fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Modernisasi Alsintan dan Upaya Bebaskan Petani Dari Permainan Harga

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Potensi sektor pertanian Gunungkidul yang cukup besar terus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dengan segala keterbatasan yang ada baik secara teknologi, kondisi geografis maupun sumber daya alam, sektor ini justru dapat terus bertahan dan bahkan pertumbuhannya terhitung pesat. Di tengah keruntuhan sektor lain, pertanian bahkan menjadi salah satu sektor yang seakan tak terdampak oleh pandemi.

Sejumlah terobosan terus dilakukan agar pertanian semakin maju. Dalam hal ini yang tengah digenjot pemerintah adalah modernisasi pertanian baik dalam peralatan maupun teknologi pertanian. Diharapkan nantinya, produksi hasil pertanian Gunungkidul bisa ditingkatkan secara maksimal demi kesejahteraan para petani.

Pada Rabu (18/08/2021), Pemkab Gunungkidul secara resmi menyerahkan bantuan ratusan alat pertanian kepada puluhan kelompok tani yang tersebar di seluruh Gunungkidul. Alat pertanian yang diberikan tersebut berupa 154 traktor roda dua, 83 cultivator dan juga 13 pompa air. Adapun anggaran bantuan ini berasal dari dana aspirasi DPRD Gunungkidul dan sebagian kecil lainnya dari APBN.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menuturkan, pada Rabu kemarin, pihaknya telah melakukan penyerahan secara simbolis sebanyak 11 traktor roda dua maupun peralatan lainnya kepada kelompok tani. Penyerahan bantuan sendiri memang dilaksanakan secara bertahap untuk mencegah kerumunan yang mungkin terjadi saat penyerahan secara serentak.

Ia mengatakan, dengan bantuan alsintan petani Gunungkidul bisa lebih mudah dan maksimal dalam menggarap lahan pertanian. Dengan penggunaan peralatan yang modern, pengeluaran pengolahan lahan hingga waktu bisa ditekan seminimal mungkin. Kondisi di lapangan, sekarang ini masih banyak petani yang melakukan pengolahan lahan secara manual dan tradisional.

“Dengan diberikannya alsintan atau alat pertanian berupa traktor ini dapat memudahkan masyarakat dalam menggeluti sektor pertanian,” kata Endah, Rabu (18/08/2021) sore.

Ditegaskannya, modernisasi sektor pertanian sendiri merupakan salah satu prioritasnya. Untuk tahap awal ini lantaran kendala dalam hal keterbatasan anggaran, pihaknya memang masih fokus pada sektor produksi. Diantaranya adalah peningkatan sumber daya manusia, penerapan teknologi pertanian, optimalisasi pengairan hingga pengadaan alat pertanian yang modern.

“Seiring sejalan dengan tahapan ini, kita harapkan nantinya juga kaum muda juga tertarik untuk terjun ke sektor pertanian,” bebernya.

Politisi PDIP ini mengaku, pihaknya saat ini tengah melakukan kajian berkaitan dengan program lanjutan dari program besar modernisasi pertanian. Salah satunya yang terus dibahas adalah perumusan kebijakan pemerintah dalam hal pasca produksi para petani. Ia menyebut, pemerintah harus lebih optimal dalam melindungi para petani, terutama saat pasca panen. Seringkali di lapangan, pihaknya mendapatkan keluhan dari petani yang mengalami jatuhnya harga di pasaran.

“Para petani ini harus menghadapi kenyataan beli benih dan pupuk mahal, tapi saat panen harganya murah. Ini yang membuat petani-petani kita tidak sejahtera,” tandas dia.

“Pada tingkatan pasca panen menjadi sangat penting diperhatikan agar pendapatan petani sebanding dengan jerih payah yang dilakukan. Mereka adalah pahlawan pangan yang harus mendapat apresiasi serta imbal balik yang sepadan,” lanjut Endah.

Salah satu bentuk keseriusannya adalah dengan merekrut staf ahli yang khusus menangani bidang pertanian. Nantinya, pihaknya akan berusaha membuat terobosan-terobosan tak hanya di sisi peningkatan produksi saja, akan tetapi juga jika memungkinkan, membantu memasarkan produk-produk pertanian Gunungkidul.

Ia mencontohkan inovasi dan jaringan sangat dibutuhkan dalam memperhatikan sektor pertanian pasca panen. Misalnya saja, pemerintah memfasilitasi petani yang akan menjual hasil panen mereka dikemas dan dipasarkan di lokal atau bahkan luar daerah. Sehingga pendapatan mereka akan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penjualan secara konvensional yang selama ini dilakukan.

“Hal ini memang sangat tidak mudah, tapi memang demi kesejahteraan petani, diperlukan terobosan-terobosan besar. Ada beberapa skema yang terus digodog. Seperti misalnya bekerja sama dengan prusahaan swasta atau membuat BUMD yang khusus membeli hasil pertanian Gunungkidul. Tapi tentunya harus disesuaikan dengan keuangan daerah maupun lainnya. Untuk itulah kita terus berkoordinasi dengan para ahli maupun pemerintah pusat,” urainya.

Sebagaimana diketahui, lahan pertanian di Gunungkidul sendiri sangat luas jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota di DIY. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar. Hasil padi sendiri juga sangat melimpah setiap tahunnya. Data dari Dinas Pertanian dan Pangan, pada kuartal pertama tahun 2021 lahan pertanian di Gunungkidul bisa panen 240.000 ton sampai dengan 250.000 ton Gabah Kering Giling (GKG), kemudian pada kuartal selanjutnya hasil panen akan menjadi tambahan kuartal pertama. Di mana total dalam satu tahun produksi bisa diatas 290.000 ton GKG.

“Mimpi kita adalah Gunungkidul bisa menjadi lumbung padi DIY dengan kualitas padi yang baik,” kata dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler