Sosial
Kasus DBD Tetap Tinggi Meski Musim Kemarau, Sampah Dituding Jadi Biang Keladi
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih terus terlihat di Gunungkidul meski saat ini memasuki musim kemarau. Tercatat hingga akhir Agustus 2019 ini, jumlahnya mencapai 413 kasus. Dari jumlah tersebut, saat musim kemarau jumlah kasus tetap terhitung cukup tinggi lantaran menyentuh angka 20 sampai 60 kasus setiap bulannya.
Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengatakan, di Gunungkidul, kasus DBD pada musim kemarau ini masih terus terjadi. Bahkan setiap bulannya, puluhan warga pergi berobat ke rumah sakit akibat penyakit yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk aides aigepty ini.
“Jika dilihat dari bulan Mei ada 60 kasus, Juni ada 28 kasus, Juli ada 38 kasus dan Agustus ada 26 kasus,” terang Priyanta kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Senin (09/09/2019).
Ia menjelaskan, masih adanya temuan kasus DBD pada musim kemarau ini tentu menjadi perhatian khusus. Pasalnya, hujan pun sudah tidak lagi turun namun nyamuk masih bisa terus berkembang biak.
“Adanya penyakit ini pasti karena faktor lingkungan. Ada jentik nyamuk di lingkungan luar, karena angka bebas jentik di bawah 95 persen,” kata dia.

Ia menjelaskan, angka ini menunjukan arti bahwa rumah yang ada jentik nyamuknya di ambang batas. Ia menyebut, adanya sampah bercampur air yang dibuang di luar rumah menyebabkan nyamuk terus dapat berkembang biak.
“Kemungkinan besar, sampah berair yang dibuang di sekitar rumah digunakan untuk berkembang biak nyamuk, jentik dapat bertumbuh di lokasi berair itu,” ujarnya.
Hal seperti ini tentu saja menjadi perhatian pihaknya lantaran hingga mendekati musim penghujan kasus masih terus terjadi. Meski demikian, diperkirakan kasus akan mengalami kenaikan lagi pada beberapa minggu setelah musim penghujan tiba.
“Kalau ada lonjakan kasus biasanya beberapa saat setelah musim penghujan tiba. Ini tentu menjadi tantangan kami untuk gencar melakukan sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” jelas Priyanta.
Untuk itu, pihaknya akan kembali mengingatkan petugas kesehatan yang ada di Puskesmas untuk menggencarkan kampanye PSN. Sehingga kasus DBD dapat dihentikan dan tidak menambah korban.
“PSN tidak boleh kendor sepanjang ada ancaman risiko DBD, PSN tetap harus dilaksanakkn secra terus menerus. Apalagi ini menjelang musim hujan harus makin waspada,” beber dia.
Perlu diketahui, kasus DBD pada tahun ini sampai bulan September mencapai 413 kasus. Jumlah tersebut tergolong tinggi jika dibanding dengan dua tahun belakang di mana pada tahun 2018 ada tercatat sebanyak 124 orang terkena DBD, untuk tahun 2017 sebanyak 228 dengan memakan korban jiwa 1 orang namun kasus tertinggi masih terjadi pada tahun 2016 mencapai 1.154 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 4 orang.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
