fbpx
Connect with us

Sosial

Menelisik Rumah Persinggahan Jendral Sudirman di Paliyan Saat Perang Gerilya

Published

on

Paliyan,(pidjar.com)–Selama gerilya, Panglima Jendral Sudirman singgah di beberapa tempat di Gunungkidul. Bahkan diperoleh informasi bahwa dirinya sempat singgah di salah satu rumah di Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Karangduwet, Kapanewon Playen. Kini rumah itu dihuni oleh pasangan Siswo Suparjiyo (90) dan Samiyem (70).

Saat pidjar.com menemui pasangan ini pada Senin (12/10/2020) siang, Samiyem yang pada saat itu masih usia 10 tahun mengulas, sore itu pada pertengahan tahun 1948, ia tengah bermain di belakang rumah. Ia bersama tiga kakaknya kaget. Sekitar pukul 16.00 WIB, terdapat laki-laki berpakaian hitam ditandu oleh prajurit berpakaian gelap.

Samiyem kaget hingga memegangi kain jarit yang dijadikan rok ibunya. Sambil meringik Samiyem merasa takut dengan datangnya pasukan itu.

“Kulo ngrengik, mbok mbok kui sopo mbok aku wedi (Ibu, itu siapa saya takut),” papar Samiyem sembari mengulas masa kecilnya.

Namun saat itu, ibunya menentramkan hati Samiyem kecil. Ibunya mengatakan, itu adalah Jendral Sudirman yang tengah ditandu pasukannya. Saat rombongan Jendral Sudirman datang, orangtua Samiyem kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan air minum dan juga rebusan telur.

“Ajudannya datang ke dapur, Ibu dimintai tolong untuk merebuskan telur untuk dimakan Jendral,” ulas Samiyem.

Samiyem ingat betul, Panglima Perang Griliya tersebut dibiarkan berbaring di dipan ruang tengah rumahnya. Di dekat dipan terdapat meja kecil yang digunakan untuk meletakkan telur rebus dan juga air.

Jendral Sudirman kala itu bermalam di rumahnya. Hingga pada pukul 04.00 WIB keesokan harinya, Sang Jendral kemudian kembali ditandu oleh para pasukannya untuk meneruskan perang.

“Seingat saya pasukannya yang ikut menunggu Jendral di rumah ini hanya beberapa saja, membawa pasukan dan berjaga-jaga,” jelas dia.

Beberapa hari setelah digunakan untuk singgah Jendral Sudirman, dari udara wilayah Padukuhan Karangtengah sempat dihujani peluru oleh Pasukan Belanda. Warga di padukuhan ini banyak yang mengungsi di wilayah pegunungan sisi selatan.

“Tapi saya dan ibu tidak mengungsi, pas ada serangan saya diajak ibu ngumpat di dekat tanaman kara, saya teriak ibu itu bu, saya disuruh diam,” urai Samiyem.

Ia masih ingat betul, hanya rumahnya yang tidak tertembus peluru. Hanya satu keping peluru seukuran baterai jatuh tepat di ceting (tempat nasi) dapurnya.

“Ukarannya kecil, saya kira ulat. Tapi ibu bilang saya tidak boleh menyentuhnya,” ujar dia.

Sementara Siswo yang saat itu masih kecil juga masih ingat betul. Rumah Siswo dan Samiyem memang tidak jauh. Sore itu dia tengah mencari pakan ternak. Namun iring-iringan pasukan menggunakan seragam menuju rumah Samiyem. Ia lantas berlari ke rumah Samiyem melihat iring-iringan tersebut.

“Sebelum Jendral kesini, saya dikasih tau sama orang sakti yang berbicara dengan orangtua saya, kalau ada orang hebat akan datang ke desa Karangduwet ini, saya sambung-sambungkan kok benar,” ulas Siswo.

Kakek dari empat orang cucu ini kemudian menikah dengan Samiyem. Hingga tahun 1955, anak dari Jendral Sudirman datang dan membangunkan monumen di depan ruamhnya. Memang monumen tersebut berbentuk wajah Jendral dengan tandunya.

“Kemudian dipan dan bangku dibawa ke museum,” kata Siswo.

Ia bersyukur, rumah yang kini menjadi bangunan Cagar Budaya di Gunungkidul ini pernah disinggahi orang besar. Bahkan ia sendiri merasakan, keberkahan dari pasinggahan Jendral Sudirman ia rasakan bingga kini.

“Saya merasa sepanjang hidup tidak pernah kekurangan, punya anak satu cucu empat Alhamdulillah sudah mentas semua,” ujarnya sambil tersenyum.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler