fbpx
Connect with us

Sosial

Diwarnai Tanjakan dan Tikungan Ekstrim, Banyak Kendaraan Mogok di Jalur Alternatif Ini

Published

on

Patuk,(pidjar.com)–Pada saat musim liburan, jalur utama Jogja-Wonosari selalu diwarnai kemacetan. Sejumlah titik, terutama di lokasi obyek wisata, traffic light maupun persimpangan memicu terjadinya antrian kendaraan hingga sepanjang 1 sampai 2 kilometer. Akibat jumlah kendaraan yang membludak tersebut, kendaraan hanya bisa melaju dengan kecepatan sangat rendah.

Melihat kenyataan tersebut, banyak diantara para pengguna jalan yang memilih untuk melalui jalur alternatif selain Jalan Wonosari-Jogja untuk masuk ke Gunungkidul. Namun terkadang, upaya menghindari kemacetan tersebut berujung dengan petaka lantaran ekstrimnya jalur-jalur alternatif yang ada. Tak jarang para pengguna jalan alternatif tersesat maupun kendaraannya mogok ketika melalui jalur alternatif dengan karakteristik tanjakan dan disertai dengan tikungan tajam tersebut.

Salah satu jalur yang saat ini banyak digunakan oleh para pengguna jalan adalah jalur Piyungan-Ngoro oro Patuk via Petir. Jalur ini kondisinya memang sempit ditambah medan yang cukup ekstrim. Kemiringan jalan mencapai 70 derajat dan tikungan letter S dengan sudut tikungan hanya 30 derajat membutuhkan skill pengemudi lebih ekstra serta kondisi kendaraan yang harus prima.

Jalur ini juga luput dari pengawasan instansi maupun petugas kepolisian. Beruntung pada musim lebaran ini sejumlah relawan dari RAPI, BPBD serta Karangtaruna warga setempat ikut melakukan pengawasan dengan bahu membahu mengatur lalu lintas di jalur tersebut. Mereka bekerja ekstra selama 24 jam untuk membantu pengguna jalan agar tidak terjadi kecelakaan maupun insiden di jalur ektrim.

Salah seorang relawan dari FPRB Piyungan Eka Haryanta menceritakan, kondisi jalan di sini memang sangat ekstrim. Meski pada hari biasa cukup sepi, pada musim libur lebaran ini, cukup banyak kendaraan yang melintas untuk menghindari kemacetan di jalur utama. Namun demikian, lantaran banyaknya pengguna jalan yang baru pertama kali melalui jalur ini, tak jarang terjadi insiden meski tak sampai menimbulkan korban.

“Banyak kendaraan mogok di tanjakan karena pengemudi tidak menguasai medan,” ungkapnya, Senin (18/06/2018) siang.

Mengantisipasi terjadi kecelakaan lalu lintas akibat hal tersebut, pihaknya menyiagakan personel yang selain bertugas mengatur lalu lintas, juga bersiaga melakukan ganjal ban bilamana ada kendaraan yang tiba-tiba mogok khususnya di tanjakan.

"Jalannya cukup sempit dan ekstrim sehingga kita berinisiatif untuk membuka tutup jalur, jadi para pengguna jalan harus bergantian," ujar Eka.

Untuk membantu pelintas, para relawan bahkan harus membuat rambu-rambu darurat. Rambu-rambu yang dibuat seadanya ini terpasang berkat dana patungan dari masyarakat setempat. Adanya rambu-rambu darurat ini diharapkan bisa sedikit membantu para pengguna jalur alternatif dalam mengenal medan yang akan mereka hadapi.

Eka menambahkan, meskipun medannya ekstrim dan kondisi jalan yang sempit namun jalur Piyungan menuju Ngoro-oro sangat ramai. Sebab, jalur ini termasuk jalur terpendek menuju Gunungkidul jika dibandingkan dengan melalui Jembatan Surogedug maupun Cinomati.

Sementara itu, Rohadi, warga Bantul yang ingin bersilaturahmi dengan keluarganya di Gunungkidul mengaku memilih melewati jalur Piyungan-Ngoro Oro karena jalur utama macet. Ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran relawan yang siaga mengamankan jalur tersebut. Laki-laki berkacamata ini berharap agar pemerintah memasang rambu-rambu lalu lintas serta penerangan jalan di jalur ini ke depannya agar bisa membantu para pengguna jalan seperti dirinya.

"Kalau malam sangat gelap. Jalannya juga banyak lubangnya, pemerintah harusnya meningkatkan perhatiannya terhadap jalur ini, karena vital mengatasi kemacetan,"tuturnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler