Sosial
Tanam Kedelai Varietas Anyar, Hasil Panen Petani Bleberan Melonjak Hingga 50%
Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Produksi kedelai dalam negeri masih rendah. Dalam skala nasional, setiap tahunnya, kebutuhan kedelai mencapai 2,4 juta ton. Namun saat ini, petani di Indonesia hanya mampu memenuhi 50% dari kebutuhan pasar saja. Sehingga untuk sisanya, mau tidak mau Indonesia masih sangat mengandalkan impor dari negara lain.
Sejumlah upaya sendiri terus dilakukan untuk menggenjot produksi kedelai dalam negeri. Sebagaimana diketahui, para petani enggan menanam kedelai lantaran berbagai kendala, terutama dengan sulitnya perawatan dan ongkos produksi yang besar. Salah satunya adalah dengan menciptakan benih-benih kedelai yang tahan terhadap serangan hama, berproduksi tinggi sehingga bisa menekan biaya produksi.
Peneliti Kementrian Pertanian sendiri telah berhasil menciptakan salah satu varietas kedelai yang dinamakan kedelai tahan naungan yang dinamakan dena 1. Jenis kedelai ini cukup menarik lantaran cocok ditanam di lahan yang berada di bawah pohon, salah satunya pohon minyak kayu putih.
Salah satu kelompok petani yang telah mengembangkan jeni varietas ini adalah Kelompok Tani Sedyo Maju di Padukuhan Srikoyo, Desa Bleberan, Kecamatan Playen. Pada Kamis (02/05/2019) kemarin, kelompok tani ini mulai memanen kedelai Dena 1. Jenis kedelai ini sendiri sudah ditanam sejak 19 Februari 2019 lalu.
Dalam masa panen ini, setiap hektar lahan milik petani yang ditanami kedelai Dena mampu menghasilkan 3,1 ton biji kering. Apabila dibandingkan dengan kedelai varietas Anjasmoro yang biasa ditanam petani Gunungkidul, hasil panen ini cukup besar lantaran hasil produksi meningkat hingga 50%. Untuk varietas kedelai Anjasmoro, para petani hanya memproduksi 2,1 ton per hektarnya.
Ditemui pidjar-com-525357.hostingersite.com, peneliti Kementrian Pertanian (Kementan), Bambang Sutaryo, mengatakan tanaman yang ditanam di bawah naungan akan mengalami penurunan dalam hal sinar yang diterima. Namun demikian hal tersebut dapat disiasati dengan varietas Dena-1 sehingga kedelai yang ditanam tidak mengalami penurunan kwantitas dan kualitas.
“Varietas kedelai Dena-1 yang ditemukan berdasarkan penelitian. Pengelolaan kedelai Dena-1 perlu diperhatikan dengan baik. Contohnya , agar petani menggunakan pupuk organik dan pupuk kimia yang sesuai dengan dosis,” jelas Bambang.
Dia menambahkan, luas tanam kedelai di DIY mengalami penurunan karena alih fungsi lahan. Luas tanam kedelai turun sekitar 200 hektare di DIY. Dengan adanya kecenderungan ini, untuk paling tidak mempertahankan jumlah produksi, petani harus meningkatkan luas tambah tanam antara lain dengan menggunakan badidaya lahan di bawah naungan.
“Hama yang biasanya menyerang tanaman kedelai Dena-1 adalah ulat karet daun, pengerek, dan hama polong. Gangguan hama tersebut bisa diatasi apabila memberikan pembasmi hama secara tepat waktu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, sejauh ini di Kecamatan Playen yang ditanami kedelai Dena-1 sekitar lima hektare. Untuk penanaman kedelai dengan budidaya naungan sendiri tersebar di 4 kecamatan yakni Nglipar, Karangmojo, Playen, dan Semin.
“Kami ingin tanam lebih banyak lagi karena luas lahan di sini saja 60 hektare, lahan di bawah naungan di Kabupaten Gunungkidul ada 300 hektare,” jelas dia.
Sementara itu, petani anggota Gapoktan Sedyo Maji, Tuwin mengungkapkan, hasil dari menanam kedelai dengan varietas Dena-1 ini memang cukup memuaskan. Ia mengakui bahwa dengan menanam Dena-1 dengan menjalankan teknik di bawah naungan, memang menghasilkan peningkatan jumlah produksi yang luar biasa. Harga benih sendiri ia paparkan hanya Dena-1 Rp. 12.000,- per kilogramnya.
“Biasanya satu hektare hanya 1 kwintal, dengan varietas ini bisa mencapai 1 kwintal lebih 40 kilogram karena kedelainya memang besar,” tandasnya. (Ulfah Nurul Azizah)
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
