fbpx
Connect with us

Sosial

Berkah Lebaran Untuk Toko Oleh-oleh dan Penjual Bakmi Jawa

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Berkah lebaran nampaknya benar-benar dirasakan oleh para penjual oleh-oleh serta makanan khas Gunungkidul. Pada masa libur lebaran ini, dagangan oleh-oleh maupun makanan tradisional laris manis diserbu tak hanya wisatawan saja, akan tetapi juga para pemudik yang rindu dengan makanan asli Gunungkidul yang sulit mereka dapatkan di kota perantauan. Padatnya pengunjung toko oleh-oleh serta pasar makanan tradisional menjadi pemandangan yang biasa selama beberapa hari terakhir ini.

Seperti yang terlihat di salah satu pusat oleh-oleh di Desa Bandung, Kecamatan Playen. Toko yang menyediakan berbagai makanan tradisional seperti tiwul, hingga cake yang terbuat dari tepung mokaf sudah sejak beberapa hari terakhir banyak dikunjungi wisatawan serta pemudik.

Menurut pemilik toko, Sidun Tri Endarto, padatnya pengunjung tersebut secara otomatis juga membuat tokonya kebanjiran order. Barang dagangan yang dijualnya laris manis dibeli oleh para wisatawan serta pemudik. Ia mengakui, salah satu yang diminati para wisatawan dan pemudik adalah makanan yang berbahan dasar tepung mokaf. Setiap harinya, ia harus menyediakan hingga puluhan kilogram tepung mokaf guna memenuhi permintaan.

“Ada sekitar 80 kilogram tepung mokaf yang kita habiskan tiap hari,” kata Sidun, Selasa (20/06/2018) siang.

Dikatakan Sidun, selama ini pihaknya memang telah bekerjasama dengan masyarakat pembuat tepung mokaf. Sehingga dengan adanya peningkatan permintaan ini, tidak membuat pihak kesulitan untuk mencari barang dagangan.

“Kalau habis tinggal pesan lagi. Ada berlimpah sekali tepung mokaf yang dihasilkan UMKM di Gunungkidul,” beber dia.

Usaha toko oleh-oleh Sinori yang dikembangkan oleh Sidun memang cukup unik. Selain melibatkan dan menyediakan pemajangan stand UMKM gratis, pihaknya juga ikut mempromosikan tempat-tempat wisata di Gunungkidul dengan memajang foto lokasi wisata seperti pantai selatan, Goa Pindul maupun yang lainnya di kemasan oleh-olehnya.

Sementara untuk menekan harga agar tidak terlalu mahal, Sidun juga menghindari kerjasama dengan biro wisata dan semacamnya yang biasa mengutip bagian omset penjualan.

."Ada empat varian rasa yakni cake coral reef dalam kemasan kita representasi dengan foto pantai berkarang. Cake dark dalam kemasan kita pasang foto goa pindul karena roti ini gelap seperti saat kita masuk gua pindul. Sementara dua lainya Cake Green Forest mewakili wisata alam gunung dan hutan, dan Cake Violet Sunset merefleksikan spot-spot sunset menarik. Untuk oleh-oleh bisa tahan 4 hari untuk suhu normal, dan di kulkas bisa 7 hari," urai dia.

Sidun berharap ke depan, industri pengolahan tepung mokaf di Gunungkidul bisa kembali menggeliat. Saat ini, industry tepung mokaf memang cukup kembang kempis dan terancam hilang. Dari 11 lokasi yang memproduksi tepung mokaf, saat ini tinggal 2 saja yang masih beroperasi.

Tak hanya toko oleh-oleh saja yang kebanjiran pengunjung, para penjual makanan tradisional khas Gunungkidul seperti bakmi jawa juga merasakan hal yang sama. Seperti yang dialami oleh penjual bakmi jawa, Rahmanto, pemilik warung bakmi Pak Sanusi di Jalan Playen-Dlingo. Pasca Idul Fitri, warungnya memang diserbu banyak pengunjung yang sebagian besar merupakan pemudik. Para pemudik tersebut menurut Rahmanto memang sengaja memilih bakmi jawa yang menjadi cirri khas Gunungkidul sebagai ajang nostalgia.

“Ada kenaikan omset hingga 3 kali lipat dari hari biasa,” beber Rahmanto.

Lantaran permintaan sangat banyak, selama libur lebaran ini, ia memutuskan untuk membuka warung sejak siang hari. Pada siang harinya, warung dijaga sang ayah, sedangkan pada malam harinya, ia yang menjaganya.

Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar 10 ekor ayam kampung. Pengunjung terus datang seakan tak ada henti. Para pemudik tersebut ingin merasakan kekhasan bakmi jawa Gunungkidul yang memang tidak ditemukan di warung serupa di kota-kota besar. Rasa yang khas bakmi yang dijual di Gunungkidul membuat para pemudik tersebut penasaran dan menjadikan bakmi jawa sebagai makanan wajib ketika mereka pulang ke Gunungkidul.

"Alhamdulilah lumayanlah keuntungannya bisa digunakan untuk biaya anak sekolah,"imbuhnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler