fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Anggaran JPS Habis, Kuota Bantuan Sembako Dinsos Tak Akan Sampai Akhir Tahun

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Pada penanganan covid19 tahun 2021 pemerintah mengganggarkan dana puluhan miliar rupiah untuk bidang Kesehatan dan Jaring Pengaman Sosial. Dana 57 miliar tersebut disiapkan untuk dua bidang tersebut. Adapun alokasi dana terbesar yaitu di bidang Kesehatan yang mencapai 54 miliar lebih. Sementara untuk jaring pengaman sosial sebanyak 2,25 miliar rupiah.

Data yang berhasil dihimpun dari Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul, 54 miliar tersebut digunakan untuk keperluan kesehatan. Mulai dari penanganan di RSUD Wonosari, RSUD Saptosari, BPBD, pemberian insentif ASN dan tenaga kesehatan serta mendukung program vaksinasi covid19.

Sementara untuk jaring pengaman sosial diplotkan 2,25 miliar rupiah yang digunakan untuk pemberian bantuan tunai serta pemberian sembako bagi pasien yang tengah menjalankan isolasi mandiri. Yang cukup mengkhawatirkan, saat ini anggaran untuk jaring pengaman sosial bagi masyarakat telah habis.

Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial, Dinas Sosial Gunungkidul, Hadi Hendro Prayogo mengatakan, anggaran BTT yang dimiliki saat ini memang sudah habis. Adapun dana 2 miliar lebih tersebut telah digunakan untuk pengadaan 1.000 paket sembako yang dibagikan pada tahap awal senilai 200 juta rupiah. Kemudian awal tahun juga disalurkan bantuan uang tunai senilai 600 ribu untuk keluarga dengan kategori tertentu.

“Bantuan tunai 600 ribu ini rinciannya 200 ribu dikalikan 3 bulan. Diberikan sudah beberapa bulan lalu kepada 1.920an rumah tangga,” kata Hadi Hendro.

Sisa anggaran yang dimiliki kemudian digunakan untuk pengadaan paket sembako tahap 2. Sebab mendekati Juli 2021 kemarin, stok sembako pengadaan awal sudah habis, sementara permintaan dari kalurahan cukup banyak. Saat itu anggaran sebesar 209 juta turun dan kembali digunakan untuk pengadaan 1000 paket sembako.

“Sampai dengan sekarang sudah sekitar 400 paket yang tersalurkan. Permintaan sendiri masih selalu ada,” paparnya.

Dipaparkannya, kemungkinan sisa paket sembako ini tidak akan mencukupi sampai akhir tahun. Mengingat saat ini, pasien isoman terus meningkat dan permintaan kalurahan juga membludak. Dengan habisnya anggaran yang dikelola ini, tidak menutup kemungkinan Dinas Sosial akan mengajukan tambahan ke pemerintah.

“Sepertinya bisa (tambahan),” ujar dia.

Pada situasi seperti ini, pemerintah memang menggelontor sejumlah bantuan untuk mereka yang membutuhkan dan terdampak. Mulai kemaring 95 ribu lebih keluarga penerima BST dan PKH mendapatkan tambahan bantuan 10 kg beras dari Bulog.

Informasi yang diperoleh pula, program Bantuan Sosial Tunai (BST) juga akan diperpanjang oleh pemerintah. Saat ini juga tengah disalurkan pula bantuan sembako (BPNT) untuk puluhan ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Gunungkidul. Berbarengan pula dengan masih tersalurnya BPUM untuk pelaku usaha di bank-bank penyalur. Percepatan pencairan bantuan ini mulai dilakukan oleh pemerintah.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengatakan pihaknya telah mendapatkan laporan jika sejumlah bantuan dari pemerintah sudah mulai cair. Menurutnya bantuan yang dibwrikan ini sebagai bentuk kompensasi untuk masyarakat agar membatasi kegiatan mereka, juga sebagai bentuk upaya pemerintah membantu pemenuhan kebutuhan.

“Kami lakukan koordinasi agar bantuan-bantuan yang ada segera saja penyalurannya. Agar dapat dimanfaatlan oleh masyarakat saat masa PPKM Darurat ini,” jelas Sunaryanta.

Diharapkan masyarakat selama PPKM darurat ini mengindahkan instruksi pemerintah, membatasi mobilitas, dan lebih baik di rumah saja jika tidak ada keperluan mendesak. Sehingga penularan lebih bisa ditekan dan masyarakat bisa tenang.

“Monitoring tetap kami lakukan apa pun itu. Kemarin kita cek simbolis penyaluran bantuan beras dari Bulog, kualitasnya juga kita cek,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler