fbpx
Connect with us

Peristiwa

Tak Dapat Oksigen Meski Keliling Sampai Tengah Malam, Paidi Meninggal Terduduk di Rumahnya

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Sejak hampir sebulan terakhir ini, sejumlah fasilitas kesehatan di Gunungkidul kewalahan terhadap membludaknya antrian pasien. Eskalasi persebaran covid19 yang meningkat tinggi menjadi penyebab lonjakan pasien ini. Tak hanya fasilitas kesehatan saja, sejumlah sarana dan prasarana kesehatan saat ini juga kian langka di tengah meningkatnya permintaan masyarakat. Salah satu yang saat ini cukup sulit didapatkan adalah oksigen berikut tabung maupun peralatan lainnya. Hampir seluruh pasien positif virus corona yang memang menyerang paru-paru ini mengeluhkan sesak nafas sehingga membutuhkan bantuan oksigen.

Butuh perjuangan yang berat untuk mendapatkan peralatan oksigen ini. Bahkan, perjuangan berat pun bahkan tak cukup. Banyak dari masyarakat yang pulang dengan tangan hampa di tengah kedaruratan yang dialami. Tak jarang, kegagalan mendapatkan oksigen ini berakibat fatal yakni hilangnya nyawa.

Seperti yang harus dialami oleh almarhum Paidi (46), warga Padukuhan Sumberejo, Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen. Paidi bersama istrinya, Supraptini (44) sempat harus berkeliling Gunungkidul untuk mendapatkan oksigen. Namun upaya itu tak membuahkan hasil hingga akhirnya Paidi yang terkonfirmasi positif menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 8 Juli 2021 silam.

Duka mendalam masih dirasakan oleh Supraptini dan keluarganya yang kehilangan Paidi. Perjuangan mereka untuk melawan virus corona yang menyerang tubuh Paidi memang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, dalam kondisi drop, Paidi dan Supraptini terpaksa harus keliling rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk mendapatkan oksigen.

Supraptini menceritakan, awal mula Paidi dinyatakan positif covid19. Sekitar tanggal 4 Juli 2021 yang lalu merupakan jadwal Paidi untuk cuci darah. Sejak beberapa tahun terakhir, Paidi memang harus rutin melakukan cuci darah lantaran gagal ginjal yang dialaminya. Selama pandemi ini, untuk bisa memanfaatkan fasilitas cuci darah, harus dilakukan tas PCR di Puskesmas. Saat itu, suaminya berangkat sendiri ke Puskesmas I Playen untuk melakukan uji swab, hasilnya disebutkan negatif.

Setelah mengantongi surat bebas covid ini, ia kemudian melakukan cuci darah di RSUD Wonosari. Namun setelah itu, Dukuh Sumberejo kemudian datang ke rumahnya dan mengatakan jika Paidi positif covid19, sehingga harus menjalani isolasi mandiri termasuk dengan keluarganya.

“Saat itu bapak juga memang sudah dikasih tahu dari Puskesmas kalau diminta untuk isolasi mandiri,” kata Supraptini.

Beberapa hari menjalani isoman justru membuat Paidi stres karena tidak bisa bekerja lagi. Maklum, ia yang berprofesi sebagai tukang parkir khawatir jika tidak mendapatkan pendapatan sehingga kebutuhan keluarga tidak bisa tercukupi. Berselang beberapa hari, Paidi mulai merasakan gejala sesak nafas. Supraptini lantas berusaha menghubungi pihak Puskesmas Playen. Dan pihak Puskesmas Playen menyatakan jika sesak nafas yang dialami oleh Paidi hanya sesak nafas biasa seperti yang banyak terjadi pada pasien hemodialisa menjelang cuci darah.

“Kami itu punya tabung oksigen kecil untuk jaga-jaga, namun saat itu kondisinya kosong,” ungkapnya.

Supraptini sudah berusaha mengambil oksigen ke Puskesmas Playen namun saat itu stok sedang kosong. Wanita ini pun juga membawa suaminya menggunakan sepeda motor ke RSUD Wonosari dengan harapan bisa mendapatkan asupan oksigen di IGD.

Namun karena kala itu IGD sudah penuh, maka harapan mendapat asupan oksigen pupus. Dengan membonceng sang istri, Paidi akhirnya ikut berkeliling mencari oksigen. Namun ternyata semua agen pengisian oksigen di Gunungkidul kosong.

Dalam kondisi susah nafas, Paidi bersama istrinya terus berkeliling ke sejumlah tempat untik mendapatkan oksigen, namun tetap tidak kunjung mendapatkan. Sampai tengah malam berkeliling tak ada hasil, keduanya lalu pulang.

“Saya sama suami muter-muter nyari oksigem sampai jam 1 malam, tapi tidak dapat,” sambung dia.

Di tengah kepanikan ini, Supraptini lalu meminta sang anak untuk berkeliling mencari pasokan oksigen. Sang anak yang berkeliling hingga Kota Yogyakarta dan sekitarnya, tak kunjung pula mendapatkan oksigen yang dibutuhkan sang ayah yang terus mengalami sesak nafas. Hingga akhirnya pada 8 Juli 2021 pagi hari, Paidi menghembuskan nafas terakhirnya dalam posisi terduduk.

Terpisah, Direktur RSUD Wonosari, dr Heru Sulistyowati mengakui jika IGD di rumah sakit tersebut sering penuh menyusul melonjaknya pasien covid19. Kapasitas tempat tidur perawatan pasien covid19 di RSUD Wonosari memang sangat terbatas lantaran banyaknya pasien yang masuk. Kendati demikian, layanan terhadap pasien umum tetap dilaksanakan.

“Untuk cuci darah, kami ada 18 alat HD (cuci darah) dan bisa difungsikan semua,”ujarnya.

Khusus untuk pasien Hemodialisa, pihaknya melayani pasien cuci darah yang sudah terdaftar secara rutin di RSUD Wonosari. Di samping itu juga melayani cuci darah Cito atau segera untuk pasien yang kondisinya gawat darurat.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler