Budaya
Dibangun Dengan Joglo Wah, Balai-balai Padukuhan di Ngawen Ini Jadi Yang Termewah di Gunungkidul
Ngawen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Joglo merupakan rumah adat Jawa. Di mana pada setiap sudut dan perintilan bangunan rumah jenis ini memiliki filosofi serta nampak megah. Di Kapanewon Ngawen, saat ini banyak dibangun Joglo-joglo megah untuk fasilitas umum khususnya sebagai bangunan balai padukuhan. Dengan bangunan yang relatif megah dan fasilitas yang memadai, balai-balai ini mulai dimanfaatkan masyarakat untuk menggelar berbagai macam kegiatan.
Ada sekitar 5 padukuhan di Kapanewon Ngawen yang memiliki bangunan balai padukuhan berbentuk Joglo yang megah nan kokoh. Tak hanya swadaya masyarakat yang luar biasa, namun bantuan dari berbagai sumber merealisasikan mimpi masyarakat untuk memiliki Joglo megah ini. Bisa dibilang, balai padukuhan di Kapanewon Ngawen ini menjadi salah satu yang termewah di Gunungkidul.
Adapun beberapa lokasi yang memiliki bangunan Joglo sebagai Balai Padukuhan yaitu Padukuhan Cikal, Sabrang, Sambirejo, Kalurahan Watusigar, dan Padukuhan Jurangjero, Kalurahan Jurangjero, Kapanewon Ngawen. Selain Joglo kokoh nan megah juga berdiri di taman Wisata Soka.
Kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Angga Sandy Farisma yang merupakan salah satu donatur terbesar mengatakan, pihaknya memang sengaja menyebar bantuan sejumlah Joglo di wilayah Kapanewon Ngawen. Dipilihnya joglo yang bahkan terhitung mewah dan bagus ini, karena selain ingin memberikan fasilitas umum kepada masyarakat, juga untuk melestarikan rumah adat jawa yang mulai ditinggalkan.
Ia melihat, pamor Joglo mulai kalah dengan bangunan modern. Bahkan saat ini, justru banyak joglo Gunungkidul yang dijual hingga keluar daerah.

“Sebenarnya beberapa lokasi ini sudah memiliki bangunan balai padukuhan akan tetapi memang perlu renovasi. Kebetulan arahnya sama, kami memiliki keinginan untuk nguri-uri budaya Jawa yang mana salah satunya identik dengan rumah adat yakni Joglo maka balai padukuhan kami bangun sebuah Joglo,” kata politisi muda Gerindra ini.

“Budaya harus dilestarikan, sebagai generasi penerus tentu jangan sampai tidak mengentahui apa yang jadi warisan leluhur salah satunya ya rumah adat. Jawa memiliki rumah bentuk Joglo, Limasan, dan Kampung,” tuturnya.
Berkaitan dengan bantuan Joglo ini diupayakan akan bertambah tentunya disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang dimiliki. Selain nilai budaya diharapkan ada nilai edukasi dan kebersamaan atas bantuan yang diberikan tersebut.
“Kalau gambarannya saya ingin ada sentra jadi kalau mau lihat Joglo ya di Kalurahan Watusigar, mau lihat bangunan Limasan di Kalurahan Beji, jenis bangunan Kampung di wilayah mana. Nilai edukasi dan budayanya ada,” jelas dia.
Ia mengatakan, selain bantuan bangunan Joglo ada beberapa jenis bantuan lain yang ia berikan untuk kebersamaan warga Kapanewon Ngawen. Sebagai contohny adalah lapangan olahraga di Padukuhan Daguran Lor yang saat ini masih dalam proses pembangunan.
Apa yang ia berikan ini tak lepas dari swadaya masyarakat setempat. Ia sangat berterimakasih atas sambutan warga Ngawen yang luarbiasa dan berantusias untuk lebih maju serta bersama melestarikan buaya yang ada.
“Antusias masyarakat luar biasa sekali,” dia.
Sementara itu, Dukuh Sambirejo Kalurahan Watusigar, Etik menambahkan, saat itu kondisi bangunan balai Padukuhan di wilayahnya memang membutuhkan renovasi. Saat dilakukan koordinasi (rapat) bersama warga memang disepakati untuk dilakukan pembangunan dengan swadaya masyarakat serta beberapa donatur. Sesuai dengan keinginan masyarakat yang memiliki pusat kegiatan yang representatif dan memiliki nilai budaya maka dibangun Joglo yang dibantu oleh beberapa pihak salah satunya Sumanto dan anaknya, Angga yang merupakan tokoh asli.
“Dulu bebarengan dengan perubahan nomenklatur Desa menjadi Kalurahan, Kapanewon menjadi Kecamatan dan beberapa aturan yang ada. Di mana sekarang terkait dengan pemerintahan ada yang kembali menggunakan nomenklatur lama dan mengedepankan budaya Jawa, masyarakat memiliki keinginan memiliki balai padukuhan yang memiliki budaya Jawa. Saat itu kami lakukan komunikasi dengan berbagai pihak, swadaya masyarakat disokong oleh bantuan pak Sumanto dan beberapa donatur lainnya,” papar dia.
“Alhandulillah sekarang Joglo sudah berdiri dan digunakan untuk kegiatan masyarakat. Tinggal beberapa finishing saja, tapi untuk bangunan sudah berdiri dan digunakan,” tutupnya
-
Info Ringan4 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan3 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Kriminal1 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa5 hari yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 hari yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Peristiwa3 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Pemerintahan22 jam yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa3 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Uncategorized3 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
