fbpx
Connect with us

Sosial

Dulu Merancang Pesawat N250 Gatotkaca, Kini Nasib Jumakir Berakhir di Warung Mie Ayam

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Siapa yang tak ingat dengan momen pertama kali terbangnya pesawat kebanggan Indonesia, N250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 silam. Momentum itu menjadi tapal batas industri dirgantara tanah air. Namun siapa yang tahu, bahwa salah satu perancang dari pesawat yang dijadikan pratanda kebangkitan teknologi Indonesia terutama dalam dunia kedirgantaraan itu adalah putra Gunungkidul.

Adalah Jumakir, pria kelahiran Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul 55 tahun silam itu memiliki peran penting dalam pembuatan pesawat Gatotkaca yang kala itu begitu dibanggakan Presiden Soeharto. Namun kini nasib berbeda harus dijalani oleh lulusan terbaik PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara tahun 1989 itu.

Bukanlah jas atau setelan kemeja rapi yang ia gunakan setiap hari. Kaos dan celana jeans kini ia gunakan untuk melayani para pelanggan mie ayam di depan SPBU Tegalsari, Kecamatan Wonosari. Ya, kegelimangan ilmu Jumakir saat ini seakan tak berarti dan hanya tinggal kenangan semata.

Ketika ditemui pidjar.com, Jumakir menceritakan awal mulanya ia bisa terjun di dunia kedirgantaraan. Setelah lulus MAN Negeri Wonosari pada tahun 1985, dirinya langsung menuju Bandung untuk mengadu nasib menjadi guru agama seperti yang sebelumnya ia cita-citakan. Ia sempat melamar di beberapa sekolah, namun tak satupun yang berminat menerima jasanya. Gagal menjadi guru agama justru menjadi awal dari petualangan Jumakir.

"Hingga saya menemukan ada pendaftaran di IPTN. Tetapi karena ijazah saya SMA saya ambil yang manajemen," kata Jumakir, Kamis (22/02/2018).

Pendidikan pun ia jalani hingga empat tahun lamanya. Ketekunan serta keuletan yang ia jadikan bekal dalam mengikuti pendidikan berhasil menjadikannya siswa terbaik kala itu.

"Dari 50an siswa, saya yang dapat nomor 1. Saya lulus dengan nilai terbaik seangkatan saya," ucapnya bangga.

Prestasi yang ia peroleh membuat Menteri Riset dan Teknologi yang kala itu dijabat oleh BJ Habibie tertarik. Ia pun akhirnya direkrut dan dijadikan salah satu perancang pesawat di IPTN.

Dengan gaji pertama sebesar Rp 60 ribu, ia memulai karirnya di bidang kedirgantaraan, satu hal yang sebelumnya sama sekali tak pernah ia bayangkan

"Saya pernah menangani pesawat R16 pesawat tempur CN 235, Casa 212, N Bel 412 yang seperti helikopter berukuran besar itu," terang dia.

Hari demi hari ia lalui hingga sampai pada pembuatan pesawat Gatot Kaca yang merupakan murni pemikiran orang Indonesia. Uji coba pertama penerbangan pesawat Gatotkaca yang sampai saat ini selalu terkenang dalam pikiran Jumakir.

Suasana tegang terasa ketika mesin pesawat mulai dinyalakan. Gemuruh pesawat terdengar. Pesawat itu melaju pelan, berputar arah kemudian mulai bergerak di landasan pacu. Kencang, semakin kencang dan akhirnya lepas landas. N-250 akhirnya terbang di atas langit Bandung.

Dalam ingatannya, saat itu momen ketegangan seluruh karyawan IPTN langsung berubah menjadi tepuk tangan riuh penuh keceriaan. Tak sedikit yang menangis haru merasa kerja keras yang selama ini dilakukan terbayar sudah.

"Semua orang saat itu tegang. Saya yang ikut merancang cuman isinya naik enggak, naik enggak. Dan ya itu lah membuat kami semua haru," terang Jumakir dengan wajah sambil mengenang.

Puncak karir sekaligus ujung kejayaan bagi Jumakir berakhir ketika masa orde baru lengser. IPTN yang pada masa pemerintahan Soeharto seakan menjadi kebanggan utama menjadi sasaran rasionalisasi yang dilakukan pemerintah era reformasi. Sebanyak 20 ribu karyawan IPTN diberhentikan, termasuk juga Jumakir.

"Sekitar tahun 2003 kalau nggak salah itu. Ketika pak Habibie lengser diganti bu Mega," kata dia.

Setelah diberhentikan, dirinya masih terus bertahan di tanah perantauan. Hingga pada tahun 2005 dirinya yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan tetap lantas pulang ke Gunungkidul.

Dalam situasi yang sulit tersebut, hasrat Jumakir untuk bisa menjadi guru kembali membumbung tinggi. Ia percaya dengan kemampuan serta reputasinya, akan ada tempat baginya di salah satu sekolah di Gunungkidul untuk berbagi ilmu.

Namun kenyataan tak sesuai mimpi. Tak ada lowongan pekerjaan yang dapat menampung segudang ilmu dan pengalamannya tersebut.

"Saya pulang terus ke Dinas Pendidikan, pengen saya jadi guru. Tapi dari dinas tidak bisa berbuat banyak," imbuh dia.

Lebih lanjut dikatakannya, beberapa sekolah pun ia tembusi. Namun alasan tidak adanya jurusan yang sejalan dengan keahlian Jumakir membuat keinginannya kembali kandas. Ia pun untuk kedua kalinya tak bisa mewujudkan cita-cita lamanya.

Setelah semua usaha dicoba dan usia yang semakin bertambah, membuat Jumakir akhirnya pasrah. Ia lalu memutuskan untuk ikut membantu kakaknya berjualan mie ayam di sebuah kios tepat di depan SPBU Tegalsari, Wonosari.

"Apa yang ada saya syukuri. Pengen sekali bisa berbagi ilmu tapi siapa yang butuh sekarang seperti tidak ada yang mau," terangnya.

Kini sang mantan pegawai teladan IPTN itu masih membuka diri bagi siapapun yang ingin mencari ilmu. Bahkan sejumlah album foto serta piagam ia simpan rapih untu digunakan sebagai sarana berbagi ilmu.

"Kalau ada yang ke sini pengen tahu saya ceritakan sambil ini saya kasih lihat foto-foto waktu masih disana," pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler