Connect with us

Sosial

Kampanye Sehari Dalam Seminggu Tanpa Nasi, Gerakan Untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan Warga

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Belum lama ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan tengah mensosialisasikan gerakan sehari dalam satu minggu tanpa nasi. Hal ini bukan merubah kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan, namun memberikan pemahaman bagi masyarakat bahwa asupan gizi tidak hanya bersumber dari nasi. Karbohidrat bisa dihasilkan dari bahan makanan lain seperti umbi-umbian dan makanan lokal lainnya juga dapat dikonsumsi sebagai pengganti nasi.

Gerakan yang tengah disosialisasikan ini merupakan gerakan yang tengah digagas oleh pemerintah pusat untuk meningkatkan ketahanan pangan di suatu daerah. Meski masyarakat Gunungkidul sudah tidak asing lagi dengan makanan umbi-umbian, namun demikian perlu adanya pemahaman lain agar pola pandang seseorang lebih luas dan terbuka.

Tujuan lainnya dari program ini yakni menghidupkan kembali makanan lokal yang semula menjadi bahan pokok namun seiring berjalannya waktu mulai bergeser. Hal ini dianggap penting pula oleh pemerintah untuk menghadapi revolusi industri 4.0 yang banyak digaungkan.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan memaparkan, selain gerakan itu, pihaknya juga terus mendorong masyarakat Gunungkidul untuk melakukan pemanfaatan lahan pekarangan. Baru-baru ini, mulai bermunculan kelompok ibu-ibu yang tengah getol dalam penanaman sayur dan buah-buahan di lahan pekarangan.

Berita Lainnya  Berikan Tugas Khusus ke Bhabinkamtibmas, Kapolres Janji Awasi Ketat Penggunaan Dana Desa

Hasilnya memang tidaklah seberapa, namun demikian paling tidak dapat mengubah pola ketergantungan terhadap bahan pangan yang diambil dari daerah lainnya maupun bahan makanan import. Selain itu, dengan mengembangkan program semacam ini, juga memberikan kegiatan bagi mereka ibu rumah tangga agar tidak jenuh dengan kegiatan keseharian mereka.

“Mulai kami tingkatkan terobosan-terobosan baru guna meningkatkan ketahanan pangan di Gunungkidul,” ujar Fajar Ridwan, Kamis (06/12/2018).

Ia menambahkan, pihaknya juga terus mendorong masyarakat untuk peningkatan tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura, serta di bidang peternakan. Sehingga nantinya ada pula peningkatan cadangan pangan dan mampu mengurangi ketergantungan gandum dan bahan pangan lainnya dari luar daerah maupun import.

“Mensosialisasikan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) itu juga dapat diperoleh dari makanan lokal kok,” imbuhnya.

Selain itu, di bidang peternakan juga terus dilakukan penggenjotan agar konsumsi masyarakat terhadap daging dan ikan terus mengalami peningkatan. Tidak perlu banyak dan sering, namun masyarakat didorong untuk lebih kreatif dalam membudidayakan dengan keterbatasan lahan dan modal, maupun inovasi dalam olahan.

Berita Lainnya  Tempat Hiburan Malam dan Kota Wonosari Jadi Ladang Tersubur Peredaran Miras di Gunungkidul

Gerakan ini memang terus dikampanyekan oleh pemerintah, sebagai penyeimbang pola pikir, pola pangan masyarakat seiring berkembangnya daerah untuk menjadi maju, serta berkembang pesatnya jaman.

Disinggung mengenai daerah rawan pangan, Fajar mengungkapkan jika di Gunungkidul masih ada 2 desa yang memiliki predikat rawan pangan. Maka dari itu, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat dalam penuntasan permasalahan ini. Tentu dalam penuntasan ini, perlu ada kesadaran dan campur tangan dari masyarakat. Sehingga nantinya desa tersebut dapat memiliki kesetaraan layaknya daerah lainnya.

“Desa Watugajah dan Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari yang masih berpredikat daerah rawan pangan,” tambah dia.

Sebelumnya, Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos sempat mengutarakan jika pihaknya sangat mendukung mengenai adanya terobosan dan semangat dari masyarakat Gunungkidul untuk melakukan pengolahan lahan sempit menjadi areal tanam. Tentu pihaknya sangatlah apresiasi para kelompok masyarakat. Dari pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Pangan akan berusaha memberikan dukungan dan stimulan.

“Tentu kami dukung, kesadaran masyarakat dalam hal ini memang sangat diperlukan. Biar semuanya jalan, meski hanya menggunakan lahan sempit namun tetap produksi,” tutur Bupati.

Klik untuk Komentar

Berita Terpopuler