fbpx
Connect with us

Sosial

Konflik Sumur Bor Antara Warga Wilayu Dengan PDAM, Pemdes Pacarejo Bakal Lapor DPRD

Diterbitkan

pada tanggal

Semanu,(pidjar.com)–Polemik antara warga dan PDAM Tirta Handayani yang berujung pada penyegelan sumur bor di Padukuhan Wilayu, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu terus berlanjut. Hingga kini, masih belum ada titik temu dari berbagai pihak terkait penyelesaian masalah tersebut. Pada Kamis (02/01/2020) kemarin, masyarakat, perangkat desa dan tim dari PDAM Tirta Handayani menggelar mediasi untuk membahas permalahan ini.

Pertemuan yang berlangsung cukup panas ini sendiri tak berbuah hasil positif. Masyarakat tertap bersikeras untuk melakukan penyegelen terhadap sumur bor di wilayahnya.

Salah seorang warga Padukuhan Wilayu, Hadi Winarto mengatakan, penyegelan ini sendiri merupakan buntut kekesalan dari warga. Pasalnya selama beberapa hari di penghujung akhir tahun 2019 lalu, air di sekitar wilayah Desa Pacarejo mati total. Padahal sumur bor yang kembali beroperasi sekitar 1 tahun terakhir di wilayah Wilayu diketahui tetap memproduksi air.

“Ya jelas kesal wong kita ini punya sumber air. Toh waktu itu airnya sampai luber-luber kok beberapa hari kita tidak dapat pasokan air, malah kalau menghidupkan kran yang keluar hanya angin. Kan aneh to,” kata Winarto.

Dari situ, warga kemudian berinisiatif melakukan pencekean di sejumlah titik. Menurutnya ada kejanggalan dalam pengoperasian sumber air dari sumur bor tersebut. Diketahui, selama ini warga sekitar Wilayu ternyata mendapatkan pasokan air dari sumber Seropan, bukan dari sumber yang dimiliki yakni sumur bor Wilayu II.

Kekesalan ini pun semakin menjadi manakala ada dugaan kuat dari kalangan warga bahwa air dari sumur bor itu justru disalurkan pihak PDAM Tirta Handayani ke sebuah pabrik peternakan ayam raksasa yang berada di Padukuhan Tonggor, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Menurutnya, menjadi sebuah ironi manakala korporasi besar malah mendapatkan layanan yang baik, sementara masyarakat setempat yang sebenarnya menjadi pemilik dari sumur bor tersebut diabaikan haknya.

“Selain penyegelan dari kami juga mengajukan sejumlah tuntutan. Diantaranya meminta konpensasi sesuai dengan yang dijanjikan oleh PDAM,” tambah dia.

Penyegelan sendiri masih akan terus dilakukan oleh warga masyarakat hingga adanya titik terang dan pertanggungjawaban dari pihak PDAM. Misalnya saja pemenuhan tuntutan mengenai kompensasi dan beberapa hal lainnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pacarejo, Suhadi menyatakan kekecewaannya atas pelayanan PDAM Tirta Handayani kepada warganya. Ia sendiri baik secara pribadi maupun selaku pemerintah desa Pacarejo telah beberapa kali menemui pihak PDAM untuk pengoptimalan sumber air yang dimiliki oleh Pacarejo. Sekitar 1 tahun lalu, sumur bor di Wilayu kembali dioperasikan yang menangani adalah PDAM Tirta Handayani. Namun dalam pengoperasian tersebut, tidak ada sosialisasi terhadap warga. Petugas yang datang langsung melakukan pengerjaan penghidupan sumur bor tersebut.

“Ada beberapa tim dari PDAM yang sudah saya tegur baik teknisi maupun petugas lainnya. Mbok ya sosialisasi dulu, tapi mereka tidak menghiruakan,” terangnya.

Ia beberkan lebih lanjut, pihak pemerintah desa sendiri meminta agar masalah ini bisa terselesaikan. Pihaknya berharap agar maksimal 3 hari ke depan, permasalahan ini bisa terselesaikan. Jika nantinya tidak terselesaikan, pihaknya akan kembali melakukan audiensi baik dengan PDAM sebagai tuntutan pertanggungjawaban. Suhadi juga tengah mempertimbangkan langkah untuk melaporkan permasalahan ini kepada DPRD Gunungkidul.

“Lha gimana, hari ini saja justru layanannya mati. Kita berharap yang terbaik, jangan sampai masyarakat terus dirugikan,” kata Suhadi.

Menanggapi adanya aksi dari masyarakat ini, Direktur Teknis Toto Sugiharto didampingi oleh SPI Heru mengatakan jika permasalahan ini hanya kesalahpahaman dari masyarakat. Menurutnya di wilayu ada 2 sumber air yang mampu menghidupi dan memenuhi kebutuhan masyarakat 5,1 liter perdetik. Namun untuk Wilayu 1, sumber air tersebut mati sejak beberapa bulan lalu.

Kemudian untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat menggunakan wilayu 2 dan memanfaatkan pasokan dari Seropan. Sehingga memang pemenuhan air yang ada sedikit berbeda dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.

“Ini hanya salah paham saja. Untuk langkah lanjutan tentu akan kami pertinbangkan lagi, dan dilakukan pembahasan dengan direksi. Ya salah satunya mengenai kompensasi yang diminta warga” ujar dia.

Disinggung mengenai dugaan “penjualan” sumur bor Wilayu ke perusahaan peternakan ayam raksasa, Heru mengungkapkan jika PT peternakan itu memang merupakan salah satu pelanggan dari sumber air tersebut. Namun demikian untuk kebutuhan air di wilayah Tonggor hanya sekitar 100 meter kubik saja per harinya, jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan warga.

“Hanya dua jam saja untuk pemenuhannya. Jadi kan untuk pengoperasian sumur bor ini kita juga membutuhkan listrik, nah kebetulan suplay listrik kita gunakan dari milik PT. Jadi kaya bersamaan to kalau seperti ini,” urainya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler