fbpx
Connect with us

Sosial

Jadikan Anak-anak Sebagai Penyemangat Hidup Dalam Kelumpuhannya, Untoro Buka Bimbingan Belajar Gratis

Published

on

Purwosari,(pidjar.com)–Suara gesekan alas kaki rombongan anak-anak terdengar sayup-sayup sore itu. Mereka menuju ke sebuah rumah di wilayah Padukuhan Klampok, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari. Terlihat para bocah tersebut membawa tas maupun menenteng buku pelajaran.

Sesampai ke tujuan, mereka langsung masuk ke dalam. Memang tidak pernah ada sambutan dari sang tuan rumah, Untoro (60). Sebuah hal yang memang sudah lazim mengingat sejak puluhan tahun silam, Untoro hanya bisa beraktifitas di tempat tidurnya. Sesampai di dalam rumah, ucapan salam pun mereka lontarkan kepada sang pemilik rumah berukuran 3×4 meter yang berdindingkan triplek itu.
“Assalamualaikum Mbah Un,” ucap sejumlah anak tersebut.

Seketika pula Untoro menjawab salam mereka dengan Waalaikumsalam dari atas tempat tidurnya. Bukan karena ia bermalas-malasan ataupun sedang terbangun dari tidur siangnya. Namun ketidak sempurnaan fisik berupa kelumpuhan pada kaki dan tangannya itu membuatnya tidak bisa beraktifitas banyak.

Sesampainya di dalam rumah, satu persatu anak-anak tersebut mendekati Untoro. Mereka memegang tangannya untuk bersalaman.

Melihat keceriaan anak-anak, Untoro kemudian mencoba meraih kacamata yang tak jauh dari tempat tidurnya. Sebuah buku pun ia ambil dan ia buka.

Kegiatan belajar mengajar seperti di sekolah nampak berlangsung waktu itu juga. Dengan penuh kesabaran, Untoro mulai memberikan pertanyaan kepada anak-anak tersebut mengenai pelajaran IPA. Tak hanya itu, sesekali Untoro menyisipkan pelajaran Agama yakni mengaji dalam sesi belajar mengajarnya tersebut.

Meski mengalami keterbatasan dalam bergerak, Untoro tampak piawai mengajari anak-anak tersebut. Tampak tangannya dengan cekatan membuka halaman per halaman buku pelajaran yang hendak diajarkannya.

Untoro menceritakan, kondisi yang ia alami saat ini tidak lepas dari peristiwa kecelakaan yang ia alami saat memanggul ubi di ladang. Ia terjatuh dan kemudian membuat kedua kakinya lumpuh total akibat kerusakan pada beberapa jaringan tubuhnya.

“Jadi waktu itu saya bawa ubi, dan (ubi yang dipanggul Untoro) kesangkut pohon lalu saya jatuh ke sawah, dan sejak usia 17 tahun saya jadi lumpuh,” ucapnya saat ditemui awak media di kediamannya, Dusun Klampok, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Rabu (30/01/2019) sore kemarin.

Namun atas kejadian itu, Untoro tidak menyesalinya bahkan ia juga tidak menyalahkan siapapun. Dengan ikhlas, ia menerima kenyataam hidup yang harus ia jalani hingga saat ini.

“Jadinya saya cacat seumur hidup, mungkin sudah takdir saya dan saya terima itu,” imbuh Untoro.

Kelumpuhan yang diderita tak lantas menyurutkan semangatnya dalam menjalani hidup. Tak hanya sekedar hidup saja, dengan segala keterbatasan, ia tetap ingin berguna bagi orang lain.

Setiap hari, anak anak yang mendatangi rumahnya ia jadikan semangat dalam hidupnya. Hingga suatu ketika Untoro menanyakan kepada anak-anak yang datang ke rumahnya perihal pendidikan.

