fbpx
Connect with us

Sosial

Lebih Dekat Dengan Didi Kempot, Sang Maestro Yang Setia Dampingi Hati-hati Yang Remuk Karena Cinta

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Memulai karir sebagai pengamen jalanan, nama Didi Kempot kini semakin digandrungi oleh semua lapisan masyarakat. Ratusan lagu yang ia ciptakan hampir seluruhnya bertemakan cinta dan patah hati itu, sangat mengena di hati penggemarnya yang rata-rata pernah mengalami getirnya putus cinta. Bahkan saat ini, kalangan penggemar Didi Kempot ngetrend dengan sebutan sobat ambyar. Bahkan seiring perkembangan zaman, penggemar Didi Kempot kini tak hanya berasal dari kalangan jawa penggemar musik campursari saja, melainkan sudah merambah ke kalangan millenial di perkotaan. Bisa dibilang saat ini adalah era paling emas dalam karir penyanyi asal Jawa Tengah ini.

Ditemui sebelum manggung di lapangan Desa Ngawu, Kecamatan Playen pada Senin (30/09/2019) kemarin, Didi Kempot mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan mimpi dirinya sebagai seorang penyanyi campur sari. Dirinya tak menyangka, lagu dengan lirik yang menggunakan bahasa jawa itu mampu digandrungi semua kalangan, termasuk para kaum milenial. Sebuah hal yang tentunya sangat mengejutkan mengingat kalangan millenial ini, selera musiknya biasanya didominasi musik barat.

Pria dengan nama asli Didi Prasetyo ini menjelaskan, ada beberapa lagu yang disebut banyak orang membuat terkesan. Seperti misalnya lagu berjudul Cidro serta Kalung Emas yang saat ini ramai digandrungi. Lirik lagu ini memang memiliki makna yang cukup dalam. Kedua lagu itu menggambarkan sebuah suasana hati yang sedang hancur karena cinta.

“Tapi patah hati ini belum tentu kandas, ada beberapa faktor seperti memang belom jodoh, ekonomi dan yang lainnya,” kata Didi.

Menyoal ketenaran dirinya saat ini, Didi Kempot tidak menyangka sebelumnya. Belasan tahun silam, Didi Kempot memang sempat ngetop melalui berbagai hits seperti Layang Kangen, Bapak dan Stasiun Balapan. Pada masanya, lagu-lagu itu memang sempat membuat dirinya melejit di dunia hiburan, khususnya di kalangan pecinta lagu jawa. Lagu-lagu ini kemudian menurutnya menjadi lagu yang sangat berkesan bagi Didi Kempot lantaran dianggap sebagai pondasi dalam berkarya.

Berita Lainnya  Warga Sering Temukan Kondom Bekas, Tenda Camping Pantai Berkembang Jadi Wisata Berbasis Syahwat?

“Sekarang ini kan diuji, mana karyamu. Sekarang ini saya dapat terus bertahan karena konsisten, tidak berubah-ubah. Tetap saja, misal kalau tidak laku ya sabar terus hingga seperti saat ini,” ucap dia.

Diakuinya kepopulerannya yang sempat ia rasakan pada masa lalu memang tidak seperti dengan kepopulerannya saat ini. Menurut Didi Kempot, penggemarnya saat ini jauh lebih banyak karena lagu-lagunya bisa menyasar hampir semua kalangan masyarakat.

“Saya sekarang ini bahkan sering diundang ke kampus-kampus. Artinya anak muda mulai menyukai lagu saya. Mereka tidak malu lagi menyanyikan lagu jawa. Yang seperti ini sebenarnya merupakan mimpi saya dulu, bagaimana lagu jawa bisa diterima dengan baik,” tutur Didi.

Dengan demikian, dirinya juga mengucapkan terimakasih kepada kaum milenial saat ini yang membantu mempromosikan dirinya melalui media sosial. Diakuinya, pada tahun 2019 ini merupakan tahun berkah bagi dirinya atas banyaknya job manggung di sejumlah wilayah.

“Sebulan ini sudah full. Semua job saya terima jadi saya setiap hari nyanyi pindah-pindah tempat,” imbuhnya.

Didi menjelaskan, dirinya memulai karir dari jalanan atau pengamen, namun semangatnya untuk terus berkarya membuatnya mampu menciptakan sekitar 700 lagu selama karirnya ini. Dalam waktu dekat dirinya kembali akan meluncurkan 7 singel lagu pada akhir tahun 2019 ini.

Berita Lainnya  Berantas Klithih, Polres Gunungkidul Gelar Operasi Serentak

“Awal tahun baru, temanya masih tentang cinta dan patah hati, ditunggu saja,” papar dia.

Disinggung mengenai lagu dengan tema wisata untuk Gunungkidul, Didi mengaku lagu Banyu Langit sudah cukup. Lagu tersebut sengaja ia ciptakan untuk mendukung promosi pariwisata karena menurutnya dengan naiknya pariwisata maka akan berdampak pada rakyat kecil di sekelilingnya.

“Banyak lagu wisata seperti Pantai Klayar, Parangtritis. Saat ini saya dengar nglanggeran juga sudah ramai, saya ikut seneng karena masyarakat di sekitarnya jadi punya penghasilan,” kata dia.

Didi juga menjelaskan, ia masih memiliki cita-cita yang belum tercapai yakni menciptakan lagu bertema nasionalis. Seniornya, Gombloh menjadi inspirasi lantaran Gombloh juga berawal dari musisi jalanan.

“Pengen buat lagu nasional yang nantinya bisa diputar dan dinyanyikan saat acara nasional, seperti gebyar-gebyar,” jelasnya.

Didi Kempot Tak Mempermasalahkan Lagunya Diplesetkan untuk Aksi Demo

Dalam aksi demo yang digelar mahasiswa beberapa waktu terakhir ini terdapat poster yang memplesetkan lirik lagu miliknya. Contohnya salah satu bait lagu suket teki. Dalam lirik itu sebenarnya nandur pari tukul suket teki diplesetkan menjadi nandur pari tumbuhkan oligarki.

“Tidak masalah, itu plesetan mahasiswa. Ndak masalah buat saya. Enjoy aja,” kata dia.

Pun demikian dengan mulai banyaknya senggakan cendol dawet atau yang lainnya. Menurut Didi, senggakan dalam lagu jawa sudah ada sejak dulu dan ia sendiripun tidak tahu awal mulanya.

“Kan banyak juga yang hak e hak e, slololo, bukak sitik jos. Cendol dawet tidak masalah itu penonton yang menciptakan,” pungkasnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler