Sosial
Nekeran, Permainan Tradisional Populer Yang Kini Hampir Punah Digerus Zaman


Wonosari,(pidjar.com)–Pada era modern ini, banyak anak-anak yang telah kurang mengenal permainan tradisional. Kebanyakan dari mereka disibukkan oleh permainan game online dari gadget. Sebuah hal yang patut disayangkan mengingat selain sangat seru dan asyik dimainkan, permainan tradisional juga mengandung banyak filosofi kehidupan. Permainan tradisional memiliki berbagai manfaat bagi pertumbuhan anak dibandingkan bermain gadget. Diantaranya adalah, meningkatkan intuisi, melatih kreativitas anak, stimulus bagi motorik halus, menghindarkan anak dari stres maupun membuat anak-anak juga bisa lebih mencintai lingkungan. Bisa dibilang dengan ngetrendnya game online ini di kalangan anak-anak, permainan-permainan tradisional di ambang kepunahan.
Kondisi tersebut tentu bertolak belakang dengan kondisi lalu, terutama anak-anak yang lahir sebelum tahun 1990 atau 2000. Di mana dari berbagai macam permainan tradisional yang ada ini, menjadi satu-satunya hiburan yang bisa dimainkan oleh anak-anak. Mulai dari permainan ular tangga, bola bekel, kelereng, hingga petak umpet. Yang menjadi ciri khas dari permainan anak adalah, harus dimainkan dengan cara berinteraksi dengan anak lain. Sehingga anak pun bisa belajar berinteraksi sosial.
Salah satu jenis permainan tradisional yang bisa menjadi kenangan masa kecil dan hampir punah tergantikan oleh gadget adalah permainan kelereng. Jenis permainan ini memang lantaran karakteristiknya, mayoritas dimainkan oleh anak laki-laki. Apabila pada masa lalu di sejumlah tanah lapang banyak ditemukan anak-anak bermain kelereng, saat ini sangat jarang kita temui. Pun demikian dengan peralatannya. Saat ini, tak banyak toko yang menjual kelereng ini.
Meski sulit untuk ditemukan, namun keberadaan kelereng di Gunungkidul saat ini sendiri juga masih ada. Di Gunungkidul, sejumlah toko mainan masih menjual kelereng atau biasa disebut neker tersebut.
“Di tempat kami masih menjual kelereng sampai saat ini” ucap salah satu karyawan EM Toys, Orisa Sativa (21), Senin (10/01/2022).


Namun begitu ia mengakui, peminat mainan kelereng sangat sedikit. Sangat jarang ada anak yang membeli kelereng di tokonya. Dia menyebutkan turunnya minat anak dalam permainan tradisional karena kemajuan teknologi yang lebih canggih saat ini.
“Ya sejak anak-anak sudah dikenalkan gadget sejak masih kecil, di saat itulah kelereng mulai jarang peminatnya,” ucapnya.
Dirinya mengungkapkan, dalam seminggu kelereng yang dijual di tokonya hanya bisa laku 2 bungkus. Di mana satu bungkus berisi 5 kelereng dengan harga Rp 1.000.
“Yang beli juga tidak menentu, kadang ada kadang enggak” imbuhnya.
Orisa menambahkan bahwa kelereng sempat naik kembali kala permainan pop it tengah nge-hits di kalangan anak-anak. Namun kini mulai kembali redup peminatnya.
“Sempat naik waktu pertengahan tahun kemaren saat permainan pop it muncul, karena kelereng kan jadi media permainan pop it tersebut. Tapi sekarang mulai redup lagi,” jelas dia.
Sementara itu salah satu anak-anak yang pidjar.com temui, Agata Evana Angelus (7) dan adiknya Agata Ivana Angelus (7) mengatakan bahwa mereka tidak pernah bermain kelereng. Adapun mereka tidak mengetahui permainan nekeran itu seperti apa. Pun demikian ketika ditanya perihal istilah-istilah dalam permainan kelereng seperti tecuk, sladhang, hingga ret. Mereka sama sekali tidak mengetahui.
“Udah pernah lihat kelereng di HP tapi belum pernah beli, belum pernah main juga,” ujar anak kembar tersebut saat ditemui.
Mereka mengungkapkan bahwa mereka lebih tertarik dengan menonton televisi dibanding bermain mainan tradisional sepeti kelereng.
“Lebih suka nonton tv, kadang juga main hp” ujar mereka.
Sang ibu sendiri, Agustina Ari Kristianti (29) memaparkan, sebenarnya sebagai orang tua, ia telah berusaha untuk mengenalkan mainan-mainan tradisional kepada anaknya. Namun dengan perkembangan teknologi yang makin canggih apalagi sarana gadget yang lebih menarik, membuat anak-anaknya lebih memilih bermain gedget dan menonton televisi.
“Sebenernya juga sudah dikenalkan sama mainan tradisional seperti dakon. Nanti mainan sebentar sudah cepat bosan. Mungkin bagi mereka itu kurang menarik lagi,” ucap Kristin.
Sebagai orang tua, ia mengungkapkan bahwa dirinya juga membatasi anaknya dalam bermain gadget dan menonton televisi. Adapun hal itu ia lakukan supaya Sang anak tidak kecanduan terhadap gadget. Seperti halnya yang ia ungkapkan, dirinya tetap mengajarkan anaknya untuk bermain mainan yang ada di rumah seperti mainan tradisional dakon dan petak umpet untuk mengalihkan anak-anaknya dari bermain gadget.
“Pastinya juga mengajarkan anak mainan tradisional, tapi gimana lagi anak lebih tertarik ke gadget sama tv, sebagai orang tua ya memberikan pengertian pada anak saja,” tutupnya. (Wulan)

-
Peristiwa3 minggu yang lalu
Gelaran Dangdut Berujung Kisruh, 1 Pemuda Tewas Tertembak Senjata Laras Panjang
-
Kriminal5 hari yang lalu
Berawal Lempar Kursi ke Pengendara Motor, Pemuda Tenggak Miras Dimassa
-
Hukum3 minggu yang lalu
Kronologi Tertembaknya Aldi, Warga Sempat Serbu Polisi Pelaku
-
Sosial2 minggu yang lalu
Traktor Bantuan Pemerintah Untuk Petani Gunungkidul
-
Politik2 minggu yang lalu
Politisi Gaek Gunungkidul Banyak Lari ke Tingkat Provinsi, Bakal Caleg Daerah Diisi Wajah Baru
-
Peristiwa1 minggu yang lalu
Kebakaran Hebat di Girisekar, Rumah Limasan Beserta Isinya Ludes Terbakar
-
Politik3 minggu yang lalu
Support Penuh Yeny Wahid Untuk PSI Gunungkidul
-
Kriminal1 minggu yang lalu
Tukang Kibul Jadi Buron, Korbannya Rugi Rp 250 Juta
-
Hukum3 minggu yang lalu
Dua Pembunuh Perempuan Hamil Diganjar Hukuman Mati
-
Pemerintahan2 minggu yang lalu
Taman Parkir Segera Direhab dengan Rp 2,3 Miliar
-
Peristiwa3 minggu yang lalu
Terjatuh di Lantai 2 Gedung DPRD Gunungkidul Baru, Pekerja Meninggal Dunia
-
Hukum3 minggu yang lalu
Kapolsek Girisubo dan 5 Anggota Turut Diperiksa, Briptu MK Terancam Pecat