“Kan banyak anak-anak yang main ke sini (rumah Untoro), waktu itu saya tanya kok nggak masuk sekolah? Dijawab mereka libur mbah, dan saat itu ada anak yang minta diajari pelajaran sekolah, dia tanya gini, Simbah kalau ngajari saya masih bisa?, ya saya jawab ‘coba bawa sini bukunya, dicoba sama-sama’,” urai dia.

Lebih lanjut, Untoro mengakui bahwa sebenarnya ia tidak memiliki background pendidikan guru. Bahkan pendidikan yang dienyamnya hanya sampai bangku kelas 2 SMP. Dulunya ia terpaksa putus sekolah lantaran kelumpuhan yang ia alami. Akan tetapi, melihat semangat anak-anak untuk belajar membuat pria murah senyum ini terpanggil untuk mengajar anak-anak tersebut.

Aktifitas tersebut, ia akui telah berlangsung puluhan tahun sejak 1985 silam. Menurutnya, menuntut ilmu sembari berbagi pengetahuan merupakan hal wajib yang harus dilakukan.

“Istilahnya itu saya ikut belajar juga, dan mengajarkannya kepada anak-anak. Karena menurut saya menuntut ilmu itu wajib. Untuk yang saya ajari mulai anak-anak SD sampai SMP juga ada,” ujar Untoro.

Diakuinya, dari belajar bersama itu ia mulai mendapat ilmu yang banyak untuk selanjutnya disalurkan kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, karena banyaknya anak-anak yang belajar ke rumahnya ia menerima banyak bantuan buku pelajaran untuk dipelajarinya.

Tak hanya pelajaran Sekolah seperti Matematika dan IPA saja, Untoro juga mengajarkan anak-anak ilmu Agama dengan mengajak mengaji bersama.

“Mengajari Agama dan ngaji itu dimulai sedikit-sedikit, karena saya belajar sendiri dan tidak ada yang mengajari. Setelah bisa, saya sering menyisipkannya (ilmu agama dan mengaji) di setiap belajar mengajar setiap sore,” katanya.

Untoro menambahkan, setiap harinya, jumlah siswa yang hadir tidak menentu. Pun dengan jumlahnya, dirinya tak begitu mengetahui jumlah pastinya. Namun menurutnya, anak-anak yang pernah belajar di rumahnya kini sudah banyak yang mentas, bahkan ada yang sudah menjadi guru.

“Untuk murid banyak, ada yang sekarang sudah berkeluarga dan jadi guru juga. Mereka juga masih sering ke sini untuk nengok saya,” ucapnya.

Namun, diakui Untoro, karena kondisi tubuhnya yang tidak selalu sehat, sesekali ia meliburkan kegiatan belajar mengajar tersebut. Namun begitu, tetap saja ada yang datang untuk sekedar bertemu dan melihat kondisi Untoro.

“Ya pernah saya liburkan juga karena sakit, tapi malah setelah itu saya dibelikan obat sama mereka,” katanya.

Disinggung mengenai biaya yang dibebankan kepada anak-anak yang diajarinya setiap sore, Untoro mengaku sama sekali tidak mengenakan biaya sepeser pun. Menurut Untoro, hal itu karena ia mengajari anak-anak dengan rasa ikhlas, selain itu agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam hal yang negatif.

“Tidak ada, tidak (biaya mengajari anak-anak), mereka mau datang dan belajar saja saya senang, yang penting anak-anak rajin belajar, karena menuntut ilmu itu wajib,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu murid Untoro, Raisya Dwi Aryani (9) mengatakan, bahwa ia sudah sering datang ke rumah Untoro untuk belajar. Ia biasanya datang bersama dengan teman-temannya pada sore hari.

“Ya senang saja, bisa kumpul sama teman-teman dan belajar sama-sama,” ujar siswi kelas 3 SD ini.

Untoro Juga Mengenalkan Ilmu Kebudayaan kepada Anak-Anak

Anak-anak yang datang ke rumah Untoro tidak hanya membuat anak-anak tidak hanya mendapatka tambahan ilmu pengetahuan di mata pelajaran saja. Namun Untoro juga mengenalkan budaya sejak dini. Ia kerap menghibur anak didiknya dengan hiburan berupa pewayangan yang ia buat sendiri.

