fbpx
Connect with us

Politik

Budayawan: Kalau Mau Jadi Bupati Gunungkidul, Uang Saja Tidak Cukup

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Pada 2020 mendatang Gunungkidul, bakal menghelat pesta demokrasi pemilihan umum kepala daerah (Pilkada). Sejumlah tokoh yang muncul nampaknya secara perlahan mulai membangun kedekatan dengan masyarakat. Banyak muncul spekulasi terkait permodalan baik uang, ketokohan maupun popularitas menjadi penentu terpilihnya sosok tersebut menggantikan kursi yang selama ini diduduki Badingah.

Budayawan Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan, dalam sejarah, Bupati yang terpilih di Gunungkidul dari periode ke periode ialah dia yang dekat dengan rakyat. Dalam hal ini, figur ketokohan serta jiwa sosialnya di masyarakat menjadi hal yang pokok bagi calon kandidat.

“Selama ini ketokohan responnya bagus, tetapi pemilih mudah berubah ketika melihat kandidat yang dekat dengan pemilih. Visi misi akan kalah dengan kedekatan tersebut,” ujar CB kepada pidjar.com, Selasa (16/10/2019).

Kedekatan yang dimaksud, lanjut CB salah satunya adalah terjun langsung dalam kegiatan sosial. Dalam hal ini ia mencontohkan adalah calon mau turun menyapa warga ketika ada salah satu warga yang meninggal dunia.

“Melayat misalnya, kalau hal-hal seperti itu saja tidak datang ya bagaimana mau dekat,” ujarnya.

Hal itu menurut CB Supriyanto tidak hanya terjadi ketika Pilkada saja. Ia mengambil contoh ketika pileg tahun ini, banyak tokoh populer kalah dengan calon anyar yang mampu membangun kedekatan dengan masyarakat.

Berita Lainnya  Jelang Pemilu 2019, KPU: Tokoh Agama Sebaiknya Tidak Ada Keberpihakan

Selain dengan ketokohan serta kedekatan dengan masyarakat, kekuatan finansial juga menjadi hal penting. Namun begitu, kekuatan uang bukan segalanya untuk meraih kursi pemimpin di Gunungkidul.

“Calon itu bakal dipilih kalau ada kedekatan, punya modal sosial tinggi itu banyak dukungan. Kalau untuk Pilkada, uang itu penting tapi bukan segalanya,” ungkap dia.

Sementara itu, salah satu pengamat politik di Gunungkidul, Rino Caroko mengungkapkan hal yang tidak jauh berbeda. Namun menurutnya, kekuatan dari partai politik pengusung juga menjadi hal yang penting.

“Ketokohan, popularitas, finansial dan kendaraan politik itu menentukan kemenangan. Saat ini menurut saya, uang bukan satu-satunya modal kemenangan untuk menjadi Bupati di Gunungkidul,” paparnya.

Rino menjelaskan, setidaknya ada dua partai politik yang bakal berpeluang meramaikan pilkada. Partai tersebut yakni PDIP dan Nasdem. Rino menyebut, dua partai itu lantaran dalam pileg kemarin mampu memperoleh suara yang luar biasa di Gunungkidul.

“Kendaraan politik ini penting. Jika dilihat dari kemarin saingan antara Nasdem dan PDIP itu bakal ramai. Mereka punya basis massa yang kuat dan cukup banyak,” kata Rino.

Rino berpendapat, saat ini parpol tidak melakukan seleksi siapa yang akan diusung menjadi Bupati. Karena, saat ini sangat berpeluang, partai politik melihat calon hanya dari kekuatan finansial.

Berita Lainnya  Digugurkan KPU, Puluhan Bacaleg Bermasalah Tak Bisa Ikut Pemilu 2019

“Uang itu penting, untuk menyelesaikan dalam internal partai serta juga untuk kegiatan kampanye mengumpulkan massa. Tapi jangan-jangan parpol salah pilih hanya karena finansial, ketokohan popularitas tidak diperhitungkan,” terang dia.

Ia khawatir, budaya seperti ini menjadi penyubur pragnatisme money politik di masyarakat. Karena menurutnya, muasal money politik sendiri berasal dari partai politik.

Rino juga mengkhawatirkan, partai politik memaksakan seseorang menjadi tokoh. Selain itu, dirinya juga menyoroti adanya dua anggota TNI aktif yang terjun langsung dalam politik praktis.

“Ada orang yang dipaksa menjadi tokoh, dia memproklamirkan dia tokoh maju politik praktis. Padahal aturannya jelas, TNI aktif itu secara aturan tidak boleh turun ke politik praktis. Dalam kontek ini dalam politik praktis, begitu dia terjun komunikasi dengan parpol mendukung dan itu diterima. Jelas tidak bisa, hal-hal sekecil itu harus dipahami,” bebernya.

Dengan adanya calon dari anggota TNI aktif ini yang mulai menabrak aturan akan dibawa dalam pemerintahannya nanti. Sehingga akan banyak aturan yang bakal ditabrak demi kepentingan tertentu.

“Mungkin mereka bisa berdalih bahwa hanya pendekatan dengan masyarakat. Tetapi setahu saya, seperti AHY itu lo, dia mundur dulu baru terjun, mereka kenapa tidak bisa mencontoh itu. Kalau mau maju, mundur dulu baru politik praktis,” terang Rino.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler