Sosial
Tak Mau Macet-macetan di Jalan Jogja-Wonosari Saat Musim Lebaran?, Ini Jalur-jalur Alternatif Yang Bisa Dipilih
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Penumpukan kendaraan biasa terjadi ketika musim liburan tiba di Gunungkidul. Terutama ketika musim perayaan Hari Raya Lebaran, jumlah kendaraan yang masuk ke Gunungkidul bahkan mencapai hingga puluhan ribu. Dengan jumlah kendaraan sebanyak ini yang terdiri dari kendaraan masyarakat umum, wisatawan serta pemudik, kemacetan pun menjadi tak terelakkan.
Jalan Jogja-Wonosari selama ini menjadi jalur utama yang digunakan oleh para warga yang ingin masuk ke Gunungkidul. Tak heran apabila pada masa liburan atau perayaan hari raya, Lebaran terutama, jalur ini menjadi ajang kemacetan.
Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul, Syarief Armunanto memaparkan, pihaknya telah mempersiapkan sejumlah jalur alternatif yang bisa digunakan oleh warga masyarakat, wisatawan maupun pemudik. Pemaksimalan jalur alternative ini nantinya diharapkan bisa mengurangi beban lalu lintas di Jalan Wonosari-Jogja.
“Kita harap arus lalu lintas tidak terpusat di Jalan Wonosari-Jogja agar tidak sampai terjadi kemacetan parah,” beber Kepala Dishub Gunungkidul, Syarief Armunanto, Kamis (07/06/2018) siang.
Adapun jalur alternatif yang disiapkan adalah pada pintu barat melalui Piyungan-Sorogedug-Jembatan Sembada Handayani-Nglanggeran-Wonosari. Kemudian yang kedua adalah via Jalan Piyungan menuju Petir, Oro-Oro, Nglanggeran, menuju Kota Wonosari. Bisa juga melalui Cino Mati menuju Dlingo, Getas, Playen, Kota Wonosari,

Pengguna jalan juga bisa melalui jalur dari Imogiri menuju Dlingo/Mangunan, Getas, Playen, Kota Wonosari. lalu dari Bantul ke Panggang menuju Saptosari, Paliyan, Kota Wonosari.
“Namun untuk jalur alternatif ini tidak kami rekomendasikan dilalui kendaraan berat,” kata Syarief.
Syarief menambahkan, untuk jalur utara, ada tiga jalur alternatif yang disiapkan yaitu Gedangsari menuju Ngelanggeran, Kota Wonosari. Jalur kedua adalah Gedangsari, Nglipar, menuju Kota Wonosari. Sementara yang ketiga adalah dari Cawas, Ngawen/Semin, menuju Karangmojo atau Nglipar, lalu ke Kota Wonosari.
Sementara dari wilayah timur ada tiga jalur alternatif yaitu dari Sukoharjo menuju Candirejo, Semin, ke Karangmojo, Kota Wonosari. Serta yang kedua adalah dari Manyaran, ke Semin, Karangmojo, Wonosari. Sedangkan jalur ketiga dari Praci menuju Bedoyo, Semanu, dan ke Kota Wonosari.
“Untuk pemudik kita menghimbau agar tidak melalui jalur Cino Mati. Bagi yang tidak hafal medan, jalur yang menanjak tajam dan sempit ini memang sangat berbahaya dan berpotensi terjadi kecelakaan,” lanjut dia.
Lalu lintas sendiri diperkirakan akan mencapai puncak keramaian pada H-3 hingga H+3 Lebaran. Sejumlah rekayasa lalu lintas telah disiapkan pula oleh jajarannya untuk mengantisipasi titik kemacetan. Diantaranya adalah dengan pengaturan ulang timmer traffic light, penambahan rambu penunjuk jalan, pemasangan pembatas jalan dan juga rekayasa arus lalu lintas. Jalur yang menjadi target rekayasa di awal adalah jalur yang melalui Cino Mati. Mulai H-7 hingga H+7, kendaraan besar seperti bus dilarang untuk melintas jalur Cino Mati. Kendaraan besar diminta untuk melalui jalur utama melalui Patuk.
“Arus hanya untuk naik saja di sini (Cino Mati) sedangkan untuk turun harus mencari jalur lain,” urainya.
Sementara untuk pemanfaatan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS, saat ini pihak Dishub menurut Syarief masih belum memberikan rekomendasi. Pasalnya, proses pembangunan jalan belum rampung 100% sehingga masih banyak jalur yang terputus. Jalur terputus ini nantinya berpotensi membuat para pemudik bingung dan tersesat.
“Kita tidak merekomendasikan pemudik melalui JJLS,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR) Gunungkidul, Eddy Praptono mengatakan bahwa JJLS belum siap 100 persen. Baru ada beberapa lokasi yang sudah selesa dibangun. Seperti misalnya dari Pantai Baron ke Barat terputus di Girisekar-Legundi (Proses Pembebasan Lahan sejauh 5 km). Sementara dari Girijati ke barat sampai perbatasan Bantul atau rencana pembangunan lokasi jembatan kelok 18. Untuk arah timur baru Perbatasan Pracimantoro.
“Masih proses dibangun maupun pembebasan lahan. Jadi belum bisa difungsikan 100%,” tutupnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized2 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
