Sosial
Dera Kemiskinan Yang Dialami Tumilah, Nenek 80 Tahun Ini Pernah Ditemukan Tergeletak Lantaran Kelaparan
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi yang saat ini menjadi perhatian utama bagi warga masyarakat di Indonesia, masih cukup banyak masalah sosial yang sepertinya dilupakan selama kontestasi ini. Salah satu yang masih cukup banyak adalah potret kemiskinan yang tak juga kunjung tuntas. Tak bisa dipungkiri, saat ini masih sangat banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Seperti yang dialami oleh Tumilah, wanita renta berusia lebih dari 80 tahun warga Padukuhan Butuh RT 02 RW 06, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari ini nasibnya memang cukup mengenaskan di hari tuanya. Kemiskinan adalah hal yang harus ia alami setiap waktu. Bahkan bisa dikatakan, hidupnya harus dijalani hari demi hari saja lantaran hal tersebut.
Ia tinggal di rumah dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Dengan ukuran 6×4 meter, di rumah tersebut tidak ada ruangan yang tersekat. Jangankan layak huni, asal tak kepanasan saat matahari mulai terik, tak kehujanan saat hujan saja baginya sudah nyaman. Sampah berserakan di setiap sudut rumah. Tak ada almari pakaian dan bahkan ia tidur bersama perkakas yang entah apa isinya.
Mirisnya, selama ini di tengah deraan kemiskinan yang ada, tidak ada satupun bantuan dari pemerintah yang mengalir untuk Tumilah. Untuk hidup sehari-hari ia hanya mengandalkan keponakannya, Kartini.
“Mboten gadah anak, bojo pun sedo dangu, sedulur ten Lampung, naming Kartini sing ngurus kulo (Tidak punya anak, suami sudah meniggal lama yang mengurus saya Kartini),” tutur Tumilah kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Minggu (28/04/2019).

Sejak bertahun-tahun lalu, Tumilah hanya hidup sebatang kara. Untuk kesibukannya, ia hidup bersama dua ekor kambing miliknya. Meskipun ia sudah tidak mampu mencari dedaunan untuk makan kambingnya, ia bersikukuh untuk tetap memelihara kambing.
“Ngge konco, duwen-duwen ben ora nyenyet (Untuk teman, punya agar tidak sepi),” kata Tumilah lanjut.

Di usia yang renta, ia sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan seperti memasak ataupun mencuci. Pendengaran juga sudah mulai berkurang, bahkan untuk berjalan pun ia sudah tidak mampu. Pernah sekali dia ditemukan tergeletak di dekat rumahnya karena kelaparan.
“Pernah suatu ketika tetangganya menemui Mbah Ilah (sapaan Tumilah) tergeletak lemas tak berdaya, setelah saya bikinkan teh dan makan, dia bugar kembali,” kata keponakan Tumilah yang selama ini merawatnya, Kartini.
Jangankan fasilitas kesehatan, tanpa Kartini ia sudah tidak lagi mampu untuk menghidupi dirinya sendiri. Kartini sendiri mengaku tidak merasa keberatan untuk merawat Tumilah.
“Dulu saat masih sehat ya akrab sering main ke rumah saya, kasihan saja kalau tidak ada yang merawat begini. Akhirnya saya kalau pagi sama sore saya ke sini bawa makanan, saya tidak keberatan merawat simbah, tapi kambingnya ini saya merasa kesulitan. Saya belikan pakan setiap harinya ya gimana lagi simbah bersikukuh untuk tidak menjual,” ucap Kartini.
Dikatakan Kartini, beban untuk merawat Tumilah sebenarnya tidak begitu berat. Beruntung bersamanya, banyak warga sekitar yang berinisiatif untuk memberikan bantuan berupa makanan, dan sesekali baju untuk Tumilah.
“Ya walaupun pemerintah tidak membantu apapun tapi warga di sini swadaya, seperti perbaikan rumah itu juga warga, biasanya warga kalau mau bantu dikasihkan ke saya, karena Tumilah ini tidak semua barang bantuan warga sekitar langsung diterima,” kata Kartini.
Sementara itu, Dukuh Butuh, Sarjana mengatakan, ia sudah mengusahakan bantuan untuk Tumilah. Namun hingga saat ini, tidak ada satupun bantuan yang mengalir dari pemerintah untuk Kartini.
“Seperti bantuan PKH ini juga kami ajukan tahun 2017 lalu tapi sampai sekarang tidak lolos pengajuan,” kata Sarjana.
Ia menceritakan, selain swadaya masyarakat sekitar Tumilah hanya mendapatkan bantuan dari organisasi sosial Desa Pulutan. Bantuannya pun terbilang sangat kecil yaitu Rp. 50.000, – setiap bulannya.
“Untungnya warga disini ya banyak yang peduli, kalau hujan terus air masuk kami kerja bakti agar genteng di atas ini tidak bocor,” pungkasnya. (Ulfah Nurul Azizah)
-
Uncategorized1 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Sosial3 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized2 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized2 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Pemerintahan3 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Uncategorized6 hari yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemuda 22 Tahun Ditemukan Gantung diri di Dapur Rumah
-
Uncategorized1 hari yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragis, Lansia di Candirejo Ditemukan Meninggal Terbakar
