fbpx
Connect with us

Peristiwa

Dua Bulan Terakhir, 240 Bencana Tanah Longsor dan Angin Kencang Terjadi di Gunungkidul

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)– Belakangan ini cuaca di Kabupaten Gunungkidul tidak menentu. Sering kali tiba-tiba hujan deras dengan durasi lama dan disertai angin kencang. Kondisi ini mengakibatkan bencana terjadi di sejumlah titik, selama 2 bulan terakhir ada ratusan bencana yang terjadi di Bumi Handayani.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Sumadi mengatakan, dari bulan Januari sampai dengan 2 Maret 2023 kemarin tercatat ada 240 kejadian kebencanaan di Kabupaten Gunungkidul. Mulai dari tanah longsor, rumah rusak karena dampak puting beliung, banjir yang mengenangi rumah warga dan kejadian lainnya.

“Mayoritas bangunan rumah dan warung yang terdampak angin kencang serta tanah longsor, kemudian fasilitas umum seperti sekolah yang terendam air, serta akses jalan dan talud yang rusak akibat longsor,” ucap Sumadi, Jumat (03/03/2023).

Berita Lainnya  Kecelakaan Beruntun di Jalan Jogja-Wonosari, 9 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Lokasi kebencanaan yang terjadi hampir merata di 18 kapanewon di Gunungkidul. Dibeberapa titik, kejadian bencana sering kali terjadi berulang.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh petugas saat itu, Kapanewon Gedangsari merupakan daerah terparah atas kejadian bencana. Di daerah ini terjadi tebing yang longsor hingga menutup akses jalanan, di lokasi itu belum dilakukan penanganan secara maksimal karena terdapat beberapa pertimbangan. Mulai dari tanah yang masih labil dan lainnya.

Terkait dengan kebencanaan di wilayah, BPBD bersama dengan relawan lainnya telah melakukan penanganan. Tim juga setiap harinya disiagakan terlebih saat hujan lebat mulai turun dan disertai angin kencang.

“Untuk kesiapsiagaan kita siapkan personil, logistik, peralatan, dan bantuan rehab rekon bagi penanganan bencana,” ucap dia.

Berita Lainnya  Laka Maut di Rongkop, Seorang Pelajar Tewas Usai Terlempar Sejauh 15 Meter di Jurang

Disinggung mengenai anggaran untuk kebencanaan, ia mengatakan telah ada anggaran yang dipersiapkan untuk penanganan bencana di Gunungkidul. Pihaknya juga berkoordinasi dengan lintas sektoral untuk penanganan jangka pendek serta penanganan untuk jangka panjang.

“Koordinasi dengan lintas sektoral tentu dilakukan, contohnya di Gedangsari itu kita koordinasi dengan DPUPRKP terkait penanganannya,” imbuh Sumadi.

Sementara itu,Aktivis Resan Gunungkidul, Edi Supadmo mengatakan, dalam kurun waktu beberapa bulan sering terjadi bencana mulai banjir hingga tanah longsor. Mitigasi bencana alam bisa dilakukan dengan kembali ramah dengan alam. Salah satunya melakukan penanaman pohon untuk mencegah longsor, banjir hingga dampak puting beliung yang meluas.

“Yang menjadi PR besar juga harus memprogramkan penataan kawasan dengan serius, kalau memang suatu kawasan dibuka untuk konservasi berarti tidak boleh ditebang dan juga kawasan ekonomi. Jenis pohonnya juga harus khusus,” ucap Edi Supadmo.

Berita Lainnya  Penemuan Mayat Wareng, Polisi Pastikan Penyebabnya Kecelakaan

Masyarakat bisa melakukan penanaman bambu untuk mencegah longsor dan beringin untuk menyimpan air. Tentunya untuk bergerak demikian perlu ada kesadaran masyarakat dan secara menyeluruh.

“Mewujudkan kesadaraan bersama pentingnya mitigasi sangat sulit. Sebab, konservasi seringkali berbenturan dengan ekonomi. Padahal di sisi lain pohon-pohon konservasi yang sering dianggap tidak bernilai justru di masa mendatang tidak akan ternilai harganya,” tutup dia.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler