fbpx
Connect with us

Sosial

Derita Warga Kayuareng Pasca Pembangunan Reservoir Ratusan Juta, Air Justru Tak Mengalir

Diterbitkan

pada tanggal

Rongkop,(pidjar.com)–Warga Padukuhan Kayuareng, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop harus menelan pil pahit. Harapan warga untuk mendapatkan suplai air yang lebih lancar justru berujung petaka. Sudah sekitar sudah tiga minggu ini warga tak mendapatkan pasokan air. Sebuah hal yang ironis mengingat hal ini dirasakan warga sejak pembangunan reservoir bak penampungan air di puncak tertinggi Padukuhan Kayuareng senilai ratusan juta. Padahal sebelum pembangunan bak penampungan tersebut, warga bisa mendapatkan pasokan langsung dari sumber yang ada di Seropan.

“Setelah dibangunnya reservoir, air dari Seropan dinaikkan ke bak yang dibangun KKM Tirta Rata Desa Pucanganom di atas Kayuareng, setelah penuh langsung dialirkan kepada masyarakat. Faktanya sekarang malah tak lancar, masih lebih bagus beberapa bulan lalu sebelum pembangunan bak penampungan,” ungkap Tukimin, Ketua RT 02 Kayuareng kepada pidjar.com, Selasa (03/11/2013).

Lebih lanjut dijelaskan Tukimin, bak penampungan yang dibuat KKM Tirta Rata berkapasitas 40 kubik, padahal jumlah kepala keluarga di Kayuareng berkisar 50-an KK. Hal ini membuat distribusi air tidak merata dan tak mampu memenuhi kebutuhan warga masyarakat secara keseluruhan.

“Saat ini warga yang berada tepat dibawah reservoir malah tidak dapat teraliri air. Jadi kami harus mengambil air ke atas tampungan dengan ketinggian 100 meter, atau minta kepada warga yang airnya mengalir,” ujar dia.

Menurutnya, bak reservoir yang berada di atas bukit mengandalkan gaya gravitasi bumi dan tidak menggunakan pompa air untuk menyalurkan ke rumah-rumah warga. Sesuai gaya gravitasi, maka air akan mengalir ke titik terendah dan tak menjangkau ke sebagian besar rumah warga. Berbeda dengan sebelum dibangun bak penampungan dahulu, air dari Seropan disedot menggunakan pipa dan langsung tersalur ke rumah-rumah pelanggan.

Berita Lainnya  Akibat Korsleting Aliran Listrik, Kebakaran Hanguskan Rumah Semi Permanen di Selang

“Nah pasca dibangun itu saluran pipa diputus dan kami hanya bisa mengandalkan saluran dari bak penampungan yang ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” keluhnya.

Padahal, pembangunan bak di atas Padukuhan Kayuareng tersebut merupakan proyek Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Adapun sumber dana sendiri berasal dari APBN Rp. 245.000.000,-, APBDes Rp. 35.000.000,-, In Cash Rp. 14.000.000,- dan In Kind Rp. 56.000.000.-. Artinya, tujuan pembangunan bak reservoir itu adalah untuk mempermudah pelayanan kepada masyarakat lewat KKM Tirta Rata Desa Pucanganom justru tidak tercapai. Apa yang terjadi saat ini, pembangunan bak tersebut malah merepotkan warga.

Sedangkan menurut Sar (red-inisial), warga Kayuareng lainnya, saat ini warga justru merasa dirugikan dengan keberadaan bak reservoir itu.

“Ceritanya dulu ada pemasangan jaringan perpipaan dari Bedoyo ke Pucanganom menggunakan anggaran entah PPIP atau PNPM saya sudah lupa untuk mengalirkan air ke 4 padukuhan yakni Kayuareng, Slawu, Tejo dan Dengok,” kata Sar.

Untuk mengelola itu, dibentuklah warung air yang bertugas mengelola distribusi air ke 4 padukuhan. Harga per kubik dinaikkan oleh pengelola warung air menjadi Rp 8000,-/m3. Angka tersbut tentu saja lebih tinggi dari dari harga tarif air minum PDAM Tirta Handayani yang hanya Rp. 3.750,-.

“Harga yang dinaikkan itu awalnya sudah kesepakatan, yakni untuk membayar tagihan ke PDAM Tirta Handayani sisanya untuk gaji karyawan, ongkos perbaikan termasuk mengisi kas di 4 padukuhan, dan itu berjalan hingga saat ini,” lanjutnya.

Namun kendati sudah membayar lunas, ternyata distribusi air ke padukuhan-padukuhan tak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Bahkan disinyalir ada indikasi penyimpangan yang dilakukan oknum-oknum pengurus warung air dibuktikan dengan tidak adanya laporan keuangan setiap tahun.

Berita Lainnya  Ambisi Masyarakat Kemadang Wujudkan Gunungkidul Bebas Garam Impor

“Yang dipersoalkan warga sekarang adalah ketidakjelasan pengelolaan air termasuk adanya beberapa orang yang bertahun-tahun tidak membayar tagihan. Belum lagi pembangunan yang tidak tepat sasaran,” papar Sar.

Ketika dikonfirmasi, Kasi Kesejahteraan Rakyat Desa Pucanganom, Yono, proses pembangunan bak reservoir itu sudah sesuai dengan kehendak dan permintaan warga Kayuareng.

“Penyebabnya bukan pada reservoir, tapi sudah ada pemberitahuan dari PDAM Tirta Handayani yang menyatakan bahwa dalam 3 bulan ke depan memang ada kerusakan salah satu mesin di Seropan. Hal ini berpengaruh terhadap distribusi air ke warga. Nah reservoir itu sendiri hanya bersifat pertolongan tatkala distribusi telat suplai. Dan secara teknis non teknis lancar tidaknya air itu bergantung kepada distribusi PDAM,” jelas Yono.

Di sisi lain diungkapkan Ngatimin, Ketua KKM Tirta Rata Pucanganom, posisi pengelolaan distribusi air saat ini masih ditangani warung air atau KPP.

“Tugas KKM Tirta Rata masih sebatas membangun bak PAH atau reservoir itu. Belum ada serah terima pengelolaan dari pengelola lama yakni KPP dibawah pimpinan Pak Ahmad Kamsori kepada saya. Dan harap dicatat, saya hanya mau serah terima jika kondisi pengelolaan keuangan sudah beres semua. Jika belum beres, saya tidak mau. Sebab itu akan bersentuhan dengan aparat penegak hukum,” tegas Ngatimin.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler