Sosial
Triyanto, Pelatih Asal Gunungkidul di Balik Sukses Raihan Medali Emas Tim Panjat Dinding Putri di Ajang Asian Games 2018
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Tim Indonesia sukses menggondol medali emas, perak, dan perunggu dalam Asian Games cabang olahraga panjat tebing pada Kamis (23/08/2018) silam yang digelar di Jakabaring Sports City, Palembang, Sumatera Selatan. Yang luar biasa adalah capaian dari tim panjat dinding putri yang berhasil menampilkan performa terbaik dalam hajatan olahraga terbesar kedua di dunia tersebut. Jerih payah Aries Susanti Rahayu dan Puji Lestari berhasil menciptakan All Indonesian Final untuk nomor speed.
Namun siapa sangka di balik sukses tersebut, ikut bekerja pula tangan dingin putra Gunungkidul. Adalah, Triyanto Budi Santoso (49) putra dari Ngadirin dan Jumiyati warga Wareng IV, Desa Wareng, Kecamatan Wonosari yang menjadi salah satu tim pelatih panjat dinding putri Indonesia.
Kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Triyanto menceritakan sedikit perjalanan hidupnya hingga bisa menjadi pelatih panjat dinding. Kesuksesannya saat ini tidak lepas dari hobinya mendaki gunung saat ia mulai duduk di bangku SMA.
Kemudian, ia mulai mengenal dunia panjat dinding saat berada di bangku kuliah melalui organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) IKIP Yogyakarta.
“Saya juga pernah jadi atlet beberapa tahun, kemudian pada tahun 1996 menjadi pelatih panjat tebing PON DIY,” kata Triyanto, Minggu (26/08/2018).

Setelah itu, prestasi gemilang terus ia raih. Lantaran reputasinya tersebut, KONI DIY selalu mempercayai tangan dingin Triyanto untuk membesut para atlet panjat dinding. Terbukti dengan tiga tahun berturut-turut ia menjadi pelatih tim kejurnas panjat dinding.
“Saya jadi pelatih dalam Kejurnas 1997, 1998, 1999 dan PON DIY 2000, Pelatih Tim Panjat tebing DIY POMNAS 2001,” imbub dia.
Sejak 2002, ia kemudian pindah ke Jawa Tengah dan menjadi pelatih tim panjat dinding Jateng sampai tahun 2016. Kiprah Triyanto yang cukup gemilang ini membawanya ke level yang lebih tinggi. Beberapa kali ia ditunjuk menjadi tim pelatih panjat tebing Indonesia pada ajang internasional.
“2011 saya jadi pelatih Sea Games dan sekarang bersyukur masih dipercaya melatih dalam Asian Games 2018,” kata dia.
Disinggung mengenai prestasi dalam ajang Asean Games 2018, Triyanto mengaku sangat puas. Pasalnya, dua atlet yang selama ini ia persiapkan mampu menjadi yang tercepat mengalahkan atlet-atlet terbaik Asia lainnya.
“Sesuai harapan kita, all final Indonesia dan sangat membanggakan,” ujar dia.
Sukses ini bukan sebuah capaian yang instan. Ia bersama anggota tim pelatih lainnya dan para atlet terus berlatih dan mengevaluasi berbagai macam teknik serta evaluasi dalam latihan rutin yang digelar. Tak hanya itu, staf pelatih juga sangat berperan dalam menjaga motivasi atlet sehingga pada akhirnya bisa terus fokus dan meraih hasil maksimal.
“Saya sangat terharu, kerja keras yang selama ini kami lakukan tidak sia-sia,†tandas Triyanto.
Di balik kesuksesannya itu, Triyanto mengaku selalu ada dorongan doa dari kedua orang tuanya. Meskipun saat ini dirinya tinggal di Sragen, Jawa Tengah, namun dua minggu sekali dirinya selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halaman untuk menjenguk keluarga.
“Peran keluarga saat penting dalam kehidupan saya, keluarga selalu mendukung di masa sulit. Masa yang tidak mudah saya lalui, akan tetapi karena semangat kerja keras dan dorongan untuk mensejahterakan keluarga membuat saya tak pernah menyerah,” kata Triyanto.
Darah Gunungkidul yang mengalir di dalam tubuhnya membuat Triyanto juga sangat memperhatikan nasib para atlet panjat dinding di Gunungkidul. Ia beranggapan, atlet muda yang ada saat ini sangat berpotensi menjadi juara di masa mendatang. Ia juga siap jika sewaktu-waktu diminta untuk membantu memberikan pelatihan di masa senggangnya.
“Sudah ada teman saya yang menjadi pelatih di Gunungkidul. Tentu saya juga tidak akan lepas tangan. Saya berpesan jangan patah semangat, sesulit apapun hadapi dan hadapi, sampai mimpi itu tercapai,” pungkas dia.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized5 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized7 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized6 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized2 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
