Sosial
Kekeringan Melanda, Jamaah Masjid Kawasan Selatan Mulai Kelabakan Cari Air Bersih Untuk Beribadah
Tepus, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Ibadah warga di sejumlah wilayah mulai sedikit terganggu memasuki bulan puasa yang bertepatan dengan musim kemarau pada tahun 2018 ini. Hujan yang mulai menghilang membuat sejumlah Masjid mulai kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang digunakan sebagai sarana berwudhu para jamaahnya. Sejumlah Masjid yang mulai ramai oleh masyarakat memasuki bulan Ramadan ini bahkan harus membeli air dari truk tangki swasta untuk ibadah shalat tarawih karena tidak memiliki ketersediaan air bersih.
Saah satunya yang mengalami dampak kekeringan adalah Mushola di Padukuhan Blekonang 1, Desa Tepus, Kecamatan Tepus. Di Padukuhan Blekonang sendiri terdapat 2 Mushola yang ramai digunakan warga untuk ibadah tarawih maupun sholat fardlu lainnya. Memasuki bulan kemarau ini, pihak pengelola Mushola cukup kelabakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
"Awal ramadhan takmir mushola Miftahul Jannah Blekonang sudah membeli air dari tangki swasta," tutur Muntamah, warga setempat, Rabu (23/05/2018) siang.
Menurutnya, membeli air untuk wudlu di dua mushola itu sudah menjadi kebutuhan rutin di padukuhannya setiap bulan ramadhan. Hal ini lantaran di tempat tinggalnya, belum terjangkau layanan air dari PDAM. Ini membuat jamaah setempat harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli air bersih dari swasta. Pada tahun ini, pihaknya masih belum menerima bantuan sehingga kemudian untuk mengantisipasi kesulitan warga dalam beribadah, diputuskan untuk membeli air.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya kita dapat bantuan, jadi kebutuhan air untuk Mushola bisa terpenuhi. Tapi sekarang belum,” beber dia.
Hal yang sama juga terjadi di Masjid di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop. Pengurus Takmir Masjid setempat kelabakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Mereka kemudian, berusaha meminta bantuan kepada sejumlah relawan untuk mengedrop bantuan air bersih di Masjid. Beruntung bagi para pengurus Masjid, usaha tersebut langsung membuahkan hasil. Pada Selasa (222/05/2018) kemarin, pihaknya mendapatkan bantuan air bersih dari satu kelompok relawan.
"Kami bantu masjid yang membutuhkan dan kami mendapatkan informasi di Desa Melikan. Akhirnya kami berikan dengan harapan bisa digunakan untuk keperluan ibadah warga di dua Padukuhan yaitu Padukuhan Kuweni dan Kendal,” beber Slamet Riyadi, salah seorang relawan.
Ketika dikonfirmasi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki mengungkapkan, pihaknya memang tidak memberikan bantuan air bersih khusus untuk tempat ibadah. Bantuan air yang diberikan disasarkan langsung ke kelompok RT maupun Padukuhan.
“Saat ini masih belum ada dropping air yang kami laksanakan,” ungkap Edy.
Dua Desa di Pesisir Selatan Telah Terdampak Kekeringan
Meski sebelumnya pemerintah memperkirakan musim kemarau jatuh pada bulan Juli 2018, namun sejumlah wilayah kini telah kesulitan mencari air bersih. Tercatat dua desa di Kecamatan Tanjungsari telah mengajukan permohonan droping air ke BPBD Kabupaten Gunungkidul.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan pihaknya sudah menerima surat laporan kekeringan dan permohonan bantuan air dari dua desa di Tanjungsari yakni, Desa Hargosari dan Desa Ngestirejo.
"Permohonan untuk dropping air sudah kami terima. Saat ini kita melakukan cek lapangan untuk mengetahui kondisinya," kata Edy.
Dengan adanya pengajuan tersebut, BPBD lanjut Edy mempunyai inisiatif untuk melakukan sistem jemput bola. Artinya, pihaknya akan banyak turun ke masyarakat guna memantau keadaan sesungguhnya.
"Jangan sampai ada yang kekurangan air bersih. Kalau kita ada temuan akan kita berikan air untuk masyarakat yang membutuhkan itu," imbuh dia.
Sebelumya juga telah disampaikan bahwa untuk mengatasi kekeringan di Gunungkidul pihaknya telah menyiapkan dana Rp 638 juta. Pihaknya memperkirakan, puncak musim kemarau pada tahun ini akan terjadi pada bulan Agustus.
“Puncak kemarau biasanya Agustus, tetapi kemarin saat koordinasi dengan kecamatan mereka memprediksi meminta dropping pada Juni atau Juli,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Desa Hargosari, Mugito mengatakan bahwa masalah air bersih di desanya sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Hujan yang mulai menghilang membuat warganya tak lagi mempunyai cadangan air. Saat ini untuk mencukupi kebutuhannya, warga telah membeli air tanki yang harganya sudah cukup mahal.
"Harganya berkisar Rp 120 ribu sampai dengan Rp 150 ribu. Lumayan mahal untuk warga," kata Mugito.
Maka dari itu, pemerintah desa kini mengajukan permohonan bantuan untuk dropping air. Namun untuk hasilnya masih menunggu konfirmasi dari BPBD Gunungkidul. Ia berharap agar bantuan dropping air segera didapat untuk meringankan beban warga.
"Kami harapkan bantuan air segera tiba, sebab masalah air di wilayah selatan ini sudah sangat urgent sekali," pungkas dia.
-
Uncategorized3 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized3 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya3 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized2 minggu yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized2 minggu yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Uncategorized4 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Sosial3 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 minggu yang laluSerangan Binatang Liar Ancam Ternak di Wilayah Selatan Gunungkidul, Warga Diminta Waspada