Di tengah-tengah kegiatan belajar mengajar, Untoro sesekali mengambil sebuah wayang sembari menyanyikan tembang Jawa yang berisi nasehat kepada anak-anak yang tengah belajar di rumahnya.

Anak-anak pun memperhatikan setiap gerak tangan Untoro sembari mendengarkan tembang mocopat yang dilantunkan pria difabel tersebut. Selang beberapa menit, Untoro kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajar dan menutup kegiatan tersebut.

Untoro memang sengaja menyisipkan hiburan pewayangan dalam kegiatan belajar mengajarnya. Ia beralasan, banyak ilmu-ilmu yang dapat dipetik dari kebudayaan.

“Wayang ini untuk hiburan saja, ceritanya biasanya Goro-goro dan nanti saya nembang Jawa. Jadi biar anak-anak dapat pendidikan tentang apa itu mocopat,” ujar Untoro.

Untoro mengaku, sejumlah wayang yang ada sebagian memang ia buat sendiri, kemudian sebagian lagi dibantu oleh anak didiknya. Untuk bahan pembuatan tokoh pewayangan, Untoro memanfaatkan pembungkus rokok yang ia gambari sendiri dan nantinya dipotong lalu dipasangi kayu kecil sebagai pegangan saat menghibur anak-anak.

“Ini saya bikin sendiri, seperti bikin wayang punokawan (Gareng, Semar, Petruk dan Bagong) untuk cerita goro-goro ke anak-anak. Dulu anak-anak suka bawain gambar wayang untuk saya tiru saat digambar, tapi karena dari dulu suka wayang saya kan sudah hafal tokoh-tokohnya siapa,” ujarnya.

Sementara itu, warga setempat, Margono (54) mengatakan bahwa 2 dari 3 anaknya telah lama ikut belajar gratis dengan Untoro. Ia pun mengapresiasi sistem belajar yang dipakai Untoro, khususnya dalam mengenalkan budaya kepada anak didiknya.

“Dua anak saya ikut belajar sama mbah Un dari dari TK sampai SD, tapi SMP putus belajarnya karena menyesuaikan kurikulum baru. Tapi saya salut dengan mbah Un, meski tidak ada basic pendidikan, mbah Un selalu memposisikan diri agar anak-anak mau semangat belajar,” ujarnya.

Ia mengaku bahwa Mbah Un sapaan Untoro di wilayahnya, banyak nilai lebih yang diperoleh anak-anak. Seperti salah satunya mereka dapat mengenal wayang dan membuat anak-anak tidak berkeliaran tidak jelas sehabis pulang sekolah.

Menurutnya, mbah Un selalu melatih anak-anak untuk membawa uang kecil saat datang. Bukan untuk membayar, tapi uang itu diminta mbah Un agar dikumpulkan dan kalau sudah setahun nanti disodakohkan ke orang yang membutuhkan.

Sementara itu, apresiasi juga muncul dari jajaran Polsek Purwosari. Diungkapkan oleh Kanit Binmas Polsek Purwosari, Aiptu Saparudin, apa yang dilakukan Mbah Un patut dijadikan contoh bagi orang-orang yang putus asa dalam mengidap penyakit.

“Saya merinding dengan apa yang dilakukan beliau (Untoro), beliau ini contoh yang pas untuk orang-orang yang putus asa karena sakit agar tetap semangat menjalani hidup. Karena meski menderita sakit, mbah Un tetap semangat dan memberi motivasi ke orang lain di lingkungannya,” ujarnya.

“Khususnya untuk yang mau gantung diri karena sakit tak kunjung sembuh, lihat mbah Un, meski sakit dan kekurangan, dia tetap berusaha agar berguna dan memotivasi orang lain agar semangat hidup,” pungkasnya.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler