fbpx
Connect with us

Sosial

Kerja Keras Penuh Resiko Para Relawan PMI dan BPBD di Tengah Luputnya Perhatian Dari Pemerintah

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Selain tenaga medis, relawan Palang Merah Indonesia serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menjadi kalangan yang paling sibuk pada masa pandemi corona di Gunungkidul. Mereka mejadi garda terdepan dalam penanganan virus yang menyebar hampir di seluruh dunia ini. Tak hanya bekerja keras, para tenaga medis serta relawan PMI ini juga harus bergelut dengan resiko.

Seperti yang menjadi rutinitas para relawan PMI dan BPBD Gunungkidul misalnya. Penjemputan hingga pemakaman para warga dari yang baru sekedar suspect hingga sampai yang positif menjadi tanggung jawab mereka. Meski menggunakan peralatan standar yang dirasa aman, namun resiko untuk terpapar penyakit infeksius ini sendiri tetap terbuka. Mereka harus siaga jika tiba-tiba ada panggilan pemakamab PDP atau ODP yang meninggal. Protap pemakaman layaknya pasien positif pun juga harus tetap dilakukan. Terkadang dalam sehari, para relawan ini dapat memakamkan menerapkan standar protap covid 19 lebih dari 3 kali.

Seperti yang terjadi beberapa hari lalu misalnya, dalam sehari para relawan harus melakukan pemakaman secara beruntun sejak dini hari. Selama masa pandemi ini, sesuai dengan protap, jenazah memang harus segera dimakamkan. Mereka tentunya harus merelakan waktu istirahat untuk misi kemanusiaan tersebut. Di tengah pandemi dan sedang melaksanakan ibada puasa para relawan PMI dan BPBD ini tetap harus bekerja maksimal.

Peta Sebaran Status COVID-19 di Kabupaten Gunungkidul
*Credits: https://bit.ly/statCovGK (updated)

Pada Senin (18/05/2020) dini hari lalu misalnya. Sekitar pukul 03.00 WIB subuh, panggilan pertama untuk pemakaman seorang PDP masuk. Dengan sigap, para relawan lantas melakukan koordinasi dan bergegas menyiapkan diri. Alat pelindung diri yang lengkap langsung digunakan dan para relawan dan segera muluncur ke lokasi pemakaman. Tak berselang lama, panggilan kedua kemudian datang sekitar pukul 05.00 WIB. Panggilan sendiri terus datang lantaran untuk pemakaman standar covid, sejauh ini hanya ditangani oleh para relawan PMI dan BPBD.

Berita Lainnya  Meski Buta, Sojoyo Bertekad Rawat Istrinya yang Sakit Hingga Akhir Hayat

Terhitung selama 3 hari kemarin, ada 12 pemakaman yang dilakukan menggunakan protap covid19. Hampir selang beberapa jam selalu ada panggilan masuk. Hal ini membuat para relawan ini harus merelakan diri jarang berkumpul dengan keluarga ataupun beraktifitas.

“Kalau ada panggilan ya langsung siap-siap memakai APD lengkap seperti baju hazmat dan lainnya. Kalau sudah pakai baju itu ya sudah ndak bisa makan minum atau apapun,” terang Surisdiyanto, Koordinator Tim Reaksi Cepat BPBD Gunungkidul, Sabtu (23/05/2020).

Adapun selama menjalani ibadah puasa ini, jam untuk makan sahur pun tak menentu. Permakanan yang dikonsumsi pun juga tidak menentu. Mereka hanya mengandalkan apa yang ada untuk makan. Misalnya untuk makan sahur dilakukan sedini mungkin untuk mengantisipasi panggilan mendadak. Biasanya mereka makan sahur sebelum pukul 03.00 WIB.

Tak hanya itu, makanan yang dikonsumsi pun juga seadanya. Seperti hanya makan nasi sisa semalam dengan lauk ala kadarnya. Apa yang ada di posko itu lah yang menjadi bahan pangan bagi mereka untuk sahur.

Yang menjadi keprihatinan, di tengah beban tanggung jawab maupun potensi resiko yang dihadapi, para relawan ini harus mendapati kenyataan minimnya perhatian dari pemerintah. Dalam menjalankan tugasnya, mereka hanya mendapatkan insentif berupa uang makan yang jumlahnya tak seberapa. Sejumlah janji untuk segera membahas dan menganggarkan tunjangan bagi para relawan hingga saat ini tak kunjung terealisasi.

Berita Lainnya  Sepuluh Aliran Kepercayaan Berkembang di Gunungkidul

Ketua PMI Gunungkidul, Iswandoyo menuturkan untuk pemakaman Covid-19, selain relawan BPBD dan PMI kadang dalam melakukan pemakaman atau penjemputan pasien melibatkan relawan tagana. Selama ini, total sudah mencapai 40 jenazah yang dimakamkan menggunakan protap covid 19. Jenazah tidak hanya berasal dari dalam daerah, tapi ada juga yang berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Semarang dan lainnya.

Dijelaskannya, ada 30 relawan yang bertugas untuk memakamkan cara Covid-19. Ia juga membenarkan jika selama ini, untuk permakanan bagi para relawan tergolong seadanya bahkan cenderung. Untuk intensif pun juga belum ada pembahasan ulang.

Kondisi yang sangat minim ini membuat Iswandoyo prihatin sekaligus juga terharu. Di matanya, para relawan tetap antusias dalam kerja kemanusian.

“Ini yang membuat saya salut, mereka tetap teguh melakukan kerja kemanusiaan meski dengan resiko yang cukup tinggi. Jangankan memikirkan kebutuhan keluarga di rumah, untuk kebutuhan sendiri saja sangat minim,” kata Iswandoyo.

Pemakaman ala Covid-19 dilakukan untuk mengantisipasi penularan penyakit. Petugas juga sudah dipersiapkan dan dilengkapi dengan alat perlindungan diri. Beruntung sejauh ini meski tanggung jawab dan tugas mereka berat tidak ada relawan yang sakit. Saat dilakukan pengecekan pun hasilnya juga tidak ada yang reaktif.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler