fbpx
Connect with us

Sosial

Konservasi Air Berbasis Lingkungan dan Harapan Gunungkidul Bebas Kekeringan

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Permasalahan yang dihadapi masyarakat Gunungkidul setiap tahunnya adalah kekeringan. Sumber air yang ada di daerah mengering dan tidak lagi dapat dimanfaatkan saat musim kemarau tiba. Kondisi bencana tahunan ini kemudian menarik kepedulian sejumlah orang yang tergabung di dalam beberapa komunitas untuk berupaya melakukan konservasi air di Gunungkidul. Diyakini dengan konservasi air berbasis lingkungan, maka ke depan akan meminimalisir dampak kekeringan yang terjadi.

Pada musim penghujan seperti sekarang, menjadi sebuah momen tertentu bagi sejumlah komunitas untuk melakukan konservasi air dalam jangka panjang. Yang istimewa, program ini diinisiasi oleh Forum Disabilitas Tanggap Bencana yang kemudian bekerjasama dengan Karang Taruna dan Komunitas Resan Peduli Air.

Belum lama ini, gabungan dari komunitas tersebut melakukan penanaman pohon sebagai upaya gerakan konservasi air. Mereka melakikan penanaman pohon di 5 sumber mata air di Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, dan 4 sumber mata air di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo.

Kepada pidjar.com, Ketua Forum Disabiliras Tanggap Bencana (FDTB) Gunungkidul, Hardiyo mengatakan, upaya konservasi air ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian alam di Gunungkidul. Di sisi lain, ke depan dengan banyaknya pohon di kawasan sumber air, diharapkan ke depan bisa berdampak besar atas ketersediaan air. Ia sangat berharap, konservasi air berbasis lingkungan ini akan bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan klasik mengenai kekeringan.

“Dengan keterbatasan fisik yang kami alami tidak lantas mengurangi tekad kami untuk berkontribusi dalam upaya konservasi air di Gunungkidul,” ucap Hardiyo, Sabtu (30/01/2021).

Menurutnya, kekeringan dan masalah air yang selama ini terjadi di Gunungkidul adalah termasuk sebuah bencana. Sehingga kemudian harus ada upaya dari berbagai pihak untuk menemukan sebuah solusi dan langkah konkrit dan bersifat jangka panjang untuk jalan keluarnya.

“Permasalahan yang terus terjadi dan perlu segera dilakukan penanganan agar bisa selesai. Kita punya mimpi di masa mendatang, tidak ada permasalahan air yang harus dihadapi masyarakat setiap kali musim kemarau,” paparnya.

Kepedulian FDTB Gunungkidul terkait pelestarian sumber air ini memang patut mendapat apresiasi. Dengan menggunakan motor modifikasi roda tiga yang dibuat khusus untuk kaum difabel, mereka sangat antusias membawa dan terjun langsung melakukan penanaman pohon di sekitar sumber air.

Bukan tanpa alasan forum ini menggandeng Komunitas Resan untuk melakukan aksi penanaman pohon ini. Pasalnya, Komunitas Resan adalah komunitas yang bergerak di konservasi alam. Sudah ratusan pohon beringin yang ditanam di sejumlah sumber air.

Salah seorang penggagas Komunitas Resan, Edi Padmo beberapa waktu lalu mengatakan, ia dan teman-temannya terus berupaya melakukan konservasi air di kabupaten Gunungkidul. Tindakannya adalah menanam pohon beringin di sumber-sumber yang mulai mengering atau sudah mengering.

“Kami tergerak untuk ikut andil dalam konservasi sumber air, permasalahan yang ada, banyak sumber air tapi kering dan ada yang tidak digunakan oleh masyarakat,”kata Edi Padmo.

Keinginannya cukup sederhana, dengan adanya komunitas yang bergerak untuk menanam resan diharapkan sumber air yang ada dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pemenuhan air bersih dan tidak lagi terjadi kekeringan.

Menurut dia, pohon Beringin atau yang lebih dikenal dengan Resan oleh masyarakat Gunungkidul memiliki fungsi sebagai penjaga mata air. Di Gunungkidul, pohon semacam ini memang masih ada akan tetapi banyak yang ditebang terlebih yang berada di sumber-sumber air.

Sementara itu, Lurah Nglipar, Syamsuri mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh karangtaruna setempat, FDTB, dan Komunitas Resan ini. Menurutnya, sumber air di Nglipar sebetulnya banyak, namun demikian, banyak yang sudah tidak berfungsi lagi karena berbagai hal. Sehingga perlu penanganan dan pelestarian lanjutan.

“Ya sebenarnya banyak tapi ada beberapa yang tidak berfungsi. Tentu hal semacam ini patut diapresiasi dan bisa menjadi pemantik komunitas atau masyarakat umum untuk terlibat dalam konservasi air di Gunungkidul,” ujarnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler