Sosial
Konservasi Air Berbasis Lingkungan dan Harapan Gunungkidul Bebas Kekeringan
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Permasalahan yang dihadapi masyarakat Gunungkidul setiap tahunnya adalah kekeringan. Sumber air yang ada di daerah mengering dan tidak lagi dapat dimanfaatkan saat musim kemarau tiba. Kondisi bencana tahunan ini kemudian menarik kepedulian sejumlah orang yang tergabung di dalam beberapa komunitas untuk berupaya melakukan konservasi air di Gunungkidul. Diyakini dengan konservasi air berbasis lingkungan, maka ke depan akan meminimalisir dampak kekeringan yang terjadi.
Pada musim penghujan seperti sekarang, menjadi sebuah momen tertentu bagi sejumlah komunitas untuk melakukan konservasi air dalam jangka panjang. Yang istimewa, program ini diinisiasi oleh Forum Disabilitas Tanggap Bencana yang kemudian bekerjasama dengan Karang Taruna dan Komunitas Resan Peduli Air.
Belum lama ini, gabungan dari komunitas tersebut melakukan penanaman pohon sebagai upaya gerakan konservasi air. Mereka melakikan penanaman pohon di 5 sumber mata air di Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, dan 4 sumber mata air di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo.
Kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Ketua Forum Disabiliras Tanggap Bencana (FDTB) Gunungkidul, Hardiyo mengatakan, upaya konservasi air ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian alam di Gunungkidul. Di sisi lain, ke depan dengan banyaknya pohon di kawasan sumber air, diharapkan ke depan bisa berdampak besar atas ketersediaan air. Ia sangat berharap, konservasi air berbasis lingkungan ini akan bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan klasik mengenai kekeringan.
“Dengan keterbatasan fisik yang kami alami tidak lantas mengurangi tekad kami untuk berkontribusi dalam upaya konservasi air di Gunungkidul,” ucap Hardiyo, Sabtu (30/01/2021).

Menurutnya, kekeringan dan masalah air yang selama ini terjadi di Gunungkidul adalah termasuk sebuah bencana. Sehingga kemudian harus ada upaya dari berbagai pihak untuk menemukan sebuah solusi dan langkah konkrit dan bersifat jangka panjang untuk jalan keluarnya.
“Permasalahan yang terus terjadi dan perlu segera dilakukan penanganan agar bisa selesai. Kita punya mimpi di masa mendatang, tidak ada permasalahan air yang harus dihadapi masyarakat setiap kali musim kemarau,” paparnya.
Kepedulian FDTB Gunungkidul terkait pelestarian sumber air ini memang patut mendapat apresiasi. Dengan menggunakan motor modifikasi roda tiga yang dibuat khusus untuk kaum difabel, mereka sangat antusias membawa dan terjun langsung melakukan penanaman pohon di sekitar sumber air.
Bukan tanpa alasan forum ini menggandeng Komunitas Resan untuk melakukan aksi penanaman pohon ini. Pasalnya, Komunitas Resan adalah komunitas yang bergerak di konservasi alam. Sudah ratusan pohon beringin yang ditanam di sejumlah sumber air.
Salah seorang penggagas Komunitas Resan, Edi Padmo beberapa waktu lalu mengatakan, ia dan teman-temannya terus berupaya melakukan konservasi air di kabupaten Gunungkidul. Tindakannya adalah menanam pohon beringin di sumber-sumber yang mulai mengering atau sudah mengering.
“Kami tergerak untuk ikut andil dalam konservasi sumber air, permasalahan yang ada, banyak sumber air tapi kering dan ada yang tidak digunakan oleh masyarakat,”kata Edi Padmo.
Keinginannya cukup sederhana, dengan adanya komunitas yang bergerak untuk menanam resan diharapkan sumber air yang ada dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pemenuhan air bersih dan tidak lagi terjadi kekeringan.
Menurut dia, pohon Beringin atau yang lebih dikenal dengan Resan oleh masyarakat Gunungkidul memiliki fungsi sebagai penjaga mata air. Di Gunungkidul, pohon semacam ini memang masih ada akan tetapi banyak yang ditebang terlebih yang berada di sumber-sumber air.
Sementara itu, Lurah Nglipar, Syamsuri mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh karangtaruna setempat, FDTB, dan Komunitas Resan ini. Menurutnya, sumber air di Nglipar sebetulnya banyak, namun demikian, banyak yang sudah tidak berfungsi lagi karena berbagai hal. Sehingga perlu penanganan dan pelestarian lanjutan.
“Ya sebenarnya banyak tapi ada beberapa yang tidak berfungsi. Tentu hal semacam ini patut diapresiasi dan bisa menjadi pemantik komunitas atau masyarakat umum untuk terlibat dalam konservasi air di Gunungkidul,” ujarnya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized2 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized2 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
