fbpx
Connect with us

Sosial

Berkenalan Dengan Puji, Seniman Difabel Yang Piawai Melukis Menggunakan Lengan dan Kaki

Published

on

Panggang,(pidjar.com)–Keterbatasan fisik yang dialami oleh Puji Lestari (24) warga Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang tak lantas membuatnya menyerah. Dengan semangat yang besar, ia tak hanya sekedar meratapi nasib saja. Namun bahkan Puji juga terus berkarya. Segala pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, memasak hingga menyapu ia lakoni. Tak hanya itu, Puji rupanya juga piawai melukis. Tentu memang membutuhkan usaha tersendiri lantaran kedua tangannya tak seperti manusia normal pada umumnya. Puji sendiri piawai melukis tak hanya memakai tangan saja, namun juga memakai kaki.

Ibu satu anak ini memang memiliki keterbatasan fisik, yaitu tak memiliki telapak tangan maupun jari-jari. Keterbatasan fisik ini memang telah dialami Puji sejak lahir. Meski sempat minder dengan kondisinya, akan tetapi dengan kemauan yang kuat, ia terus bisa menjalani kehidupan yang normal seakan tanpa kekurangan. Saat ini, kehidupan Puji bisa dianggap cukup lengkap dengan kehadiran suami serta anak yang sangat menyayanginya.

Kepada pidjar.com, Puji tak menyesali dengan kondisi disabilitas yang ia alami. Justru semakin hari, ia semakin bersyukur karena berkah yang seakan menaungi kehidupannya. Termasuk yang paling disyukurinya adalah kehadiran keluarga kecilnya yang melengkapi hidupnya.

Diceritakan Puji, awal pertemuannya dengan suaminya, Budi adalah ketika ia tengah berjualan di depan rumah. Saat itu, ia sempat kaget lantaran Budi dengan berani meminta nomor telfonnya. Komunikasi intens yang berlangsung diantara keduanya membuahkan benih-benih cinta. Budi kembali mengagetkan Puji lantaran selepas lulus SMP, ia kemudian mengajaknya menikah.

“Ya saya mau karena memang sudah cinta dan sayang,” ucap Puji, Selasa (26/01/2021).

Yang membuatnya jatuh hati kepada suaminya adalah sikap Budi yang tak pernah mempermasalahkan kondisi fisiknya yang tak normal. Bahkan, hingga sejak awal usia pernikahan hingga saat ini, sang suami dengan sukarela dan sabar tetap giat dan sabar membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

“Sejak pacaran sampai sekarang punya anak satu, mas Budi selalu membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat bekerja,” tutur dia.

Dilanjutkan Puji, sebenarnya, hobi melukisnya ini sudah ia tekuni semenjak remaja. Namun saat memiliki anak, dirinya kemudian memilih fokus untuk mengurus putri kecilnya. Hingga kemudian sang putri berusia 5 tahun, ia diizinkan oleh sang suami untuk kembali menekuni dunia lukis. Hobi melukis ini sendiri dilakukan Puji di sela-sela menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.

“Saya suka sekali ekspresif naturalis dalam melukis, lukisan keindahan alam menjadi hobi saya,” kata putri ketiga pasangan Tubar dan Mujiyem ini.

Tak seperti pelukis pada umumnya, Puji memang harus menggunakan usaha lebih dalam berkarya. Puji kebanyakan melukis menggunakan lengannya. Namun jika terkadang lengannya merasa letih, baru kemudian ia menjepitkan kuasnya di kaki kanan dan kemudian melukis menggunakan kaki. Jiwa seni Puji memang cukup besar, sehingga tak heran, meski hanya menggunakan lengan maupun kaki, hasil lukisannya sangat indah.

“Ya biasanya saya kaitkan di tangan, tapi suka kaku, pegel juga terus saya pindah ke kaki,” ujar Puji.

Wanita yang sangat mengidolakan Affandi tersebut mengatakan, ingin terus berkarya dalam melukis. Bahkan, ia memiliki impian besar untuk bisa mengenalkan Girisekar ke dunia melalui lukisannya.

“Jadi memang waktunya masih terbatas, baru ada lima lukisan yang selesai saya buat setelah saya kembali melukis,” sambungnya.

Dalam membuat satu lukisan ia membutuhkan waktu lima hari. Ia meminta bantuan Iwan Setiawan (42), guru SLB saat ia sekolah dulu untuk membuatkan sketsa gambar.

“Memang saya melihat bakat dia sejak bangku sekolah, sampai gambarnya jadi pajangan di sekolah. Namun sempat terjeda pas Puji menikah dan punya anak, ia berhenti melukis,” papar Iwan.

Iwan ke depan berniat untuk mengenalkan Puji kepada sejumlah pelukis ternama di Gunungkidul. Ia berharap, ilmu Puji akan semakin banyak dan menemukan jati dirinya dalam bentuk lukisan.

“Memang anak ini meskipun di bawah keterbatasan tapi keinginan untuk berkarya sangat kuat,” pungkas Iwan.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler