dengan program yang ia cetuskan ini kemudian membawa Adhy Santoso maju sebagai nominasi Pemuda Pelopor di Bidang Pendidikan tingkat Kabupaten Gunungkidul dan akan maju ke Provinsi. Harapan besar pemuda ini yakni agar dunia pendidikan di Gunungkidul lebih baik lagi, kemudian kualitas sumber daya manusia yang ada jauh lebih baik. Mengimbangi perkembangan jaman namun tidak larut dan bergantung pada apa yang ada.

“Mudah-mudahan daerah lain juga ada terobosan semacam ini. Atau paling tidak berhenti sejenak memanfaatkan handphone agar jalinan komunikasi satu dengan lain yang terdekat dapat lebih baik. Pasti ada sejumlah tantangan dalam menerapkan program semacam ini, tapi kegigihan dan pemahaman lah yang paling utama,” tutupnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler