Pemerintahan
Kentalnya Aroma Proyek Dalam Program Sosial Pengadaan Ratusan Ribu Masker Senilai 1 Miliar
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menggagas program sosial pembagian 200 ribu masker kepada masyarakat. Melalui program ini, pemerintah menginginkan agar semua masyarakat Gunungkidul bisa menggunakan masker dalam rangka pencegahan penularan covid19 yang saat ini tengah melanda. Selain itu, pemerintah juga berniat untuk memutar roda perekonomian para penjahit Gunungkidul yang terdampak corona dengan melibatkan mereka dalam proses pengadaannya. Untuk program sosial ini, pemerintah sendiri menganggarkan anggaran sejumlah 1 miliar rupiah.
Namun harapan besar para penjahit Gunungkidul tersebut hanya tinggal harapan. Dalam prakteknya, proses pengadaan ratusan ribu masker itu justru tak melibatkan sebagian besar penjahit. Bahkan terkesan, program sosial ini tak lebih hanya sekedar proyek saja dalam proses pengadaannya. BPBD Gunungkidul justru menunjuk sejumlah rekanan untuk menyediakan pengadaan masker itu. Dalam penelusuran awal yang dilakukan, sejumlah rekanan yang ditunjuk untuk menyediakan masker ini bukan merupakan unit usaha yang bergerak di bidang fashion.
Kepala BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengakui bahwa pihaknya memang menunjuk sejumlah rekanan untuk melakukan pengadaan 200.000 masker untuk pemerintah. Sembari menyodorkan data, Edy menjelaskan bahwa rekanan yang ditunjuk itu merupakan perseorangan maupun berbentuk CV.
“Ada 13 itu yang ditunjuk untuk pengadaan masker,” kata Edy Basuki.
Penunjukan tersebut dijelaskan Edy telah melalui mekanisme yang ada. Pihaknya menentukan spek beruba bahan dan ukuran masker. Kemudian dari mereka diminta untuk menunjukan sampel hasil produksi.
“Ada yang rekomendasi dari Dinas Koperasi UKM, ada yang datang ke BPBD menunjukan sampel. Mereka juga memberikan jumlah penjahit yang dimiliki, ada yang lebih dari 40 penjahit,” ucap Edy.
Namun begitu ketika disinggung mengenai data penjahit, memilih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut. Pun demikian ketika disinggung mengenai apakah dilakukan verifikasi atau tidak terhadap data nama-nama penjahit yang disetorkan rekanan.
Ia hanya menjelakan bahwa saat ini pihaknya sudah mendistribusikan puluhan ribuan masker kepada masyarakat melaui Kecamatan yang nantinya disalurkan ke desa.
“Rencananya setiap desa mendapat jatah 1.000 masker,” terang Edy.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Gunungkidul, Sih Supriyana menuturkan, pihaknya sempat diminta untuk memberikan data terkait dengan usaha mikro kecil di Gunungkidul yang bergerak di bidang fashion. Dari data yang ada, di Gunungkidul sendiri terdapat 24 usaha fashion yang kemudian beralih kepada produsen masker selama pandemi corona ini.
“Dalam kondisi saat ini mereka berinisiatif mengalihkan usaha ke produksi masker. Yang jelas kami tidak sebagai yang menunjuk peserta sebagai penyedia. Penentunya di BPBD atau OPD terkait yang mengelola dana pengadaan tersebut,” terang dia.
Dalam penelusuran yang dilakukan pidjar-com-525357.hostingersite.com, dari puluhan UMKM yang direkomendasikan itu, kemudian hanya 5 UMKM yang ditunjuk untuk pengadaan masker ini.
Sementara itu, proyek pengadaan masker ini dikeluhkan oleh anggota Ikatan Penjahit Gunungkidul (IPG). Salah seorang tetua IPG, Prapto Wibowo, warga Kecamatan Playen menyebut bahwa hanya segelintir saja dari anggota IPG yang mendapatkan manfaat dari program pengadaan masker itu. Sebuah hal yang mengerankan lantaran semangat awal dari program ini adalah untuk melibatkan para penjahit lokal Gunungkidul.
“Kita bahkan tidak diajak untuk berembug, sebagian besar penjahit malah sambat kepada saya karena tidak tahu ada program ini,” keluh Prapto.
Dari segelintir anggota yang ikut menggarap program pengadaan masker pemerintah ini, bahkan hanya sekedar mendapatkan pesanan dari rekanan yang ditunjuk. Para penjahit ini diberikan ongkos jahit yang digargai per masker yang mereka buat.
“Satunya dihargai 1.000 sampai 1.500, hanya njahit saja karena semua bahannya dari sana (yang memberikan pesanan),” tutur dia.
Terpisah, salah seorang penjahit yang mendapat jatah 10 ribu masker mengatakan bahwa dirinya memiliki kelompok usaha. Sehingga dalam pengerjaannya, program ini melibatkan puluhan penjahit yang dimilikinya.
“Saya kan ada kelompok usaha. Otomotis tak garap sak kelompok to. Anggotanya 20 orang. Digarap dewe klenger to (dikerjakan sendiri ya capek),” ucapnya.
Dirinya saat ini juga telah menyetorkan proyek yang ia kerjakan tersebut. Bahkan penyetorannya sebelum deadline yang ditentukan.
-
Uncategorized21 jam yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized5 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Sosial2 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pariwisata3 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pemerintahan3 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
