fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Danais Ikut Dipotong 35 Persen Untuk Penanggulangan Covid-19

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Sejak fokus dalam penanganan covid 19 pemerintah melakukan refocusing anggaran. Dimana anggaran tersebut dimanfaatkan untuk penanganan dan penanggulangan virus ini. Tidak hanya anggaran yang bersumber dari APBD maupun APBN, melainkan dana keistimewaan yang dikelola oleh sejumlah organisasi perangkat daerah pun juga dilakukan pemotongan. Sebanyak 35 persen dari total anggaran yang ada dipotong untuk penanganan covid 19.

Kundha Pati Kundha Kabudayan, Agus Kamtono mengatakan, dari total dana keistimewaan yang dikelola, terpotong 35 persen untuk penanganan covid 19. Hal ini menurutnya dilakukan untuk berkontribusi dalam penanganan wabah yang membutuhkan anggaran besar. Sejak awal adanya refocusing itu kundha kabudayaan langsung melakukan tindak lanjut.

Sebenarnya, dana keistimewaan tersebut telah diplotkan untuk berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan yang bisa dibiayai menggunakan danais. Dengan mewabahnya covid 19, sejumlah agenda besar yang telah direncanakan ada yang batal maupun ditunda pelaksanaannya.

“Ada pemotongan sebesar 35 persen dari total anggaran danais sekitar 12 miliar rupiah,” kata Agus Kamtono, Minggu (19/07/2020).

Ditengah penerapan new normal ini, kegiatan yang semula terhenti seperti pertunjukan kesenian kemudian diselenggarakan kembali. Akan tetapi pelaksanaannya berbeda, dimana pemerintah melakukan kegiatan kesenian secara virtual. Langkah ini diambil untuk memberikan hiburan bagi masyarakat.

Berita Lainnya  Diburu Investor Dalam dan Luar Negeri, Kawasan Peruntukan Industri di Semin Akan Diperluas

“Jadi kita lakukan pertunjukan seni secara virtual. Bisa dilihat di channel youtube yang telah tersedia,” jelasnya.

Dalam pelaksaan pertunjukan ini, juga dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan sebagaimana yang menjadi instruksi pemerintah. Sebagai contohnya, penari kesenian tradisional tetap harus menerapkan jaga jarak saat pentas. Kru atau tim yang berada di lokasi pun juga dibatasi dan diminta menggunakan masker.

“Semua sesuai prosedur. Ini memberikan hiburan dan tentunya ada pemasukan bagi pelaku seni,” tambah dia.

Kemudian untuk kesenian kethoprak atau kesenian yang membutuhkan tim banyak dan pemain banyak, sementara ini disesuaikan. Misalnya kethoprak yang biasanya diperankan oleh banyak orang saat ini dibatasi paling tidak pemeran hanya sekitar 6 orang, sementara pengiring music (gamelan) hanya sekitar 10 orang saja.

Lokasi yang digunakan pun juga disesuaikan dengan kondisi sekarang, luas dan tetep bisa menerapkan jaga jarak. Para pelaku seni ini, setiap tampil mendapatkan stimulan dari pemerintah menggunakan dana keistimewaan tersebut.

Berita Lainnya  Bakal Terus Dibangun, Pemkab Berambisi Buat Pasar Argosari Jadi Pasar Megah Berfasilitas Lengkap

“Harapannya ini hanya sementara sembari menunggu kondisi membaik. Jadi kegiatan seni nanti bisa jalan seperti biasa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Gunungkidul, Agus Subaryanto mengatakan gedung taman budaya yang dibangun di wilayah Siyono, Kapanewon Playen saat ini masih tetap berlanjut. Untuk pembangunan tahun ini dana keistimewaan yang dikucurkan mencapai 70 miliar rupiah.

“Kalau untuk pembangunan masih berlanjut. Progressnya bangunan sudah berdiri 70,53 persen sampai pada akhir Juni lalu,” ucap Agus Subaryanto.

Selama pandemi terjadi, dari tim sendiri tidak diperkenankan menambah jumlah pekerja, hal ini untuk mengantisipasi penyebaran covid 19. Untuk di awal mewabahnya covid saat itu, memang pembangunan agak sedikit terhambat, ada beberapa komponen yang terhambat karena barang tersebut harus impor dari Negara lain.

“Kalau sekarang sudah mulai normal,” tutup dia.

 

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler