Pemerintahan
Warga Positif Antraks di Dadapayu Sembuh, Dinkes Tetap Lakukan Pantauan Selama 60 Hari
Wonosari, (pidjar.com)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, menyatakan empat warga yang terkonfirmasi positif antraks telah sembuh setelah menjalani perawatan intensif. Selain itu, sebanyak 47 warga yang masuk kategori berisiko telah dipantau selama 60 hari untuk mengantisipasi penularan penyakit tersebut.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, kasus antraks tersebut bermula dari temuan tujuh warga di Dusun Pelem, Kalurahan Semanu, yang berstatus suspek. Mereka diketahui memiliki kontak dengan hewan ternak yang sakit atau mati mendadak dan mengalami gejala klinis.
“Dari tujuh suspek, ada kontak hewan sakit atau mati dan ada gejala klinis, kemudian diambil sampelnya. Hasil PCR yang positif terkonfirmasi antraks ada empat orang,” kata Ismono, Senin (5/10/2026).
Ismono menjelaskan, Dinkes Gunungkidul telah melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) serta memberikan pengobatan kepada empat pasien tersebut hingga dinyatakan sembuh. Saat ini, pihaknya juga memastikan tidak ditemukan kasus baru.
“Saat ini sudah tidak ada kasus baru, berarti sudah selesailah di situ,” ujarnya.
Selain menangani pasien yang terkonfirmasi positif, Dinkes Gunungkidul juga melakukan pelacakan terhadap warga yang memiliki riwayat kontak dengan hewan terinfeksi. Dari total 54 orang dalam populasi yang diidentifikasi, sebanyak 47 orang masuk kategori berisiko dan telah mendapatkan antibiotik profilaksis.
Mereka juga menjalani pemantauan selama 60 hari atau setara dengan dua kali masa inkubasi antraks. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya gejala sekaligus mencegah penularan lebih lanjut.
Ismono menyebutkan, penularan antraks dalam kasus tersebut diduga berkaitan dengan praktik brandu atau porak. Tradisi yang masih ditemukan di masyarakat Gunungkidul itu dilakukan dengan cara patungan membeli dan menyembelih ternak yang sakit atau mati mendadak, kemudian dagingnya dibagikan untuk dikonsumsi bersama.
“Infonya memang brandu, kemudian dikonsumsi bareng-bareng,” ungkapnya.
Menurut Ismono, seluruh warga yang terlibat dalam penyembelihan, mengonsumsi daging, maupun melakukan kontak erat dengan hewan tersebut telah dilakukan pelacakan. Meski demikian, praktik brandu masih menjadi tantangan dalam upaya pencegahan antraks di Gunungkidul.
Pihaknya telah berulang kali memberikan sosialisasi agar masyarakat tidak menyembelih ternak yang sakit atau mati mendadak. Ternak yang dicurigai terjangkit antraks harus ditangani sesuai prosedur petugas kesehatan hewan.
“Kita sudah memberikan sosialisasi kalau ada hewan seperti itu jangan disembelih, tapi dikubur. Tapi, ya namanya perilaku warga, sudah kita sadarkan, tapi masih PR kita semuanya,” jelasnya.
Sementara itu, calon Ketua Umum PB PDHI, drh. Mirjawal, mengingatkan bahwa Gunungkidul merupakan wilayah endemis antraks sehingga kewaspadaan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kesembuhan pasien tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah terhadap potensi kemunculan kasus serupa.
Ia menilai penguatan surveilans, pencegahan, edukasi masyarakat, pengawasan lalu lintas ternak, serta vaksinasi antraks pada hewan perlu terus dilakukan untuk menekan risiko penularan.
Mirjawal juga menekankan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam penanganan antraks. Koordinasi antara dokter hewan, dinas yang membidangi kesehatan hewan, Dinkes, Puskesmas, dan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Masyarakat pun diimbau tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit maupun mati mendadak. Jika menemukan kondisi tersebut, warga diminta segera melaporkannya kepada petugas kesehatan hewan agar dapat ditangani sesuai prosedur.
“Jangan panik, tetapi jangan abai. Jika ada ternak sakit atau mati mendadak, jangan dipotong dan jangan dikonsumsi. Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan,” pesan Mirjawal.
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya6 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized6 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized7 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized1 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
