Pemerintahan
Temuan Penyakit Mulut dan Kuku, Ancaman Sekaligus Peluang Untuk Peternak
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Munculnya Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) pada hewan ternak masih menghantui masyarakat Gunungkidul. Meskipun belum ditemukan kasus di Gunungkidul, kewaspadaan terhadap kesehatan hewan ternak perlu ditingkatkan agar tidak merugikan warga Gunungkidul yang hampir sebagian besar memiliki hewan ternak.
Salah satu peternak sapi asal Padukuhan Susukan 3, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Pradika Cipta Nugraha, mengatakan jika ia melihat adanya PMK ini sebagai ancaman sekaligus peluang bagi peternak.
“Mengapa ancaman? Ya, jelas sekali PMK ini merupakan virus dengan persentase penularan yang tinggi sehingga kita perlu meningkatkan kewaspadaan serta melakukan tindakan preventif agar ternak kita tidak tertular,” ucap pria yang akrab disapa Dika itu, Kamis (26/05/2022).
Menurutnya, ancaman PMK ini otomatis mempengaruhi keleluasaan peternak dalam melakukan transaksi jual maupun beli. Dari segi pembelian, ia sementara waktu membatasi pembelian hewan ternak karena dikhawatirkan ternak baru tersebut akan membawa virus yang dapat menginfeksi hewan lain yang ada di kandang.
“Dari segi penjualan, beberapa pembeli juga masih khawatir untuk membeli hewan ternak karena takut tertular. Jadi, selain mempengaruhi kesehatan sapi, ancaman PMK ini juga mempengaruhi psikologis para pelaku transaksi perdagangan sapi,” imbuhnya.

Menurutnya, PMK ini juga dapat menjadi peluang bagi para peternak. Adanya PMK menjelang hari raya Idul Adha ini bisa saja menjadi peluang bagi peternak. Saat ini, hewan qurban dengan jaminan kesehatan tentu akan menjadi incaran para shohibul qurban. Namun, hal ini tentunya perlu didukung oleh dinas terkait. Misalnya dengan memberikan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).
Dalam upaya antisipasi, ia telah melakukan Bio Security kandang seperti melakukan disinfektan secara rutin, pembatasan atau bahkan pelarangan sementara untuk kunjungan ke kandang, serta tidak memasukkan hewan dan atau kendaraan ternak untuk sementara waktu.
“Antisipasi kan juga perlu dilakukan agar hewan ternaknya tetap terjamin kesehatannya,” terang dia.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul, Heri Nugroho, menyampaikan jika dirinya telah mengkomunikasikan ancaman PMK kepada Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul. Menurutnya, kesehatan ternak juga merupakan kesehatan para peternaknya. Ia berharap, agar PMK ini bisa diantisipasi dengan cepat agar tidak seperti penyebaran anthrax.
“Kalau memang di situ sudah ada terjangkit kita minta untuk segera di karantina agar tidak menular. Mumpung masih dini, bukannya untuk menakuti peternak karena kan sebentar lagi lebaran haji jangan sampai turun harga ternaknya,” papar Heri.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Sih Supriyana, menyebut, sesuai instruksi dari pemerintah pusat, pihaknya telah melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mempersempit penyebaran penyakit mulut dan kuku yang banyak ditemukan di Jawa Timur. Meskipun belum ditemukan kasus PMK di Gunungkidul, namun masih adanya kasus yang terjadi di wilayah lain menjadi perhatian terlebih beberapa bulan lagi umat muslim memperingati hari raya Idul Adha sehingga kebutuhan maupun lalu lintas ternak akan mengalami peningkatan pesat.
“Kami sudah melakukan langkah-langkah yang diinstruksikan dari Kementerian Pertanian untuk langkah kewaspadaan dan antisipasi masuknya PMK ke wilayah Gunungkidul,” ungkap Sih.
Sementara itu, salah seorang Petugas Pos Lalu Lintas Ternak Bedoyo, menyampaikan jika keberadaan pos jaga lalu lintas diperuntukkan guna memastikan kesehatan hewan ternak yang akan masuk ke Gunungkidul. Sekitar dua minggu ini ia dan dua rekannya diminta untuk siaga dan memperketat hewan ternak yang masuk ke Gunungkidul.
“Biasanya hewan ternak yang melintas dari sini itu dari Pracimantoro dan Girisubo,” terangnya.
Ia menambahkan, setiap ada kendaraan hewan ternak yang masuk maka akan diperiksa apakah memiliki surat kesehatan hewan atau tidak. Jika tidak memiliki, maka kendaraan akan diminta putar balik untuk mengurus surat kesehatan hewan terlebih dahulu.
“Di sini mulai jaga itu jam 02.00 sampai 17.00 WIB, ramai atau tidaknya itu relatif tapi dipengaruhi hari pasaran,” imbuhnya.
Pada hari ini, lalu lintas hewan ternak yang melewati pos yang ia jaga cenderung lebih sepi daripada biasanya. Menurutnya hal seperti itu biasanya terlebih saat ini harga hewan ternak yang cenderung mengalami penurunan.
“Wah kalau jumlah semuanya tidak terhitung ya, tapi dari awal siaga ini paling banyak sehari itu di bawah sepuluh kendaraan yang putar balik. Kadang ada juga warga yang memaksa masuk padahal tidak ada surat kesehatan,” pungkas dia.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluVaksin PMK Gunungkidul Tersisa 22.975 Dosis, Dikejar hingga Ternak Sasaran Terpenuhi
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluABK Asal Riau Meninggal Saat Melaut di Perairan Kawasan Sadeng
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
