fbpx
Connect with us

Sosial

Alasan Ini Buat Pemerintah Pastikan Kabar Telur Palsu Hoax

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul menepis adanya kabar telur palsu yang beredar. Dikatakan, kabar telur palsu yang beredar di media sosial hanyalah hoaks sehingga meminta kepada masyarakat agar tetap tenang dan dapat makan makanan bergizi.

Kabid Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Suseno Budi menegaskan, tidak ada telur palsu yang beredar di pasaran. Pasalnya, untuk pembuatan telur palsu memerlukan biaya yang lebih mahal dibandingkan harga telur asli. Oleh karenanya, masyarakat tidak perlu terpengaruh dengan kabar tersebut.

“Telur berproduksi secara biologis, jadi tidak akan mungkin dipalsukan,” tuturnya, Senin (26/03/2018).

Lebih lanjut ia katakan, apabila sekalipun telur dapat dipalsukan, maka harganya akan jauh lebih mahal daripada telur asli. Hal ini lantaran untuk memalsukan telur membutuhkan teknologi yang amat canggih dan tentu biayanya akan sangat besar dibanding membuka peternakan ayam sendiri.

Bahkan, Suseno sendiri menyebut isu telur palsu yang beredar tidak masuk akal. Mengingat telur merupakan produk biologis, sehingga mustahil untuk dipalsukan. Oleh karenanya, seseorang membutuhkan teknologi untuk merekayasa produk biologis sehingga tidak ada alasan atau motif tertentu bagi siapapun untuk membuat dan mengedarkan telur palsu.

“Harga telur di pasaran saja per kilogramnya Rp 20-30 ribu. Kalau mau buat telur palsu pakai tekonologi canggih, kemungkinan harganya bisa melambung sampai 2 kali lebih tinggi dari harga asli,” tutur Suseno.

Berdasarkan isu yang beredar, ada telur aneh yang ditemukan memiliki ciri saat dipecah, cairan di dalam telur atau kuning telur tidak tumpah karena sangat kental. Meski secara kasat mata tampak seperti telur pada umumnya, namun hal ganjil baru terlihat saat telur sudah dipecah. Selain itu, lapisan dalam telur yang biasanya bening, warnanya cenderung pucat semacam tisu. Akhirnya, dengan pemahaman tersebut, warga menduga telur palsu pun sudah beredar di wilayah mereka.

Berita Lainnya  Fenomena Kemunculan Ular, Dinas Pastikan Seluruh Puskesmas Sudah Miliki SABU

Menanggapi persoalan semacam itu, Dokter Hewan Gunungkidul, Retno Widyastuti menambahkan, bahwa telur yang dimaksud tersebut merupakan telur asli namun kondisinya dalam keadaan yang tidak baik karena sudah terlalu lama disimpan. Apabila penyimpanannya sudah lama, maka sudah menjadi faktor alam telur memiliki ciri kuningnya yang lembek dan putih telur terlalu cair atau tidak lengket di tangan karena kekentalannya menurun.

“Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan simpan telur lama lama lebih dari empat minggu,” tutur dia.

Retno melanjutkan, telur sejatinya tidak bisa disimpan terlalu lama karena akan mempengaruhi konsistensinya. Di peternakan, tidak ada telur yang disimpan lebih dari seminggu. Begitu bertelur, keesokan harinya langsung didistribusikan ke konsumen.

“Lalu dikatakan pula jika ada bintik hitam di kuning telur berarti telur asli. Itu salah. Justru telur yang baik justru kuning telurnya bersih. Tidak ada bintik bintiknya,” tegas dia.

Kemudian dalam video yang beredar juga dikatakan bahwa pada telur palsu terdapat plastik yang berada di dalam kulit telur. Retno membeberkan, kulit telur terdiri dari beberapa lapisan yang hanya bisa jelas dilihat menggunakan mikroskop. Lapisan kulit paling luar bernama kutikula, dimana lapisan ini akan rusak jika telur dibersihkan atau ada gesekan saat telur menggelinding di atas kawat kandang, serta jika umur terlalu lama.

Berita Lainnya  Sensus Penduduk Online Diperpanjang

Lalu lapisan kedua yakni kulit telur yang tersusun kuat dan mengandung kalsium. Warna dan kekuatan kulit dipengaruhi jenis ayam dan pakan ayam. Terakhir, membran kulit telur yang melindungi isi telur. Membran ini juga terdapat 2 lapis, yakni bagian luar yang kontak dengan kulit telur dan bagian dalam yang kontak dengan putih telur.

“Membran kulit telur ini yang dibilang plastik. Padahal kulit telur yang berlapis dan kokoh diciptakan Tuhan untuk melindungi calon anak ayam dari kuman-kuman,” terang Retno.

Oleh karenanya, ia menghimbau agar masyarakat tidak perlu takut untuk mengkonsumsi telur yang memiliki protein tinggi tersebut. Kabar yang beredar dan menjadi viral di media sosial terkait ciri-ciri telur palsu, telah terjawab kesalahpahamannya dengan alasan yang logis. Sehingga pihaknya sendiri memastikan, bahwa kabar yang beredar adalah hoax.

“Polri juga sudah memastikan kalau kabar itu hoax. Apalagi di Gunungkidul ini produksi telurnya melimpah, bahkan didistribusikan ke daerah lain. Jadi jangan takut dengan isu telur palsu,” tutur Retno.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler