Pemerintahan
Kurun Waktu Setahun, Penyusutan Lahan Pertanian Untuk Pembangunan Capai Ratusan Hektar
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pembangunan terus diupayakan pada era sekarang untuk menggenjot perekonomian. Namun begitu, salah satu dampak dari pembangunan tersebut adalah mengakibatkan alih fungsi lahan. Yang tadinya lahan pertanian kemudian dijadikan bangunan ataupun infrastuktur. Terlebih, dengan semakin dibutuhkannya pembangunan, jika tidak diatur tak menutup kemungkinan alih fungsi lahan ke depan akan semakin tinggi. Di Gunungkidul sendiri, laporan alih fungsi lahan pertanian sendiri telah mencapai ratusan hektar.
Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Ari Widyastuti, menyampaikan, dari hasil pemantauan di lapangan oleh petugas, dalam kurun waktu tahun 2019 hingga 2020, total terdapat alih fungsi lahan seluas 376,6 hektare. Alih fungsi lahan tersebut digunakan untuk berbagai hal, misalnya perumahan, pembangunan jalan, bangunan kantor, penginapan, dan lainnya. Ia merinci wilayah yang paling banyak terjadi alih fungsi lahan ialah Kapanewon Wonosari dengan total 78,3 Hektare.
“Dari hasil pemantauan petugas, sudah ada 376,6 hektare lahan pertanian yang beralih fungsi,” ucapnya.
Untuk melindungi lahan pertanian sebagai penyedia pangan, pemerintah kini tengah mengajukan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Langkah tersebut untuk upaya pengembangan pertanian pangan sehingga ketersediaan pangan tidak terganggu oleh semakin tingginya aktifitas pembangunan. Ari menyampaikan jika proses penyusunan LP2B saat ini menunggu keputusan Bupati untuk selanjutnya dibawa ke provinsi dan pemerintah pusat.
“Nanti apa saja yang menjadi prioritas pembangunan dari hasil pemetaan nanti dikurangi dengan apa saja proyek-proyek strategis, seperti kawasan peruntukan industri. Sekarang baru proses SK dari Bupati,” sambungnya.
Menurutnya, dengan sudah ditetapkannya LP2B, nantinya lahan-lahan tersebut tidak dapat diganggu oleh aktifitas pembangunan karena khusus untuk ketersediaan pangan. Namun ia belum dapat merinci berapa luasan dan sebaran LP2B di Gunungkidul lantaran masih menunggu keputusan dari Bupati.
“Iya memang khusus untuk ketersediaan pangan, kalau tidak dilindungi ya mungkin habis juga,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, tak menampik jika terjadi alih fungsi lahan pertanian di Gunungkidul. Namun menurutnya hal tersebut tak berpengaruh secara signifikan terhadap pertanian ataupun ketersediaan pangan.
“Kalau saya melihatnya proporsi ya, lahan pertanian Gunungkidul itu sangat luas. Jadi pengaruhnya tidak signifikan, tidak begitu berpengaruh secara umum,” tutupnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
