fbpx
Connect with us

Pendidikan

SMKN 1 Tepus Menjadi Sekolah Pertama yang Lakukan Kegiatan Belajar Mengajar di Tengah Pandemi

Published

on

Tepus,(pidjar.com)–Pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah dijalani oleh para siswa-siswi di Gunungkidul selama tujuh bulan. Waktu ini bukan waktu yang singkat bagi para insan pendidikan berkaitan dengan tercapainya kompetensi dasar. Khususnya bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berdiri untuk menyiapkan generasi siap kerja di industri.

Berangkat dari adanya SE Gubernur dan juga SK Kadisdikpora DIY yang memungkinkan kegiatan tatap muka apabila mendesak, akhirnya civitas SMK Negeri I Tepus membulatkan niat untuk melangsungkan tatap muka dengan para siswa. Tatap muka ini dikhususkan untuk kelas 12 yang mana sesuai dengan kalender pendidikan pada Februari mendatang sudah diadakan ujian produktif atau kejuruan.

Kepala Sekolah SMKN I Tepus, Muhammad Rokhis menjelaskan, kebutuhan pembelajaran produktif dengan alat praktik yang cukup mahal dan hanya ada di sekolah membuat pembelajaran jarak jauh pada pembelajaran produktif tidak memungkinkan. Ia sadar betul, masih banyak beban praktik yang harus dilakukan para siswa dan sifatnya cukup esensial.

“Akhirnya begitu SE dan SK keluar, melihat Kapanewon Tepus sudah zona hijau, kami menyebar angket kepada 173 wali murid kelas 12 mengenai kerelaan putra-putri mereka untuk dilaksanakan pembelajaran tatap muka,” beber Rokhis, Kamis (01/10/2020).

Pihaknya lantas memperoleh hasil dimana 95% wali murid mengizinkan putra-putrinya melaksanakan pembelajaran produktif di sekolah. Bak dayung yang bersambut, pihaknya kemudian meminta izin kepada Polsek Tepus, Panewu Tepus serta Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kapanewon Tepus. Izin dari kapanewon tersebut kemudian disampaikan kepada Balai Pendidikan dan Menengah Gunungkidul.

“Pihak Polsek, Panewu dan Gugus Tugas melakukan kroscek, Kepala Balai Dikmen juga melakukan sidak, alhasil melihat kesiapan sekolah, kegiatan pembelajaran ini diizinkan,” jelas dia.

Izin tersebut kemudian digunakan dengan cukup hati-hati. Di setiap harinya, pembelajaran hanya berlangsung 3 hingga 3,5 jam saja. Di setiap jurusan hanya ada 10 hingga 12 siswa yang praktik produktif.

“Ada tiga jurusan, kaki bagi jadi dua sift. Jadi per anak bisa ikut praktek dua kali dalam seminggu setiap jeda kami pastikan peralatan steril,” imbuh Rokhis.

Pembelajarannya pun diambilkan pada materi yang cukup esensial saja. Rokhis memberi contoh, misalnya untuk Teknik Kendaraan Ringan, hanya diberi pelajaran praktik tuneup.

“Ya itukan sangat urgent, mereka kami siapkan untuk menjadi pekerja, masa jurusan TKR ndak bisa tuneup,” ujar dia.

Protokol kesehatan pun ia perketat. Seperti pengukuran suhu tubuh siswa sebelum masuk ke lingkungan sekolah, menyediakan masker cadangan, sarana cuci tangan dan pihak satgas sekolah yang akan keliling untuk mendisiplinkan para siswa.

“Sampai kami pastikan kalau jam pelajaran berakhir para siswa benar-benar pulang. Artinya tidak mampir kemanapun, ini ikhtiar kami,” tandas dia.

Terpisah, Kepala Balai Dikmen Kabupaten Gunungkidul, Sangkin mengatakan, SE Gubernur dan SK Kepala Disdikpora DIY mengenai kebijakan pendidikan di masa transisi adaptasi kebiasaan baru memang merekomendasikan pengemabngan model blanded learning yang efektif mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Pihaknya kemudian memberi izin kepada SMK khususnya bagi siswa-siswi kelas 12 untuk kembali belajar produktif di sekolah.

“Syaratnya harus ada izin ke kapanewon, satgas pengendali di sekolah, alat praktek harus steril, ada izin dari orangtua, jumlah siswa juga harus terbatas dan di sekitar sekolah sudah tidak ada kasus positif,” pungkas Sangkin.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler