fbpx
Connect with us

Sosial

Geliat GRS Tangani Pandemi, Sempat Temukan Pasien Positif Tidur di Kandang Sapi

Published

on

Playen, (pidjar.com)–Selain peran tenaga medis, keterlibatan masyarakat dalam mengatasi penularan covid19 sangatlah penting. Idealnya, tiap-tiap kalurahan memiliki kelompok kebencanaan guna mengatasi hal tak terduga. Salah satunya adalah manakala pandemi covid19 seperti yang saat ini terjadi. Salah satu yang Gading Rescue Squad.

Salah satu yang saat ini aktif dalam kegiatan semacam ini adalah Gading Rescue Squad (GRS). GRS sendiri telah berdiri sejak tahun 2017 silam. Pada awalnya, komunitas ini disiagakan untuk melakukan mitigasi serta penanganan ketika terjadi sebuah bencana. Seperti tahun 2017 silam saat terjadinya badai siklon tropis cempaka yang menyebabkan berbagai kerusakan di wilayah Gunungkidul, GRS aktif dalam penanganan bencana tersebut.

“Awalnya terbentuk itu diinisiasi oleh 6 orang. Kebetulan banyak personil yang mempunyai latar belakang di penanganan kebencanaan,” Koordinator Lapangan GRS, Suwasono kepada pidjar.com, Rabu (07/07/2021) siang.

Saat pandemi covid19, GRS menurut Suwasono juga tetap melakukan kerja kemanusiaan ini. Bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Gading serta Puskesmas, organisasi yang dikelolanya ini banyak memberikan penanganan kepada para pasien covid19 serta pemakaman covid19. Awalnya, GRS fokus di Kalurahan Gading, namun kini banyak kalurahan lain yang kerap meminta bantuannya.

“Kalau untuk penanganan covid19, ada dua jenis pelayanan yang kami berikan. Pertama, pemantauan terhadap pasien yang sedang isoman. Kedua, pemakaman jenazah covid19,” sambungnya.

Ketika melakukan pemantauan pasien covid19 yang melakukan isolasi mandiri, GRS juga memperhatikan kebutuhan dasar pasien serta memantau perkembangan kesehatan. Selain itu, GRS tidak mengucilkan pasien covid19 yang sedang isoman. Cara ini diklaim dapat meningkatkan kesembuhan pasien covid19 di wilayahnya. Menurut data, saat ini di Kalurahan Gading terdapat 5 pasien yang sudah akan menyelesaikan isoman.

Suwasono menuturkan, pihaknya tak lelah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan penyakit ini. Hal ini lantaran ada banyak masyarakat yang tidak mengetahui prosedur maupun penanganan terhadap pasien positif. Di sejumlah tempat, ia sempat menemukan adanya warga yang memilih tidur di kandang maupun dapur karena ketakutan menulari anggota keluarga lainnya. Untuk pasien positif yang isoman dan dalam hal ini tanpa ada gejala, menurutnya bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Hanya saja memang tidak diperkenankan untuk melakukan interaksi dekat dengan orang lain.

“Justru jangan mengurung diri di ruangan dengan sirkulasi udara yang terbatas. Tetap boleh beraktifitas seperti duduh, ngarit atau bercocok tanam,” papar dia.

“Pasien yang terpapar covid19 dan sedang isoman itu sudah menanggung beban psikis. Jangan sampai ada perilaku yang justru akan menambah stres pasien,” sambungnya.

Dalam hal pemakaman pasien covid19, pihaknya turut memberikan edukasi tentang protokol pemakaman pasien covid19 kepada relawan di kalurahan lainnya. Menurutnya, terdapat beberapa Kalurahan yang belum memiliki tim relawan serta minimnya pengetahuan tentang pemakaman pasien covid19.

“Seperti di Kalurahan Logandeng yang awalnya takut untuk melakukan pemakaman pasien covid19. Setelah kami beri edukasi serta pelatihan, sekarang di sana sudah berani,” jelasnya.

Sebagai tim relawan, tiap harinya GRS selalu siaga 24 jam apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Selama bulan Juni 2021 lalu, GRS telah memakamkan 9 jenazah dengan protokol kesehatan.

“Sekecil apapun yang bisa kami lakukan, itu atas dasar rasa kemanusiaan. Semoga dapat membantu pemerintah serta Satgas penanganan covid19 Gunungkidul,” pungkasnya. (Roni)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler