fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Kolaborasikan Teknologi dan Ilmu Titen Kalender Jawa, BPBD Siap Antisipasi Kemungkinan Terburuk Bencana Tsunami

Published

on

Tanjungsari,(pidjar.com)–Meski hingga saat ini situasi masih cenderung aman, namun potensi terjadinya bencana tsunami disikapi secara serius oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Sebanyak belasan desa dari 5 Kecamatan yang terletak tepat di pesisir pantai sendiri telah ditetapkan sebagai zona merah tsunami. Selain pemasangan alat early warning system (EWS) tsunami, BPBD Gunungkidul juga saat ini terus mengintensifkan pelatihan kepada warga masyarakat khususnya yang tinggal desa-desa yang masuk dalam kawasan rawan tsunami tersebut. Diharapkan nantinya dengan deteksi dini serta kesiapan warga, jika kemungkinan terburuk terjadi yaitu datangnya bencana alam tsunami, jumlah korban bisa diminimalisir. Yang cukup unik, selain mengandalkan peralatan canggih, para petugas BPBD Gunungkidul juga masih berpedoman pada ilmu titen berdasarkan kalender Jawa untuk mengidentifikasi pasang surut di kawasan pantai.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, potensi terjadinya bencana tsunami di Gunungkidul memang cukup terbuka. Beberapa waktu lalu, peneliti dari kementrian telah melakukan riset dan menemukan terjadinya tsunami pada masa lalu yang melanda kawasan pantai Gunungkidul. Hingga saat ini sample temuan tersebut masih dianalisis laboratorium untuk menentukan kapan terjadinya bencana tsunami purba tersebut serta seberapa besar tsunami tersebut.

Saat ini, pihaknya terus menjalin komunikasi dengan pemerintah-pemerintah desa yang berada dalam zona merah tsunami untuk terus meningkatkan kesiapan diri masing-masing. Ia menginginkan nantinya masyarakat bisa memiliki pengetahuan untuk mendeteksi jika ada tanda-tanda yang mengarah pada akan terjadinya bencana tsunami.

“Jika akan terjadi tsunami, tanda-tandanya sudah ada termasuk air laut tiba-tiba surut pasca gempa. Kita juga sudah memasang EWS sehingga jika ada alarm berbunyi antisipasi bisa segera dilakukan. Sepenuhnya kita sudah siap,” tandas Edy, Kamis (03/05/2018) siang.

Termasuk yang telah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kesiap-siagaan kepada warga masyarakat. Seperti yang dilakukan pada Rabu (02/05/2018) kemarin. BPBD Gunungkidul menggelar simulasi terjadinya bencana tsunami di pantai di kawasan Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Dalam skenario tersebut diawali dengan terjadinya gempa besar di wilayah Gunungkidul. Tak berselang lama, berbunyi sirine peringatan bahaya tsunami dari alat EWS yang terpasang. Dengan segera, sejumlah petugas TRC BPBD Gunungkidul maupun SAR segera mempersiapkan evakuasi besar-besaran.

Diungkapkan Edi, dalam simulasi yang dipertunjukan sebagai salah satu rangkaian penilaian Lomba Desa tingkat provinsi di Desa Kemadang yang terpilih mewakili Gunungkidul itu, terlihat bahwa masyarakat telah siap sepenuhnya. Mereka telah mengetahui sepenuhnya apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyikapi jika ada potensi bencana tsunami. Hal ini menurut Edi merupakan hasil dari pelatihan serta sosialisasi yang memang rutin dilakukan oleh pihaknya.

“Kalau harapannya sih jangan sampai terjadi tsunami, akan tetapi kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Yang paling penting adalah meminimalisir jumlah korban,” urai dia.

Sementara itu, koordinator TRC BPBD Gunungkidul, Surisdiyanto menambahkan bahwa sejauh ini kawasan pantai Gunungkidul masih sangat aman. Belum pernah sekalipun terjadi tanda-tanda terjadinya tsunami. Pihaknya sendiri berkolaborasi dengan petugas dari Tim SAR terus melakukan monitoring lapangan terutama ketika ada laporan gempa bumi yang terjadi. Termasuk ketika gempa bumi besar yang terjadi beberapa waktu lalu di mana EWS di kawasan pantai Kulonprogo berbunyi, pihaknya saling menerjunkan personel untuk melakukan pengawasan di sekitar bibir pantai.

Ia sendiri juga meminta masyarakat tidak terlalu phobia terhadap bencana tsunami. Seringkali kabar berhembus perihal surutnya pantai selatan Gunungkidul sehingga masyarakat resah akan kemungkinan terjadinya bencana tsunami. Pasang surut air laut di kawasan pantai ditegaskannya adalah fenomena yang biasa.

“Untuk memonitor hal tersebut, kira selain berpedoman dari informasi Badan Meteorologi. Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga berpegang pada kalender Jawa yang dirasa cukup jitu dalam memprediksi pasang surut kawasan pantai,” beber Surisdiyanto.

Berdasarkan ilmu titen dan pantauan dari BMKG tersebut, semua dapat diprediksi, termasuk kegempaan. Dengan demikian, jika terjadi bencana dapat diperhitungkan dengan matang, baik langkah antisipasi maupun penanganan.

“Jadi, nomor telepon kami terkoneksi dengan BMKG. Jika ada informasi terkait dengan kegempaan dan tsunami kami selalu mendapatkan informasi secara cepat,” ucapnya.

Pihaknya mencontohkan kejadian gempa berpotensi tsunami di Jawa Barat beberapa waktu lalu. Dua menit setelah kejadian Tim SAR Korwil II Baron menerima informasi mengenai perkembangan terkini.

“Kami bisa memonitor dimana pusat gempa, sejauh mana pergerakan tsunami dan seterusnya,” terangnya.

Selama ini di Pantai Selatan juga telah memiliki Early Warning System (EWS). Merupakan alat bantu penerima siaran televisi digital (set-top-box) dan perangkat penerima televisi digital. Fungsi dari peralatan ini adalah mekanisme pemberitahuan informasi bencana alam sedini mungkin pada suatu lokasi tertentu.

“Jumlah EWS tersebar di tujuh lokasi, namun yang berfungsi ada lima yakni, di Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini dan Krakal. EWS dalam kondisi rusak berada di Pantai Siung dan Ngrenehan,” papar Suris.

Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Kemadang, Daldiyo menambahkan bahwa, pihaknya sangat setuju dengan kegiatan-kegiatan pelatihan maupun simulasi bencana yang saat ini tengah  digagas oleh BPBD Gunungkidul. Dengan pengetahuan serta pelatihan semacam ini, warga sipil bisa menjadi tidak mudah panik jika mendengar kabar berita yang belum tentu dipastikan kebenarannya. Di era teknologi informasi yang berkembang seperti sekarang ini, kabar hoax termasuk diantaranya dalam kebencanaan memang cukup deras mengalir, terutama ketika bencana melanda. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, setiap warga bisa memilah dan memilih informasi yang benar sehingga situasi tidak semakin kacau.

“Kalau para warga tahu, tentunya mereka bahkan juga bisa menjadi agen pengetahuan yang turut menyebarkan perihal informasi kebencanaan yang akurat serta mengerti bagaimana mengantisipasinya,” tutup Daldiyo.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler