fbpx
Connect with us

Olahraga

Khawatir Masa Depannya, Atlet Peraih Medali Perak PON Papua Berniat Hengkang Dari Gunungkidul

Diterbitkan

pada

Wonosari, (pidjar.com)–Atlet berprestasi asal Gunungkidul yang mendapatkan medali perak cabang olahraga jalan cepat PON XX Papua, Bayu Prasetyo, dikabarkan berniat hengkang. Kepindahan Bayu untuk membela daerah lain ini lantaran tidak adanya kejelasan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebagai bentuk apresiasi terhadap atlet berprestasinya. Tentunya, hengkangnya Bayu ini jika terjadi merupakan kehilangan besar bagi Gunungkidul. Hal ini lantaran, Bayu sendiri masuk dalam jajaran atlet papan atas berkaliber nasional.

Pria yang akrab disapa Bayu itu mengatakan, selama ini dirinya menghabiskan waktunya untuk berlatih agar bisa mempertahankan performa terbaiknya sebagai atlet. Akibat kesibukannya tersebut, dirinya kurang mempunyai waktu untuk menyiapkan diri di dunia kerja lantaran waktunya tersita dengan berbagai latihan. Namun demikian, hasil dari latihannya pun mewujudkan hasil dengan memperoleh medali perak di cabang olahraga jalan cepat nomor 20.000 meter pada ajang PON XX Papua lalu.

Berita Lainnya  Semarak Kemerdekaan, KONI Apresiasi Adanya Kegiatan Berbau Olahraga

“Memang ada keinginan pindah dari Gunungkidul dan DIY. Pilihan ini menjadi sangat penting untuk masa depan saya saat nanti saya berhenti jadi atlet. Karena menjadi atlet tentu ada masa emasnya,” ucap Bayu.

Ia sangat berharap agar pemerintah memberikan perhatian terhadap atlet berprestasi sehingga saat dirinya berhenti sebagai atlet, ia telah memiliki pekerjaan. Ia menyampaikan jika hal itu merupakan alasan jangka panjangnya ketika suatu saat nanti ia istirahat menjadi atlet. Selain itu, alasan lainnya yang membuat dirinya berniat pindah ialah pembinaan olahraga di daerah yang dianggapnya tidak ada arah yang jelas.

Menurutnya, atlet hanya disiapkan untuk level Porda saja atau terus difasilitasi hingga level nasional. Atlet yang memiliki pengalaman lebih tinggi menurutnya layak diberikan perhatian khusus dengan pertimbangan aspek level prestasi. Misalnya untuk kelas nasional semestinya ada perbedaan dengan yang level daerah atau propinsi.

Berita Lainnya  Kisah Dwiska, Kehilangan Kaki Saat Gempa Hingga Berhasil Raih Emas Asian Para Youth Games

“Selama ini tidak adanya prioritas antara atlet baru dengan atlet yang sudah berpengalaman di level nasional. Perbedaan ini termasuk dari sisi pembiayaan, uang pembinaan atau gajinya,” imbuh Bayu.

Tipisnya peluang bertanding di level Porda DIY karena terhalang regulasi juga menjadi dorongan dirinya untuk pindah daerah. Adapun dalam regulasi memang diatur sebuah cabor bisa ditandingkan dengan syarat harus diikuti minimal 4 atlet dari 3 kabupaten atau kota. Aturan ini akhirnya membuat cabor Jalan Cepat tidak bisa dipertandingkan padahal sangat berpeluang baginya untuk mendapatkan medali ketika bertanding.

“Cabor ini kan punya peluang dapat medali tapi gagal dipertandingkan karena terbentur regulasi,” terang Bayu.

Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Gunungkidul, Jarot Budi Santoso, menyampaikan, dirinya telah berbicara dengan Bayu terkait alasannya berniat pindah daerah. Ia memahami kekecewaan yang dirasakan oleh Bayu. Menurutnya yang disampaikan oleh Bayu bukan tanggung jawab Pemkab Gunungkidul saja namun juga Pemerintah Provinsi.

“Bayu kan atlet PON, saat ini dia sudah masuk atlet kelas nasional. Apa yang menjadi personal akan ada jalan keluarnya, termasuk soal pekerjaan sangat memungkinkan untuk diakomodir,” ujarnya.

Pihaknya pun akan membahas persoalan ini dengan KONI DIY dan Bayu untu mencari jalan keluar terbaik.

Berita Lainnya  Tampilkan Permainan Menyerang, SMK N 3 Wonosari Tumbangkan SMK N 2 Wonosari

“Kami tentu sangat berharap rencana kepindahan Bayu tidak terjadi, ia selama ini telah terbukti punya prestasi di kancah nasional,” tutup Jarot.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler