fbpx
Connect with us

Sosial

Trend Penderita Kusta di Gunungkidul Terus Menurun, Kecamatan Ngawen Paling Diperhatikan

Diterbitkan

pada tanggal

––>

Wonosari, (pidjar.com)–Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, penyakit kusta saat ini sudah bukan lagi menjadi momok yang menakutkan. Sejumlah upaya yang dilakukan berhasil menekan persebaran penyakit yang cukup berbahaya ini. Saat ini di Gunungkidul, hanya tinggal segelintir saja penderita penyakit kusta ini. Sebagaimana diketahui, penyakit ini sangat rentan menyebar lantaran bisa menular bahkan hanya melalui percikan udara.

Di Kabupaten Gunungkidul sendiri penderita penyakit kusta memang semakin sedikit. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul tercatat pada tahun 2015, masih ada 22 orang penderita kusta. Jumlah ini menurun pada tahun 2016 jadi 13 orang. Kemudian pada tahun 2017, jumlah penderita kusta naik menjadi 15 orang. Pada tahun 2018, jumlah penderita kusta ada 17 orang, dan pada 2019 ini, tercatat lima orang terjangkit penyakit kusta.

“Penyakit kusta trennya mengalami penurunan dan tidak menjadi prioritas. Namun kami tidak mau lengah terhadap kasus kusta,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan, Priyanta Madya Satmaka kepada pidjar.com, Selasa (17/09/2019).

Lebih lanjut Priyanta memaparkan, ada beberapa titik yang mendapatkan perhatian terkait penyakit ini. Menurutnya berdasarkan data di atas, di antara 18 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, Kecamatan Ngawen menjadi satu-satunya kawasan yang dinilai endemis penyakit kusta. Pada tahun 2015 saja, terdapat empat orang warga Ngawen yang terjangkit kusta. Meski sempat tidak ada penderita pada tiga tahun berikutnya, namun pada 2019 ini, kembali ditemukan satu orang penderita kusta di Kecamatan Ngawen.

Berita Lainnya  Dirasa Sudah Terlalu Banyak dan Tidak Efektif, 15 % SD di Gunungkidul Akan Digabung

“Kecamatan Ngawen yang merupakan endemik kusta. Pada 2016 lalu di Padukuhan Sambeng, Desa Sambirejo sampai membentuk komunitas penderita kusta,” bebernya.

Menurut dia, sekarang ini masyarakat tidak terlalu mengenal kusta. Namun orang-orang zaman dahulu yang lebih familiar lantaran memang penyakit kusta sangat menakutkan. Informasi kasus kusta sendiri dengan cara disampaikan sesuai besaran kasus.

“Walau jumlah kasusnya kecil tetap diberitahu melalui puskesmas, kemudian orang-orang yang sudah sembuh dari kusta memberikan semangat kepada penderita lainnya agar tidak didiskriminasi,” ujar dia.

Sementara itu, Kasi Bina Tenaga dan Fasilitas Kesehatan, Mugiyanto mengatakan, penderita kusta rata-rata tidak menetap seperti yang ditemukan di Ngawen. Di kecamatan paling ujung dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten tersebut, penderita kusta terakhir berasal dari orang yang lama bekerja di Tangerang.

Berita Lainnya  Gelar Pertemuan Dengan Pokdarwis, Pemerintah Mulai Rencanakan Relokasi Pedagang Pantai Drini

“Waktu penularan penyakit kusta sekitar dua sampai lima tahun karena setiap hari kontak langsung, meskipun penyakit menular tapi tidak mudah ditularkan,” papar Mugiyanto.

Mugiyanto menjelaskan Dinkes Gunungkidul pada bulan ini melakukan survei bercak kusta di Kecamatan Playen, Patuk, dan Panggang. Langkah ini, menurutnya sebagai upaya deteksi dini kusta.

“Karena proses penularannya lama, kami melakukan deteksi dini satu tahun satu kali,” pungkasnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler