fbpx
Connect with us

Budaya

Jamas Pusaka Jadi Tradisi Warga Pengkol Sambut 1 Suro

Published

on

Nglipar,(pidjar.com)–Tradisi menyambut 1 Suro memang masih lazim digelar dengan cara bertirakat oleh warga. Tirakat sendiri merupakan bentuk doa dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di tengah pandemi covid19, warga tetap menggelar tradisi Suronan, mulai dari menjamas barang-barang peninggalan dan menguras genthong (tempat air) yang dinilai merupakan benda sakral peninggalan leluhur. Tradisi ini masih dipegang erat masyarakat, salah satunya warga di Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar.

Puluhan warga Padukuhan Pengkol, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar memadati Rumah Budaya Rabu (19/08/2020) malam. Warga menyediakan ingkung, sejumlah nasi tumpeng dan sesaji lainnya untuk didoakan bersama.

Sekitar pukul 20.00 WIB, rangkaian kegiatan ini dimulai dengan tahlilan dipimpin oleh tokoh agama setempat. Usai tahlilan digelar, diawali dengan prosesi serah terima pusaka dari Cucu Sri Sultan HB VIII, RM Hertriasning kepada tokoh yang merawat keempat pusaka Joko Narendro.

Empat pusaka milik Desa Pengkol ini masing-masing Pusoko tombak Korowelang, Tombak Kyai Umbul Katon, Pusaka Cemethi Pamuk dan Pusoko Payung Agung kemudian diarak menuju pemakaman Ki Ageng Damar Jati. Di makam Pengikut prabu Browijoyo Majapahit ini kemudian dijamasi atau dibersihkan.

Usai dijamas, keempat pusaka tersebut dibawa kembali ke Rumah Budaya tempat bersemayam selama ini. Usai disemayamkan, rangkaian prosesi dilanjutkan dengan menguras gentong Kyai Sobo yang berada di halaman Rumah Budaya Pengkol.

Berita Lainnya  Sempat Berkali-kali Bunyikan Klakson Sebelum Hantam Bus, Truk Tronton Rem Blong Akibatkan 13 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Sesampainya di rumah budaya, para abdi dalem dari Kasultanan Kraton Ngayogyakarta mendekati Gentong Kyai Sobo. Diikuti masyarakat sekitar yang bermaksud ingin mengalap berkah dari air yang berada di dalam gentong. Setelah semua masyarakat kebagian air dari gentong tersebut, sedikit demi sedikit gentong kembali diisi air dari tujuh curug, dan tujuh tempur sungai yang ada di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Menurut salah satu panitia, Ngadiman, air tersebut sebenarnya hanya sarana bagi yang percaya dapat dikabulkan cita-citanya. Namun sejatinya yang mengabulkan harapan seseorang adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ia mengakui masih ada masyarakat yang masih percaya dengan hal ini.

“Air dalam gentong tersebut berisi air dari lokasi yang memiliki keistimewaan,” kata Ngadiman.

Air tersebut diambil dari 7 sumber dari petilasan walisongo. Air-air tersebut diambil dalam satu waktu yang kemudian diawetkan. Ditambah dengan berbagai air suci dari berbagai sumber mata air di Gunungkidul yang tak pernah kering meskipun musim kemarau.

Menurutnya selain makna religius, kirab pusaka dan kuras gentong juga terselip tujuan luhur. Adapun tujuannya salah satunya untuk menjalin hubungan yang baik antara sesama manusia melalui sikap kekeluargaan dan kegotong royongan dalam karya bersama.

Berita Lainnya  Banjir Sempat Rendam Puluhan Rumah Warga, Sejumlah Warga Masih Diungsikan

“Semoga bisa terus dilestarikan, bahkan kelak kaum muda juga harus ikut aktif andil dalam merawat, menjaga serta melaksanakan tradisi yang dimiliki daerah,”terangnya.

Karena di masa pandemi Covid19, maka gelaran kali ini hanya diselenggarakan lebih sederhana. Jika setiap tahun diselenggarakan selama sehari semalam karena juga diisi dengan berbagai pertunjukkan seni. Namun kali ini berbagai pertunjukkan seni ditiadakan diganti dengan santunan kepada anak yatim piatu dan dhuafa.

“Sekarang lebih sederhana. Harus kita selengharakan jika tidak ingin terjadi hal yang negatif melanda wilayah kita,” jelas dia.

RM Hertrianing mengatakan empat jenis pusaka tersebut menunjukkan khasanah kekayaan budaya Jawa. Di mana masing-masing pusaka memiliki simbol dan makna yang berbeda. Bahkan masing-masing pusaka memiliki riwayat dan tujuan pembuatannya.

“Seperti payung ya, warna dan unsurnya perbedaan jabatan. Kalau dari sisi spiritual memiliki makna Mengayomi,” imbuhnya.

Tradisi kuras Genthong Kyai Soba tahun ini memang dibuat sangat sederhana. Karena menghindari terjadinya kerumunan, upacara yang biasanya digelar sehari semalam ini hanya digelar dalam waktu setengah malam saja.

“Tujuannya biar tidak ada kerumunan, meskipun dalam acara climen (kecil-kecilan) yang terpenting tidak kehilangan kesakralannya,” tutup Ngadiman.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler