fbpx
Connect with us

Sosial

Mungkinkah Puncak 4G Kembali ke Masa Kejayaannya?

Diterbitkan

pada tanggal

Gedangsari,(pidjar.com)–Beberapa tahun silam, obyek wisata Puncak Gunung Gentong Gedangsari (4G) mencapai puncak kejayaannya. Obyek wisata ini cukup populer dan mendapatkan banyak kunjungan dari wisatawan. Tak hanya wisatawan dari dalam Gunungkidul saja, namun pada masa jayanya, puncak 4G juga banyak dikunjungi oleh wisatawan dari luar. Foto-foto keindahan obyek wisata di utara Gunungkidul ini wira-wiri di sejumlah platform media sosial. Tak heran bahwa pada masa lalu, puncak 4G sempat digadang-gadang menjadi tonggak kebangkitan pariwisata di kawasan utara Gunungkidul.

Namun, harapan besar tersebut berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Kawasan wisata 4G kini tidak terawat. Macetnya pengelolaan di kawasan tersebut menjadi penyebab utama tidak terawatnya sejumlah fasilitas di obyek wisata ini. Tak heran apabila saat ini, puncak 4G seakan mati suri.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Puncak 4G, Subardi mengaku dipilih sebagai Ketua Pokdarwis sejak Agustus 2019 silam. Namun, kemudian yang terjadi, statusnya tersebut seolah tak mendapatkan pengakuan dari Pemdes Ngalang. Dia sama sekali tak kunjung bisa menjalankan tugas dan kewajiban untuk merawat obyek wisata yang ia ampu.

“Di atas kondisinya memang tidak terawat, sampah berserakan dan sejumlah spot foto dalam kondisi rusak,” ucap Subardi kepada pidjar.com, Senin (17/02/2020).

Hal semacam ini sebenarnya sangat ia sayangkan. Dengan tidak adanya pengakuan dari pemerintah desa setempat, Pokdarwis pada akhirnya tidak bisa bekerja secara maksimal. Perlahan dan seiring berjalannya waktu, kisruh pada pengelolaan 4G ini pada akhirnya membuat pamor puncak 4G terus meluntur. Jangankan untuk pengembangan, sekedar untuk merawat fasilitas yang ada saja saat ini tak dilakukan. Sehingga, dengan kondisi yang buruk ini, tingkat kunjungan menjadi menurun drastis.

Berita Lainnya  Penggunaan Dana Desa Tak Perlu Ribet, Yang Penting Transparan dan Akuntabel

“Di sisi lain prihatin namun kami belum berani mengerahkan anggota karena belum dapat pengukuhan dan berbadan hukum tetap,” imbuh dia.

Banyak pertimbangan yang menjadi alasan kenapa pihaknya belum juga mengambil alih puncak yang sempat hits di sekitar tahun 2016 tersebut. Para anggota Pokdarwis yang selama ini menjadi tulang punggung pembangunan dan pengembangan kawasan wisata sempat dikecewakan dengan kebijakan dari pemerintah desa yang seakan berusaha mengambil alih obyek wisata ini. Konflik antara warga pengelola dan pemerintah desa inilah yang menjadi asal muasal terbengkelainya Puncak 4G.

“Karena sekarang regulasi kan bisa berubah-ubah saya tidak mau mengecewakan masyarakat yg kedua kalinya,” jelas Subardi.

Ia berharap, Pokdarwis yang ada bisa segera dikukuhkan atau mengantongi badan hukum. Sehingga nantinya puncak 4G bisa kembali eksis sebagai lokasi wisata. Ia tak memungkiri bahwa dengan ramainya Puncak 4G pada masa lalu, sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat setempat. Sehingga, kebangkitan kembali obyek wisata ini sangat diharapkan.

Berita Lainnya  Dibangun Megah Dengan Koleksi Batu Geopark Lengkap, Komplek Taman Batu Ngingrong Masih Sepi Pengunjung

“Kita ingin ada pengakuan dan regulasi yang jelas untuk kami, jangan sampai cuma dimanfaatkan saja,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Harry Sukmono memaparkan, terkait dengan kisruh pengelolaan di Puncak 4G ini, pihaknya masih melakukan pendampingan. Pendampingan ini diharapkan akan membuat obyek wisata ini bisa segera kembali bangkit.

“Tahun ini juga kami akan melakukan penambahan fasilitas di lokasi tersebut dengan anggaran Rp. 390 juta,” pungkas Harry.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler